Sebagai orang asli Yogyakarta, saya bangga karena kota ini disebut Kota Pelajar. Memang ada banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi, sebagian tergolong bergengsi. Bahkan setiap tahun ada puluhan ribu pelajar yang datang. Selain karena biaya hidupnya murah, Yogyakarta punya pesona tersendiri yang menarik banyak orang. Setiap hari ada berbagai acara seni dan kebudayaan gratis. Buku-buku murah pun bisa ditemukan dengan gampang. Kesempatan belajar selalu terbuka lebar. Pokoknya asyik deh!

Namun seiring berjalannya waktu, Yogyakarta berubah. Mal dan hotel dibangun terus. Makin lama jumlahnya makin fantastis dan mengubah gaya hidup masyarakat, termasuk para akademisi. Dengan adanya segala perubahan, masih pantaskah Yogyakarta disebut Kota Pelajar? Yuk simak penjelasannya.

Nama harum Yogyakarta sebagai Kota Pelajar udah terkenal sejak dulu. Ada banyak perguruan tinggi di wilayah kecil ini

Kampus UGM di Yogyakarta via www.brilio.net

Advertisement

Banyak orang merantau ke Yogyakarta karena beragamnya pilihan perguruan tinggi. Sebetulnya luas wilayah DIY hanya 3.185,80 kilometer persegi atau sepersepuluh luas Jawa Tengah. Tetapi jumlah perguruan tinggi di DIY mencapai 138! Berdasarkan Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2018, jumlah itu terdiri dari 26 universitas, 7 institut, 56 sekolah tinggi, 39 akademi, 1 akademi komunitas, dan 9 politeknik. Itu berarti gampang sekali menemukan kampus di sini. Jumlahnya pun meningkat kalau dibandingin tahun 2017 yang hanya 112 perguruan tinggi.

“Jogja masih merupakan Kota Pendidikan. Dari jumlah banyak, kualitas juga terjaga. Kalau perguruan tinggi ada akreditas BAN PT. Untuk sekolah SMA ke bawah ada pengawas dan kontrol dari pemerintah daerah,” kata seorang dosen Universitas Gadjah Mada.

Namun, beberapa aspek yang menunjang ekosistem Jogja sebagai kota yang ideal untuk pelajar mulai tergerus. Misalnya biaya hidup yang perlahan mulai naik, salah satunya karena pertumbuhan mal, hotel, dan industri lainnya.

Salah satu mal di Yogyakarta via hartonomallyogya.com

Biaya hidup murah merupakan salah satu keunggulan Yogyakarta untuk menjadi tempat senyaman mungkin bagi pelajar. Tak perlu ada label “harga mahasiswa” di  berbagai warung makan, karena memang hampir semuanya menyasar mahasiswa. Tapi itu dulu. 

Advertisement

Gaya hidup di Yogyakarta yang sederhana perlahan-lahan berubah seiring meningkatnya pembangunan. Pada 2018, berdiri 1.618 hotel di DIY. Di Yogyakarta sendiri ada 580 hotel yang terdiri dari 90 hotel bintang dan 490 hotel nonbintang serta akomodasi lainnya. Menyusul pembangunan fasilitas buat turis kayak restoran dan pusat perbelanjaan. Gayung bersambut, harga-harga pun cepat atau lambat menyesuaikan dirinya. Warung makan murah masih banyak tersedia untuk mengakali biaya makan, namun jika ini terus berlanjut, tren ekonomi di Jogja bisa berdampak kebutuhan para pemilik warung makan untuk menaikan harga-harga mereka.

Tempat-tempat makan franchise pun semakin bertebaran. Contohnya KFC, McD, Wendy’s, Burger King, dan masih banyak lagi. Sayangnya harga yang mereka tetapkan nggak terjangkau buat semua pelajar. Apalagi keberadaan mereka juga menggusur tempat makan kecil.

“Kalau bisa, kasih dong kemudahan izin dan modal buat warung-warung makan murah, jangan menambah tempat makan franchise aja,” kata Halvin Octriadi Utama, mahasiswa UGM yang sering makan di warung demi penghematan.

Jangan lupa, sekarang bandara baru di Yogyakarta udah beroperasi. Bakal mengubah gaya hidup lagi nih~

Bandara baru di Yogyakarta via jogja.tribunnews.com

Selama ini hanya ada satu bandara di Yogyakarta, yaitu Bandara Internasional Adisucipto. Tapi sejak awal tahun 2019 udah beroperasi bandara baru di Kulonprogo, yaitu New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Munculnya bandara itu bakal mengubah gaya hidup masyarakat. Soalnya di sekitar bandara pasti bakal dibangun berbagai hotel dan pusat perbelanjaan buat mendukung wisatawan. Antara wilayah kota hingga bandara sudah bisa diprediksi akan berubah besar-besaran, pembangunan akan gencar dilakukan seluas-luasnya.

Alhasil,bukan cuma biaya untuk makan lagi, tapi biaya hidup keseharian seperti kos, nongkrong, hingga ngeprint dan parkir akan ikut melonjak.

Dulu tempat nongkrong di Yogyakarta saja masih terbatas di Ambarukmo Plaza, Galeria Mall, atau Malioboro Mall. Tahun 2013-2018, muncul sejumlah pusat perbelanjaan besar seperti Jogja City Mall, Lippo Plaza, Hartono Mall, Transmart Carrefour, Sahid J-Walk, dan yang terbaru Sleman City Hall. Tempat-tempat itu memang bikin hidup lebih gampang. Tapi di sisi lain, bikin orang-orang lebih boros dan konsumtif. Akibatnya biaya hidup di Yogyakarta makin meningkat. Sedih deh~

“Aku bisa pergi ke mal 5-9 kali dalam sebulan. Lumayan boros sih, biaya nongkrong per bulan bisa 400 ribu. Belum lagi biaya buat belanja barang-barang yang aku mau,” kata Sri Auliani, mahasiswi Universitas Janabadra yang suka nongkrong sampai larut malam sejak jadi anak kos di Jogja.

Selain biaya hidup, Yogyakarta layak mendapat reputasi sebagai Kota Pelajar karena keragaman latar belakang anak mudanya. Keterbukaan terhadap perbedaan ini bisa menjadi medan yang baik untuk atmosfer intelektualisme. Namun, belakangan intoleransi malah menjadi pekerjaan rumah

Diskusi itu asyik lho~ via www.hipwee.com

Cek saja di laman-laman berita, miris mengetahui begitu berseminya kasus-kasus intoleransi di Yogyakarta. Mulai dari konflik mahasiswa yang mengatasnamakan etnis tertentu sampai langkah-langkah represi yang dilakukan oleh berbagai ormas.

Pada Februari 2018, terjadi penyerangan di Gereja Katolik St. Lidwina Bedog oleh seorang pria berpedang. Akibatnya empat orang luka-luka termasuk sang pastor. Lalu pada awal 2019, Slamet Jumiarto dan keluarganya ditolak menyewa rumah di Dusun Karet, Bantul, gara-gara nggak beragam Islam seperti penduduk lainnya. Tetapi syukurlah, kasus intoleransi di DIY udah mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

“Ditemukan 23 kasus pada 2015, 9 kasus pada 2016, dan 9 kasus pada 2017. Sepanjang tahun 2018 terdapat 10 kasus, tapi empat di antaranya adalah kasus dari 2017,” jelas Agnes Dwi Rusjiyati,

Yogyakarta terkenal karena banyaknya toko buku dan acara gratis buat belajar. Tapi buat sebagian orang, lebih asyik jalan-jalan di mal daripada ikut acara diskusi

Berbeda-beda tapi tetap satu via www.hipwee.com

Salah satun alasan lainnya karena Yogyakarta punya berbagai fasilitas yang mendukung proses belajar di luar kelas. Contohnya toko-toko buku, perpustakaan, pusat studi, galeri seni, dan sebagainya. Bahkan acara-acara seni dan kebudayaan sering banget diadakan. Pantas Yogyakarta juga disebut pusat kesenian Indonesia! Sayangnya, nggak semua mahasiswa manfaatin fasilitas itu.

Selama saya kuliah dulu, teman-teman di kampus terbagi jadi dua. Yang pertama adalah mahasiswa yang suka datang ke berbagai acara seni dan kebudayaan di Yogyakarta, sedangkan yang kedua adalah yang enggak. Sayangnya, jumlah golongan kedua jauh lebih banyak. Mereka memilih pergi ke tempat yang bisa ngasih hiburan dengan gampang, contohnya mal. Karena itulah acara-acara seperti diskusi sastra, seni, dan budaya jarang didatangi anak muda.

“Kalau kami ngadain acara diskusi, biasanya yang datang cuma seniman dan budayawan yang udah tua. Anak-anak mudanya jarang datang. Mungkin karena mereka lebih suka nongkrong di kafe dan main medsos berjam-jam dibanding dengerin diskusi,” kata Lawung Panji Sadewa, staf dokumentasi dan informasi Taman Budaya Yogyakarta.

Yogyakarta juga perlu menambah transportasi umum buat pelajar. Soalnya masih kurang nih~

Bus Trans Jogja via mediaindonesia.com

Beberapa tahun terakhir, transportasi umum yang beroperasi di Yogyakarta menurun drastis. Sekarang hanya tinggal bus Trans Jogja yang beroperasi sejak 2008. Harga tiketnya memang murah, hanya sekitar Rp3.000, tetapi jalur busnya nggak menjangkau seluruh wilayah. Akibatnya masih banyak mahasiswa yang kesulitan untuk berangkat dan pulang dari kampus. Sebagian berusaha naik ojek online, tapi lama-lama tarifnya mencekik leher.

“Saya pingin Yogyakarta menyediakan lebih banyak transportasi umum, kalau bisa ngasih diskon juga buat mahasiswa. Jadi kami tertolong buat pergi ke kampus,” kata Siti Triyuwanti, mahasiswi UIN yang nggak punya kendaraan pribadi. Sehari-hari dia berusaha memanfaatkan sepeda kampus, ojek, dan bus.

Jadi gimana menurutmu? Apakah kota ini masih pantas disebut sebagai Kota Pelajar? Hmm.. mulai mengkhawatirkan memang. Namun, perlu diingat bahwasanya kita yang meninggali Yogyakarta sendiri berperan besar untuk menjaga iklim Kota Pelajar tetap relevan. Kemajuan memang boleh, tapi jangan lupa melestarikan budaya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya