Entah apa yang ada di benak orang yang perlakuannya bisa begitu kejam terhadap hewan-hewan tak berdosa. Rasanya sudah banyak kita temui di media sosial, kasus dimana orang menyiksa binatang semaunya. Mentang-mentang mereka tidak bisa protes dan bicara, manusia jadi merasa pantas melakukan tindak kekerasan atau bahkan membunuhnya. Padahal hewan-hewan itu juga makhluk hidup yang punya nyawa dan bisa merasakan sakit, sama seperti kita.

Baru-baru ini publik dibuat remuk hatinya oleh foto-foto orangutan di media sosial, yang diberondong 74 peluru senapan angin oleh oknum biadab di Aceh. Tak hanya itu, orangutan bernama Hope ini juga harus kehilangan bayinya yang masih berumur 1 bulan. Sebenarnya, apa sih yang jadi alasan kenapa orang begitu tega menghujani Hope dengan senapan angin??

Jangan tanya gimana kondisi induk orangutan bernama Hope ini setelah ditembak pakai senapan angin. Hope kini kritis karena mengalami luka cukup parah

Advertisement

Seekor orangutan bernama Hope di Subulussalam, Aceh, harus merasakan sakitnya diberondong peluru senapan angin. Saat dievakuasi dari perkebunan warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam, kondisinya sangat memprihatinkan. Dari hasil rontgen, terhitung ada 74 peluru bersarang di tubuhnya. Bahkan matanya juga kena tembak!

Advertisement

Kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji, seperti ditulis Kompas, pada tubuh Hope juga ditemukan luka-luka, serta tulang tangan, kaki, dan jarinya ada yang patah. Ada juga luka bacok di bagian punggung yang sudah bernanah. Itu berarti Hope tidak hanya ditembak, tapi juga disiksa dengan kejam!

Ditemukannya Hope ini berawal dari laporan warga akan adanya konflik satwa dilindungi itu dengan masyarakat setempat. Orangutan diketahui masuk kawasan pemukiman karena habitatnya terganggu

Kalau nggak mau kebunnya diganggu, ya jangan merusak habitat hewan di hutan dong 🙁 via archive.rimanews.com

Hutan yang merupakan habitat orangutan di Subulussalam memang berbatasan langsung dengan kebun sawit dan pemukiman warga. Disinyalir karena habitatnya semakin sempit, Hope beserta anaknya memasuki kebun dan pemukiman warga, dimana banyak orang merasa terganggu.

Setelah menerima laporan, BKSDA langsung datang dan memantau keberadaan orangutan. Seperti dilansir Detik, ternyata Hope ditemukan di atas pohon nangka dengan kondisi mengenaskan. Anaknya yang masih 1 bulan sudah tidak bernyawa karena mengalami kurang gizi. Diduga Hope sudah disiksa selama beberapa lama oleh warga setempat. Akhirnya Hope dibawa ke pusat rehabilitasi Sibolangit, Sumatera Utara, untuk dirawat.

Mengenai siapa pelaku penembakan Hope, sampai saat ini belum diketahui. Tapi BKSDA berjanji akan mengusut oknum biadab tersebut. BKSDA juga bekerjasama dengan sejumlah pihak

Hope masih dirawat intensif via bebas.kompas.id

Demi mengusut pelaku penembakan Hope, BKSDA bekerjasama dengan Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera dan kepolisian Aceh. Keterlibatan polisi ini juga untuk menertibkan peredaran senapan angin ilegal yang sebetulnya dilarang untuk digunakan sembarangan, apalagi untuk menembak satwa dilindungi. Di Indonesia ada lo undang-undang yang mengatur larangan menembak binatang langka –yakni UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara atau denda maksimal Rp100 juta.

Kisah tragis Hope ini sampai ke telinga warganet luar negeri. Mereka sama-sama mengutuk perbuatan jahat warga yang tega menyiksa orangutan. Selain mengecam tindakan itu, mereka ternyata juga menyentil penggunaan minyak kelapa sawit

Berkurangnya habitat orangutan di Aceh itu, diduga karena adanya perluasan kebun kelapa sawit milik warga. Sejumlah warganet luar negeri begitu menyayangkan kejadian ini. Katanya semua ini karena industri kelapa sawit. Permintaan yang terus bertambah, membuat perusahaan sawit mengekspansi kebun sawitnya dan memangkas habitat banyak fauna di sana. Akun Twitter @BellaLack mengimbau agar konsumen berhenti memakai minyak kelapa sawit. Agar kejadian yang menimpa Hope, tidak lagi terulang.

Selain solusi yang disampaikan Bella, mungkin memang perlu ada sosialisasi soal satwa dilindungi. Soalnya masih banyak lo orang di pedalaman yang belum paham kalau hewan-hewan yang mungkin mereka lihat setiap hari itu termasuk satwa dilindungi. Mereka juga mesti diberi pemahaman tentang alasan kenapa hewan-hewan langka itu harus dipertahankan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya