Hasil Penelitian, Hanya Butuh 1 Langkah dan 12 Menit untuk Ubah Suasana Hati Buruk Jadi Happy Lagi

Tips bahagia

Tujuan hidup bagi semua orang itu bisa jadi pada dasarnya semua sama, mencari kebahagiaanHarus terus dicari karena tiap harinya tampaknya ada saja berita sedih, situasi tidak menyenangkan, atau orang menyebalkan yang makin menjauhkan kita dari perasaan bahagia. Satu hal negatif saja seringkali bisa merusak mood seharian.

Advertisement

Padahal kalau menurut Douglas Gentile, profesor psikologi dari Iowa State University di Amerika Serikat sana, ada sebuah metode super sederhana yang bisa dilakukan semua orang untuk memperbaiki suasana hati dengan sangat cepat. Dilansir dari Science Daily, kamu hanya butuh melakukan 1 hal saja, itu pun cuma butuh waktu 12 menit. Mau tahu seperti apa metodenya? Yuk simak bareng ulasan Hipwee News & Feature ini!

Menurut penelitian dari Iowa State University, ada metode yang sangat simpel untuk memperbaiki mood-mu. Kamu hanya perlu lakukan 1 hal : stop fokus ke dirimu sendiri, mulailah memikirkan orang lain 

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash via unsplash.com

Stop fokus memikirkan dirimu sendiri dan cobalah memikirkan orang lain

Mungkin terdengar sangat umum dan terkesan basa-basi, tapi berdasarkan penelitian yang dilakukan Iowa State University dan diterbitkan dalam Journal of Happiness Studies ini, langkah ini terbukti sangat efektif untuk memperbaiki mood seseorang. Hanya dengan berhenti memikirkan segala permasalahan diri dan justru memikirkan kebahagiaan orang lain, perasaanmu akan bisa jadi jauh lebih baik.

Advertisement

Hanya dengan melakukan itu selama 12 menit, suasana hati yang sedang dirundung kegelapan bisa jadi lebih cerah. Metode ini sudah terbukti berhasil secara konsisten terhadap semua sampel penelitian

Photo by Allef Vinicius (ig: @seteales) on Unsplash via unsplash.com

“Lakukan itu — memikirkan orang lain — selama 12 menit. Sambil jalan-jalan ke luar”

Lalu teknisnya bagaimana? Apakah benar hanya dengan memikirkan orang lain kita bisa jadi bahagia? Jika mood sedang hancur, penelitian ini  menyarankan agar kita pergi ke luar dan berjalan-jalan selama 12 menit sambil memikirkan orang lain. ‘Orang lain’ di sini deskripsinya juga sangat luas. Tidak harus teman, keluarga, atau orang yang kamu kenal (let’s say kamu punya hubungan buruk dengan semua orang), orang random di jalan pun bisa.

Bentuknya pun bisa bermacam-macam, dari hanya berdoa atau memikirkan kebahagiaan tukang becak di pinggir jalan yang kamu lihat pagi ini, atau menawarkan bantuan sekecil apa pun kepada yang membutuhkan. Lakukan ini selama 12 menit, kamu akan merasa lebih bahagia.

Advertisement
Pikirkanlah hal-hal positif atau berdoalah untuk kebahagiaan orang lain dalam sesi jalan-jalan 12 menit itu. Tak peduli tipe personality, kelompok umur, atau jenis kelamin, metode sederhana ini berguna untuk siapa saja

Photo by Alejandro Alvarez on Unsplash via unsplash.com

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 496 orang yang dibagi dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok diberi tugas yang berbeda-beda dalam sesi ‘jalan-jalan 12 menit’-nya.

  • Kelompok pertama, ditugasi menawarkan kebahagiaan kepada orang lain. Bisa dalam bentuk sesederhana berpikir positif terhadap orang itu, mendoakan kebahagiaan mereka, atau mungkin menawarkan bantuan.
  • Kelompok kedua, ditugasi untuk mengamati orang lain dan memikirkan bagaimana mereka terhubung dengan diri kita. Seperti kapan kita pertama kali melihat tukang becak yang sering mangkal di pinggir jalan atau berapa kali kita beli bakso dari tukang bakso keliling yang suka lewat dekat kantor.
  • Kelompok ketiga, ditugasi untuk mengamati orang lain dan berpikir tentang apa-apa saja yang harus kita miliki lebih jika dibandingkan dengan orang-orang yang kita temui di jalan. Metode yang disebut downward social comparison ini memang dibuat supaya kita bisa lebih bersyukur.

Dari 3 tugas atau training di atas, ternyata menawarkan kebahagiaan kepada orang lain adalah cara paling efektif untuk membuat diri kita kembali merasa bahagia. Training kedua bisa membuat kita berempati kepada orang lain, tapi tidak terlalu bahagia. Sedangan tugas ketiga ternyata justru memiliki manfaat yang paling minimal.

Menemukan rasa syukur dengan membanding-bandingkan kepemilikan satu sama lain, sarat dengan mindset kompetisi yang cenderung lebih berhubungan dengan stres, anxiety, dan depresi — bukan kebahagiaan. Itu juga sebab kenapa media sosial bisa jadi sangat toxic. Pasalnya, di ranah media sosial, kita hampir tidak mungkin untuk tidak membandingkan satu sama lain. Nah sekarang udah tahu ‘kan penelitiannya, siapa coba yang mau praktik?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE