Sudah jadi sebuah rahasia umum, Indonesia kian berkembang di tengah arus modernisasi. Makin banyak bangunan-bangunan megah didirikan di kota-kota yang tersebar di seluruh nusantara. Beragam perumahan dengan berbagai tipe dan fasilitas di dalamnya, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, gedung-gedung pencakar langit, seolah sudah jadi rupa baru Indonesia. Begitu sulit menemukan pemandangan hijau macam sawah di perkotaan, bahkan di desa pun, sawah-sawah makin terkikis keberadaannya.

Indonesia adalah negara agraris yang kekayaannya sempat bikin tergila-gila Belanda dan Portugis sampai mereka datang menjajah. Sekarang sudah merdeka, kondisi pertaniannya justru miris

Bukankah begini potret Indonesia yang sesungguhnya? via umkmnews.com

Kamu tak lupa dengan pelajaran sejarah kala duduk di bangku Sekolah Dasar, ‘kan? Ketika diceritakan bahwa Belanda dan Portugis begitu tergila-gila serta ingin menguasai Indonesia. Mereka penuh nafsu mengerahkan segala kemampuan, bahkan rela mati berperang demi menguasai nusantara. Tentu saja kegilaan mereka beralasan, yakni tergiur dengan tanah dan lahan pertanian Indonesia yang suburnya tak terkira dengan hasil melimpah membentang sepanjang nusantara.

Mungkin dulu, ketika masih kecil, kamu lebih sering mendapati pemandangan khas Indonesia ini di sekeliling. Pak tani berangkat ke sawah dengan cangkul di tangan, bekerja hingga sore dan menjadi tulang punggung yang mampu penuhi kebutuhan pangan rakyat negeri ini. Betapa banyak warna hijau yang dapat kamu nikmati di perjalanan berangkat dan pulang sekolah setiap hari. Sekarang, lahan pertanian makin menyempit yang menjadi pertanda petani pun makin jarang. Mirisnya dibandingkan memperbaiki dan meningkatkan hasil pertanian domestik, jalur impor justru lebih sering diandalkan untuk mengatasi kekurangan pangan.

Jumlah petani Indonesia berkurang sebanyak 5 juta orang dalam 10 tahun. Jika petani pun mengalami kepunahan di Indonesia, apa kabarnya nama kita sebagai negara agraris

Bukan cuma fauna yang bisa punah, profesi pun iya via kanuablack.blogspot.com

Advertisement

Regenerasi secara kasat mata tengah menjadi persoalan. Sebagaimana dilansir Merdeka.com, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini jumlah petani di Indonesia berkurang sebanyak 5 juta orang. Yang awalnya pada 2003 lalu jumlahnya sekitar 31 juta orang, sekarang hanya 26 juta orang yang masih setia menjadi petani. Dan jika penghitungan ini tepat, maka diprediksi dalam 50 tahun ke depan tidak tersisa lagi petani di negeri ini. Bukan cuma masalah profesinya semata, itu juga peringatan keras akan keberlangsungan pasokan pangan dan tentunya akan meningkatnya ketergantungan Indonesia pada impor dari negara lain di masa depan. Apa kamu nggak miris membayangkannya?

Persona petani di zaman modern ini harus segera diubah. Generasi muda kita harus digiring untuk mengembangkan sektor pertanian demi keberlangsungan bangsa ini

Potret petani yang ada di benak kita bersama via flickr.com

“Lebih baik menjadi pedagang daripada menjadi petani yang tidak memiliki tanah. Bertani memiliki resiko tinggi, termasuk kalau gagal panen dan fluktuasi harga yang tidak menentu,” Afar, 29.

Sudah jamak diketahui pula jika kaum muda saat ini tak lagi tertarik menjadi petani. Bahkan, para petani sendiri sama sekali tak berharap anaknya melanjutkan profesi mulia ini. Mereka berharap, agar putra-putrinya mendapat pekerjaan yang lebih baik dan menghasilkan banyak Rupiah dibanding menjadi petani. Yang akhirnya berkuliah di jurusan pertanian sekalipun, lebih sering memilih untuk bekerja di bank atau perusahaan asing daripada mempraktikkan ilmunya. Tentu saja hal ini sama sekali tidak sinkron dengan adanya cita-cita pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. Tengok saja, berapa rata-rata usia petani saat ini? Bukankah makin menua dan regenerasi bisa dibilang sangat sulit dilakukan?

Kalau buruh tani makin digantikan mesin, mungkin ini konsekuensi dari sebuah modernisasi. Tapi, jangan lantas semua sawah dijual dan dijadikan bangunan macam villa di pedesaan

Fungsi manusia perlahan digantikan mesin via solopos.com

Ya, perkembangan ilmu dan teknologi tak bisa dipungkiri memang sudah merambah segala bidang, tak terkecuali pertanian. Sebut saja mesin perontok padi yang sudah mulai masuk tahun 2012 silam. Mesin itu pun tak pelak diyakini sebagai mesin panen terbaik. Jelas saja para buruh tani makin merasa terintimidasi dan kalah saing. Akhirnya karena merasa ‘tak dibutuhkan,’ mereka pun terpaksa pensiun dini dari profesi ini. Tapi ternyata, mesin pun tak banyak membantu kala hujan dan tanah becek. Akibatnya lagi, petani  merasa muspro karena memiliki lahan namun tak ada yang menggarapnya. Mengambil jalan instan, lahan itu pun kemudian dijual, dan jangan kaget kalau sekarang berubah wujud jadi bangunan ‘indah’ macam villa di pedesaan.

Sejatinya, menjadi seorang petani tak hanya menyoal gengsi. Ini tentang menjadi pahlawan pemenuh kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat di pelosok negeri

Apa iya Indonesia masih negara agraris dengan kondisi saat ini? via kamerakamera.files.wordpress.com

Anak muda tak lagi tertarik bekerja di sektor pertanian, lantaran lebih merasakan adanya prestise ketika bekerja di perkantoran.

Petani adalah orang desa.

Bukankah konsep di atas sudah akrab di telingamu bahkan sejak kanak-kanak hingga dewasa? Para pelajar terus dicekoki dengan gambaran Pak Tani yang pergi ke sawah saat pagi dengan membawa cangkul dan mengenakan caping, kemudian pulang ketika hari menuju gelap. Petani juga kerap diidentikkan dengan warga kelas menengah bawah di desa atau dusun. Padahal tanpa profesi ini, Indonesia tak akan bisa mencapai kedaulatan pangan.

Tapi ternyata, tidak semua pemuda merasa gengsi disebut petani. Adi Pramudya Pati contohnya. Petani muda di kawasan Bogor ini membuktikan kalau petani pun bisa juga meraih kesuksesan. Terbukti, dalam sebulan dia berhasil meraih penghasilan hingga ratusan juta rupiah. Berbeda dengan pemuda lainnya, Adi melihat ada cukup banyak potensi yang bisa digarap di bidang ini. Jenis pertanian untuk rempah-rempah misalnya, yang kemudian dia coba untuk kembangkan. Bukankah fakta ini menguatkan kalau bertani nyatanya tidak kalah menjanjikan dibanding pekerjaan lain yang dianggap lebih bergengsi?

Semakin banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pemukiman atau ruang industri. Profesi petani pun makin tak memiliki posisi tawar yang tinggi. Lalu, jangan salahkan siapapun kalau nantinya harga pangan (impor) semakin tinggi ya..

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya