Potret Pilu Gajah Kurus di Sri Lanka, Harus Bekerja Siang Malam & Jalan Jauh dengan Kaki Dirantai

Gajah kurus Sri Lanka

Selama ini kita mungkin cuma peduli dengan bentuk penyiksaan hewan yang memang tampak mata, seperti anak kucing yang dimakan hidup-hidup tempo hari, atau rusa yang dicekoki minuman keras oleh pengunjung kebun binatang. Sedangkan, hewan-hewan yang dipelihara untuk dijadikan objek sirkus, seringkali luput dari perhatian.

Advertisement

Padahal hewan-hewan sirkus atau festival ini nggak kalah tersiksanya sama binatang yang jelas-jelas mendapat penyiksaan. Seperti seekor gajah di Sri Lanka bernama Tikiri, di usianya yang sudah mencapai 70 tahun dengan fisik kurus kering ini, ia masih dipaksa untuk bekerja hingga larut malam di Festival Parahera di Sri Langka tahun ini. Selama 10 hari berturut-turut, Tikiri harus ikut parade dengan suara kembang api dan asap dimana-mana. Tak terbayangkan, bagaimana penderitaan yang dialami Tikiri dan 59 temannya yang lain.

1. Tikiri banyak jadi perbincangan para aktivis hewan setelah foto-fotonya dengan tubuh kurus kering tersebar di media sosial. Salah satu aktivis yang mengungkapkan penderitaan Tikiri adalah Lek Chailert, pendiri yayasan penyelamatan gajah, Save Elephant Foundation

Tikiri, si gajah malah yang tubuhnya tinggal tulang via www.news.com.au

2. Gajah berusia 70 tahun itu dipaksa bekerja dalam Festival Keagamaan Parahera di Sri Lanka yang diadakan setiap tahun. Selama 10 hari berturut-turut hingga larut malam, Tikiri harus berjalan berkilo-kilo meter, dengan kaki di rantai, hanya demi menghibur para penonton

Ia harus jalan berkilo-kilo dengan kaki dirantai via www.onlanka.com

Advertisement

3. Tubuhnya yang kurus kering nggak terlihat karena selama parade, ia memang memakai kostum warna-warni yang menutup tubuhnya, membuat penonton abai dengan kondisi Tikiri yang sebenarnya

Tubuh kurusnya tertutup jubah via www.bbc.com

4. Chailert mempertanyakan, kenapa sebuah festival keagamaan Buddha, yang identik dengan sesuatu yang suci, malah justru membuat makhluk lain menderita. Menurutnya, gajah setua Tikiri sudah harus istirahat penuh selama sisa hidupnya, bukan malah bekerja keras hingga larut malam

Ia harusnya istirahat, bukan bekerja via kumparan.com

5. Menanggapi kondisi memilukan ini, para pengguna Facebook merintis petisi untuk membantu Tikiri keluar dari lubang penderitaannya. Salah seorang pengguna, bahkan berniat untuk mengirim surat ke pemerintah Sri Lanka

Dibuatkan petisi via kumparan.com

Advertisement

6. Sacred Tooth Relic, kuil Buddha yang menyelenggarakan Festival Parahera, menanggapi isu ini dengan berdalih kalau mereka selalu memperhatikan setiap binatang yang mereka libatkan. Tikiri sendiri katanya sudah diperiksa oleh dokter hewan, seperti dikutip Harian Metro, London dalam BBC

Kuil Sacred Tooth Relic via travelproject.com.au

7. Di Asia sendiri, ada sekitar 3.000 gajah yang digunakan untuk festival, dengan 77% di antaranya diperlakukan secara tidak wajar, menurut data dari World Animal Protection

Gajah di festival via www.indianeagle.com

8. Sirkus, festival, atau parade yang melibatkan hewan memang harus segera dihentikan. Ini karena lingkungan dalam pertunjukkan apapun itu jelas tidak merepresentasikan iklim habitat asli mereka

Sirkus lumba-lumba = eksploitasi hewan via dohanews.co

Sekalipun dibuat semirip mungkin dengan alam, seperti lumba-lumba atau biota laut lain yang dibuatkan akuarium super besar, nyatanya masih tidak cukup luas buat mereka hidup. Akuarium terbesar di dunia saat ini aja masih belum bisa menandingi habitat asli para biota laut yang “terperangkap” di sana. Karena lumba-lumba di laut aja, biasa berenang 40-100 mil per hari. Akuarium buatan manusia mana yang bisa memenuhi kebutuhan hidup tersebut coba?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE