Bagaikan roda, kehidupan itu memang selalu berputar. Setelah berabad-abad lamanya ini dunia didominasi Barat, mungkin kini memang sudah tiba saatnya negara-negara Timur untuk semakin berjaya dan mengambil alih kepemimpinan. Lihatlah Cina! Hanya dalam waktu beberapa tahun lagi, Cina diyakini akan bisa menyalip negara adikuasa Amerika Serikat untuk menjadi kekuatan ekonomi terkuat sedunia. Fenomena itu bisa terlihat dengan semakin banyaknya muncul miliuner-miliuner dari Cina seperti Jack Ma yang kemarin sempat meramaikan acara penutupan Asian Games 2018 di Jakarta.

Di samping bermunculannya orang-orang kaya baru di Cina, kamu bisa menyaksikan bukti nyata dari betapa hebatnya perkembangan Cina justru di Benua Afrika. Kalau berkunjung ke negara-negara Afrika seperti Zambia atau Ethiopia, kamu sekarang bisa melihat banyak ‘jejak’ Cina. Dari bantuan luar negeri, mendirikan pabrik perusahaan Cina di sana, atau proyek konstruksi, Cina tampaknya punya komitmen kuat untuk membangun, memodernisasi, dan mungkin juga secara diam-diam ‘menguasai’ Afrika. Bahkan katanya, potret beberapa kota di benua Afrika kini malah mirip dengan kota-kota di Cina; gedungnya, jalanannya, keretanya, dan banyak infrastruktur lain. Kali ini Hipwee News & Feature bakal bahas soal ini secara tuntas. Kalau penasaran, yuk simak bareng~

Hubungan baik Cina-Afrika ini sebenarnya bukan ‘lagu lama’. Mereka terlibat kerjasama sejak tahun 1960-an

Kerjasama yang sudah berlangsung sejak lama via www.pikiran-rakyat.com

Advertisement

Akhir 1960, Tiongkok menjalin kerjasama pertama kali dengan Zambia dan Tanzania, untuk menggarap proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan pelabuhan Tanzania dengan salah satu kota di Zambia, Kapiri Mposhi. Tapi hubungan diplomasi resmi kedua negara ini baru dimulai saat Cina jadi tuan rumah Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) tahun 2000. Dalam pertemuan itu kedua negara sepakat untuk menjalin “hubungan” lebih lanjut. Terlebih sejak Xi Jinping berkuasa, ia berkotmitmen meningkatkan kesejahteraan kedua belah pihak.

Sampai saat ini, udah nggak terhitung berapa banyak dana investasi asing yang dikeluarkan Cina buat Afrika. Lha hampir semua proyek infrastruktur di sana, Cina yang pegang lho; jalan raya, gedung sekolah, sistem telekomunikasi, atau pembangkit tenaga listrik. Bahkan sampai barang kebutuhan sehari-hari pun diinvasi Cina.

Sejak 10 tahun terakhir ini, udah nggak kehitung berapa kali para pemimpin Cina mengunjungi Afrika. Tujuannya ya bicara soal hubungan bilateral

Presiden Xi Jinping saat mengunjungi Afrika via www.pikiran-rakyat.com

Advertisement

Sejak 10 tahun lalu, para pemimpin Tiongkok, mulai dari presiden, perdana menteri, sampai menteri luar negeri, sudah mengunjungi 43 negara benua Afrika yang kalau ditotal jumlahnya 79 kali. Selama ini mungkin kita lebih perhatian sama kunjungan petinggi Tiongkok ke negara-negara yang lebih terkenal; Korea Selatan, Jepang, atau mungkin Indonesia. Padahal jumlah kunjungan Cina ke negara-negara itu jauh lebih sedikit dibanding ke Afrika. Bahkan Presiden Xi Jinping menjadikan Afrika sebagai tujuan prioritas di daftar kunjungannya.

Katanya sih kerjasama ini saling menguntungkan gitu. Cina disebut jadi negara paling banyak ekspor minyak dari Afrika

Pembangunan pesat di Afrika “dibayar” dengan SDA via edition.cnn.com

Jadi apa sih yang dicari Cina dari Afrika? Katanya sih sumber daya alam di Afrika yang melimpah; kayak di Zambia yang kaya akan tembaga, Gabon dengan bijih besinya, dan Angola dengan penyulingan minyaknya. Cina disebut-sebut sebagai negara yang paling banyak menerima ekspor minyak dari Afrika. Di situlah Cina membuka kesempatan dagang dan investasi besar-besaran. Di samping itu, Afrika jadi meningkat juga pembangunannya, tentu saja dengan bantuan Cina. Tapi ya gitu, identitas asli negaranya jadi tertutup sama apa yang dibawa Cina ke sana. “Suara” lokal jadi pasif. Bahkan sejauh mata memandang pasti banyak ditemukan pamflet dan baliho dengan tulisan mandarin.

Tapi kabarnya ‘campur tangan’ Cina di Afrika ini juga banyak mendapat kritik. Soalnya nggak sedikit cerita kalau pekerja lokal malah mendapat perlakuan kurang adil dari perusahaan-perusahaan Cina

Pekerja lokal jadi korbannya via www.pikiran-rakyat.com

Di balik eratnya hubungan diplomasi antara Cina-Afrika, ternyata mereka banyak menerima kritik, terutama dari dalam negeri. Perusahaan Tiongkok nggak jarang dikritik atas perlakuannya kepada pekerja lokal asal Afrika, baik dari jam kerja yang eksploitatif, atau kondisi kerja yang kurang aman. Belum lagi gaji yang diberikan dinilai sangat kurang layak. Beda banget sama fasilitas dan tunjangan yang diberikan ke pekerja asal Cina sendiri.

Mungkin malah kurang tepat kalau kerjasama ini dinamakan simbiosis mutualisme, karena lebih cenderung ke hubungan perdagangan searah. Cina mengeksploitasi SDA di Afrika untuk kebutuhan industrinya. Tapi bantuan melimpah Cina justru bisa membuat Afrika jadi ketergantungan. Perusahaan lokal mati, karena nggak bisa bersaing. Fakta ini juga didukung adanya penelitian yang menyebutkan kehadiran Tiongkok malah nggak menunjukkan adanya perkembangan keterampilan ataupun transfer teknologi yang memadai.

Belum lagi kritik dari masyarakat Cina sendiri. Lha masih banyak banget penduduk di sana yang hidup dengan gaji di bawah 1 dolar per harinya. Bukannya akan lebih baik kalau bantuan Cina buat Afrika yang super gede itu dipakai buat mengentas kemiskinan di negaranya sendiri? Hmm.. rumit ya.. menurut kamu gimana, guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya