Filter Story Instagram Diam-diam Ngasih Tahu Kita Kalau Cantik itu yang Tirus & Bulu Matanya Lentik

Filter Instagram dan standar kecantikan

Ada banyak banget filter yang bisa kita pakai di story Instagram, mulai dari yang ngasih efek syahdu di kamera, yang lawak, sampai yang bikin kita berubah jadi cantik. Sejujurnya, yang terakhir inilah yang bikin saya resah akhir-akhir ini. Kayaknya karena keseringan liat story selebgram yang hampir selalu pakai filter bulu mata palsu dan pipi super tirus deh. Saya jadi bertanya-tanya, apa iya dia nggak pede sama wajah aslinya? Padahal kalau dilihat dari foto-foto, muka aslinya aja udah cuantik banget lo, beneran nggak bohong!

Advertisement

Nggak cuma si selebgram itu aja sih yang bikin saya kepikiran, banyak juga teman saya yang pakai filter palsu buat selfie dan memajangnya jadi profile picture. Ada yang pakai filter freckles ala-ala bule, bunga-bunga di pipi, eyeshadow virtual, atau lipstik ala-ala. Selain bikin resah, ini juga bikin saya sedih karena saya jadi jarang lihat muka mereka yang asli. Bukannya saya nggak pernah pakai filter begituan ya. Namanya tren, selalu ada sisi ‘seru’nya dan menarik untuk diikuti. Tapi, kok saya justru khawatir filter-filter itu diam-diam bakal mengubah persepsi masyarakat tentang definisi ‘cantik’ itu sendiri ya


Kalau ditarik ke belakang, perjalanan manusia menemukan definisi cantik sesungguhnya itu sudah berlangsung puluhan tahun

Beauty standards via myalbinolady.wordpress.com

Sebenarnya, definisi cantik itu selalu berubah-ubah. Dulu, Marylin Monroe dengan rambut blondenya, sempat dijadikan ikon wanita cantik dunia. Setelahnya ada Audrey Hepburn dengan rambut gelapnya, lalu Madonna, Kate Moss, sampai Angelina Jolie. Tapi kalau disimpulkan, hampir semua ikon cewek cantik itu punya kulit cerah dan badannya ramping. Persepsi ini menjadi semakin kuat karena dibantu dengan framing yang dilakukan media-media mainstream. Cewek-cewek yang ditampilkan di layar kaca adalah mereka yang memenuhi definisi cantik itu. Brand-brand kecantikan berlomba-lomba menjual produk yang embel-embelnya bisa bikin kulit putih dan mulus. Otomatis, cewek-cewek yang nggak memenuhi standar cantik menurut masyarakat itu jadi minder, nggak pede, sampai-sampai rela melakukan segala cara biar terlihat seperti yang dipersepsikan orang.

Fakta di atas mungkin masih bisa dirasakan sampai sekarang. Tapi sudah lumayan berkurang seiring banyaknya kampanye self love yang mengajak cewek mencintai diri  sendiri apa adanya

Kampanye self love via stylishcurves.com

Beberapa tahun ke belakang ini, persepsi cantik bisa sedikit bergeser dan jadi lebih luas berkat kampanye-kampanye yang menggaungkan self love atau mencintai diri sendiri. Pesan yang pengin disampaikan adalah: semua cewek itu cantik, nggak peduli gimana fisiknya, mau berkulit putih, berkulit gelap, kurus, gemuk, langsing, rambut lurus, bergelombang, kribo, tinggi, pendek, dan lain-lain. Kampanye itu ingin menghapuskan standar kecantikan lawas dengan menyatakan bahwa semua cewek itu berharga.

Advertisement

Saya sendiri seneng banget kampanye semacam itu disambut antusias oleh banyak orang di media sosial. Biasanya kampanye self love itu dikaitkan sama Hari Perempuan Internasional. Setiap perayaan itu datang, cewek-cewek berlomba-lomba mengunggah foto diri mereka tanpa make up, filter, atau “topeng” lainnya, lengkap dengan caption memotivasi. Iklan produk kecantikan mulai banyak yang melibatkan model berkulit gelap nan eksotis yang nggak kalah memesona sama yang kulitnya lebih cerah.

Tapi, semua usaha di atas rasanya langsung bubar jalan ketika semakin ke sini, semakin banyak filter story Instagram yang menawarkan make up semu. Tanpa kita sadari, standar kecantikan kita pun bisa aja berubah lagi

Filter makeup via www.bbc.co.uk

Jujur, saya khawatir banget sama tren filter poles wajah di Instagram ini. Takutnya, semua usaha bertahun-tahun buat mengubah mindset cantik lebih general itu jadi sia-sia. Kampanye-kampanye self love yang udah sering digalakkan jadi tak ubahnya dongeng di masa depan. Cewek-cewek yang tadinya pede dengan fisiknya, jadi ragu lagi. Direktur Ethnic Skin Center di BMC dan Boston University School of Medicine, Neelam Vashi, menyebut tren semacam ini berhasil mendorong orang operasi plastik hanya demi terlihat seperti di filter medsos.

Advertisement

Lebih jauh lagi, tren filter-filteran ini bisa “mengganggu” orang dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) atau gangguan dismorfik tubuh. BDD adalah gangguan mental yang ditandai dengan perasaan cemas berlebih karena kekurangan penampilan fisiknya. BDD bisa dipicu salah satunya dengan adanya tren di atas. Orang dengan BDD bakal semakin mungkin merasa “Duh, kok aku nggak bisa kayak dia”, “Wah, aku harus pake filter kayak gini nih biar hidungku kelihatan lebih kecil dan bulu mataku lentik.”

Alih-alih jadi pede, mirisnya mereka justru makin nggak bisa hidup tanpa “topeng”. So sad yaaa 🙁 kira-kira ke depannya Instagram (dan platform-platform lain) bakal mengubah kebijakannya terkait hal ini nggak ya??

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE