Potret Buram Kekerasan dalam Kampus. Berulang Kali Terjadi, Kapan akan Berhenti?

kekerasan dalam kampus

Korban berinisial GES, mahasiswa Univeristas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menghembuskan napas terakhir saat mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Resimen Mahasiswa (Menwa). Kematian GES adalah duka untuk dunia pendidikan kita. Yang semakin membuat pedih sekaligus miris, kepergian GES disebabkan karena kekerasan.

Hari Minggu (24/10), peristiwa yang merenggut nyawa itu terjadi di kawasan Sungai Bengawan Solo, Jurug. Muncul dugaan kekerasan ketika pihak keluarga menemukan luka lebam dan darah di jasad korban. Setelah hasil autopsi keluar, GES dinyatakan meninggal akibat kekerasan benda tumpul yang memicu mati lemas. Pihak kepolisian pun turun tangan untuk melakukan penyidikan. Pihaknya mengumpulkan keterangan dosen dan pihak universitas, serta organisasi kampus yang bersangkutan.

Diklat Menwa UNS yang berakhir dengan adanya kekerasan dan kematian menambah potret buram pendidikan di kampus. Kejadian ini memantik sebuah tanya, “Kapan, ya, kehidupan kampus bebas dari kekerasan?” Soalnya nih, kasus seperti ini bukan cuma terjadi sekali atau dua kali.

Kekerasan dalam kampus berulang kali terjadi, tapi hanya sedikit yang jadi sorotan. Kasus GES adalah puncak gunung es. Sementara itu, masih banyak kasus serupa yang luput dari perhatian atau sekadar jadi obrolan diam-diam di dalam kampus saja.

Sebelum kasus yang terjadi pada mahasiswa UNS, kekerasan di kampus sudah sering kita dengar

Banyak kasus kekerasan dalam kampus yang bikin miris | Photo by Pavel Danilyuk on Pexels

Masih ingat dengan mahasiswa inisial INL yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII)? Tahun 2017, korban meninggal dunia usai mengikuti Great Camping Pendidikan Dasar Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Gunung Lawu, Lereng Selatan, Tawangmangu, pada tanggal 13-20 Januari 2017. Sepulang dari kegiatan itu, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Jogja International Hospital. Ia kemudian menjalani rawat jalan. Sayangnya, sesampainya di rumah indekos, korban pingsan. Kemudian, ia dibawa ke Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Sebelum ajal menjemput, korban mengatakan pada sang paman kalau ia dipukuli saat kegiatan Mapala UII. Terlihat luka di tangan, kaki, dan kepalanya. Perut korban pun membesar. Tak berselang lama usai dirawat, korban tutup usia. INL sendiri bukanlah satu-satunya korban. Ada dua mahasiswa lain yang menjadi korban kekerasan fisik dalam kegiatan Mapala UII.

Geger soal ospek maut di Institut Teknologi Negeri (ITN) Malang juga menghebohkan dunia pendidikan pada tahun 2013. Acara pengenalan kehidupan kampus dan orientasi mahasiswa itu dipenuhi kekerasan fisik dan seksual. Kejadian berlangsung di Kawasan Pantai Goa Cina, Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Korban yang berinisial F sudah kehilangan nyawa saat dibawa ke rumah sakit. Tampak darah keluar dari kedua matanya. Dari hasil pemeriksaan dokter, organ reproduksi korban pun mengalami kekerasan.

Dua kasus tersebut adalah contoh kekerasan dalam kampus yang muncul ke ruang publik, menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi kita masih lekat dengan budaya kekerasan. Apalagi, banyak kasus kekerasan yang tak terungkap. Seperti yang dialami oleh Awan (nama samaran) yang berhasil dihubungi tim Hipwee Premium.

Pengakuan riil dari korban yang mengalami kekerasan dalam kampus, “Budaya kekerasan sudah mendarah daging”

Ketika kabar kekerasan dalam kegiatan Menwa UNS, Awan adalah salah satu orang yang ikut geram dan marah. Baginya, kekerasan dalam bentuk apa pun nggak bisa dibenarkan. Apalagi, kasus itu sampai menghilangkan nyawa orang lain.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini