Baru-baru ini masyarakat ramai membicarakan aplikasi berkirim pesan WhatsApp. Bukan karena perubahan atau sempat lumpuhnya layanan ini pada 3 November lalu, namun karena konten berbau pornografi mudah diakses di sini. Ternyata kekhawatiran masyarakat adalah seputar penggunaannya di tangan anak di bawah umur. Para orang tua khawatir jika anaknya akan mudah mengakses konten yang tidak seharusnya.

“Moms hati-hati ya, sekarang video porno bisa dicari melalui WhatsApp”

Advertisement

Berawal dari tersebarnya pesan berantai atau broadcast yang berisikan pesan untuk berhati-hati karena ada konten pornografi di WhatsApp, masyarakat pun heboh dan ramai-ramai memberi tanggapan. Beberapa pengguna sempat berkomentar langsung lewat penyedia layanan, sebagian lainnya bahkan langsung melayangkan protes ke Kominfo. Yuk kita bahas secara tuntas soal kontroversi ini bareng Hipwee News and Feature!

Konten pornografi ini dibilang ‘tersembunyi’ tapi sekali tahu caranya maka akan sangat mudah untuk mencari

GIF pada WhatsApp via www.hipwee.com

Konten GIF bisa didapat melalui tombol emoticon di WhatsApp. Sebenarnya konten GIF (Graphic Interchange Format) yang tersedia di WhatsApp tidak hanya melulu berbau pornografi, namun ada mesin pencari yang memungkinkan pengguna untuk mencari GIF sesuai keinginan. Misal dengan mengetik ‘school’ maka akan muncul GIF yang topiknya seputar kehidupan di sekolah. Yang menjadi ketakutan banyak orang adalah ketika kita mengetik ‘sex’ atau ‘porn’ maka akan muncul pula konten yang berhubungan dengan hal itu.

Layanan GIF ini memang bukanlah sajian yang pasti selalu terlihat saat membuka aplikasi, namun pornografi bisa diindikasikan dari pengguna yang sengaja mencarinya. Selain itu GIF yang terdapat pada WhatsApp memang tidak disediakan sendiri oleh pengembang aplikasi, melain melalui kerjasama dengan layanan penyedia seperti Tenor dan Giphy. Meskipun WhatsApp harus tetap bertanggungjawab terhadap apa yang bisa diakses dalam platform aplikasinya, mungkin karena faktor penyedia GIF dari luar-lah yang menyebabkan kontennnya lebih sulit diawasi.

Netizen ramai-ramai protes ke Kominfo, bahkan memberikan kritik langsung ke pihak WhatsApp

Hasil Konferensi Pers via twitter.com

Advertisement

Sebenarnya fitur GIF image sudah tersedia di WhatsApp sejak lama, namun baru beberapa hari ini ramai dibicarakan. Mengapa? Tentu karena beredarnya pesan berantai yang mengingatkan orang tua untuk berhati-hati. Nggak sedikit pengguna yang sebelumnya tidak menyadari fitur ini justru menjadi tau. Netizen kemudian ramai-ramai melayangkan protes baik kepada pihak pemerintah dan pihak pengembang aplikasi.

@Suhangsuheng: Telegram lebih nyata GIF pornonya itu kagak ketahuan atau memang pura2 tu ya petinggi-tingginya. Udah diblokir Pak? @rudiantara_id
@evahafsah: @WhatsApp_Indo Can you please block gif emoji on emoticons, my child can easily find inappropriate pictures by using “sex” as keyword

Kominfo pun bergerak cepat dengan menghubungi pihak WhatsApp. Pada hari ini (6/11) Kominfo kemudian menggelar konferensi pers untuk memberi pernyataan soal jawab pengembang aplikasi. Hasilnya, penyedia layanan Giphy bersedia untuk melakukan takedown terhadap konten berbau pornografi yang bisa terlihat di WhatsApp. Sementara pihak Tenor tidak merespon, sehingga Kominfo terpaksa memblokir 6 DNS Tenor. Kominfo bahkan mengancam akan memblokir WhatsApp jika tidak ada tanggapan sampai 2×24 jam, terhitung dari Rabu besok (7/11).

Meski begitu, konten berbau pornografi di WhatsApp hanya satu dari sekian banyak ancaman serupa. Upaya pemblokiran ini akan lebih efektif jika didukung upaya pencegahan

Awasi juga penggunaannya di kalangan anak muda, terutama buat anak yang masih di bawah umur via www.newmandala.org

Jika kita membuka mata lebih luas, pencarian Google sederhana pun sebenarnya bisa sama bahayanya. Layanan GIF serupa juga muncul di Twitter dan Facebook lho. Mengetikkan kata kunci dan ‘sex’ dan ‘porn’ di mesin pencarian mana pun maka akan memunculkan hal serupa. Kita tidak bisa terus menerus melakukan ancaman pemblokiran dan membendung arus layanan mesin pencarian.

Di sinilah peran keluarga dan orangtua seharusnya bermain. Segala kebebasan akses teknologi dan informasi di era internet ini memang sepatutnya dinikmati dengan penuh tanggung jawab.  Bangunlah sebuah ikatan yang kuat, dimana ketika tanpa pengawasan orang tua pun anak akan merasa jika melakukan hal yang tidak seharusnya akan menimbulkan akibat yang buruk pada dirinya sendiri.

Sebenarnya bahkan WhatsApp sudah memberikan batasan usia pengguna pada term and condition, yaitu di atas 13 tahun. Tetapi tetaplah pengawasan orang tua dan kebijakan pengguna sangat diperlukan. Bukan hanya pada aplikasi berkirim pesan layaknya WhatsApp saja, tetapi juga aplikasi dan layanan lainnya. Gimana pendapatmu guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya