Budaya selfie berkembang dengan begitu cepat. Awalnya foto cuma bisa pake kamera belakang, sekarang kita udah nggak perlu repot lagi tiap mau motret diri sendiri karena udah ada kamera depan. Belum lagi aplikasi sunting foto yang juga beragam jumlahnya. Mau diedit kayak apa juga bisa. Di samping membuat orang sedunia makin narsis, ternyata budaya selfie memiliki potensi bahaya yang seringkali tidak disadari — kematian. 

Kematian akibat selfie mungkin seringkali dianggap sebagai kecelakaan aneh yang hanya terjadi sesekali. Tapi menurut hasil penelitian terakhir, jumlah orang yang meninggal dunia karena ‘kecelakaan selfie’ itu semakin banyak. Para peneliti juga meyakini bahwa kecelakaan seperti ini sebenarnya banyak juga yang tidak dilaporkan. Supaya korban tidak semakin berjatuhan, penting artinya bagi kita untuk memahami bahayanya fenomena yang disebut dengan ‘selfiecide‘ (selfie dan suicide) ini. Bahkan katanya, selfiecide kini lebih fatal daripada serangan hiu atau hewan buas lainnya. Jangan-jangan selama ini, gaya selfie udah cenderung menjurus ke fenomena berbahaya ini guys. Yuk simak bareng ciri-cirinya bareng Hipwee News & Feature!

1. Sebuah penelitian mengungkapkan realita miris dari kehidupan generasi kekinian saat ini. Swafoto atau selfie ternyata jadi penyebab kematian yang makin berbahaya

Semakin banyak orang rela mengancam nyawanya sendiri cuma demi foto bagus via www.deccanchronicle.com

Advertisement

Riset yang diterbitkan di Journal of Family Medicine and Primary Care ini mengkaji berita kematian yang terjadi dari Oktober 2011 sampai November 2017. Dari hasil observasi itu ternyata ditemukan 259 kematian terjadi karena selfie. Karena banyak yang tidak dilaporkan, angka ini diyakini sebenarnya jauh lebih banyak. Studi yang dikepalai Dr. Agam Bansal dari India Institute of Medical Sciences ini juga berusaha mendalami gimana kita rela mengancam nyawa sendiri demi foto di Instagram dan ratusan hingga ribuan likes.

Menurut riset itu, selfiecide ini kebanyakan melibatkan seleb-seleb media sosial. Mereka ingin membuat pengikutnya shock, kagum, atau mungkin bangga dengan kenekatan-kenekatannya. Dari catatan penelitian itu, ada 3 orang influencer Kanada yang tewas karena jatuh ke sungai. Di India ada juga pria yang diserang beruang cuma gara-gara pengen foto sama hewan buas itu. Yang lain kebanyakan meninggal karena jatuh saat selfie.

2. Sejumlah pakar menduga keinginan eksis di media sosial membuat orang kerap melakukan hal-hal di luar nalar, termasuk selfie di tempat-tempat berbahaya

Cuma demi konten via www.deccanchronicle.com

Beberapa pakar kayak Erin Vogel, peneliti post-doctoral di Department of Psychiatry, University of California, San Francisco, menganggap persaingan konten yang semakin alot memaksa orang melakukan hal-hal nekat dan menarik demi bisa dianggap eksis. Salah satunya ya selfie di tempat-tempat berbahaya itu. Kebanyakan malah sebenarnya nggak sadar kalau mereka sedang melakukan hal berbahaya. Yang ada di pikirannya cuma respon orang-orang akan aksinya itu, dan ribuan likes yang menunggu.

3. Selain itu ada juga yang beralasan sebagai ajang uji adrenalin. Dibanding harus bayar naik wahana di tempat rekreasi, mereka lebih pilih yang gratis-gratis, kayak selfie pas kereta lewat, misalnya..

Sebagai ajang uji adrenalin via praxistipps.chip.de

Advertisement

Selain buat jadi konten di medsos, faktor lain yang mendorong mereka berpikiran nekat adalah keinginan untuk uji adrenalin gratis. Selama ini, setiap pengen seru-seruan menantang adrenalin kita mungkin akan berpikiran pergi ke wahana rekreasi macam Dufan dan naik roller coaster-nya. Beda dengan sebagian orang yang lebih pilih menantang maut gratisan plus mengabadikannya. Kayak pengakuan pria bernama Varun Kumar (nama disamarkan), yang hobi menaiki gedung-gedung tinggi di malam hari. Semakin tinggi semakin menantang.

4. Seorang psikolog mengatakan orang-orang ini udah terjangkit yang namanya selfie-addiction. Tingkat keparahannya pun berbeda-beda

Selfie sambil berkendara, yang tanpa sadar sering kita lakukan, padahal bahaya banget via www.sliptalk.com

Dr. Binu Philip, seorang psikolog, mengaitkan fenomena selficide ini dengan selfie addiction (selfitis). Selfitis ini adalah bentuk dari gangguan obsesif-kompulsif yang kalau dilihat dari tingkat keparahannya terbagi jadi 3 level:

  1. Borderline: mengambil foto paling sedikit 3 kali, dan nggak mengunggahnya ke medsos
  2. Akut: mengambil foto paling sedikit 3 kali sehari dan mengunggahnya ke medsos
  3. Kronis: selfie (mengambil foto diri sendiri) paling sedikit 6 kali sehari dan mengunggahnya ke medsos

Dia pun menambahkan kalau orang-orang yang terjangkit selfitis ini sebenarnya sedang mengalami yang namanya masalah penghargaan diri yang rendah. Mereka merasa ‘insecure‘ sama dirinya sendiri. Dan untuk mengatasi itu semua, mereka berusaha menciptakan foto-foto yang bagus, lalu memasangnya di medsos dengan harapan orang bakal memberi penghargaan berupa likes atau comment.

5. Para pakar menyarankan untuk setiap negara mulai menerapkan larangan selfie di tempat berbahaya. Imbauan yang cuma sebatas papan peringatan aja sih kayaknya nggak akan cukup menekan angka kematian akibat selfie sembarangan

Cukupkah hanya dengan imbauan papan peringatan? via sputniknews.com

Karena makin hari makin banyak orang yang kehilangan akal sehat, para pakar mulai banyak yang mengimbau agar pemerintah setiap negara mulai menerapkan larangan selfie di tempat-tempat berbahaya. Mungkin bentuknya semacam papan peringatan di pantai-pantai yang melarang berenang terlalu jauh gitu ya. Tapi kalau sekedar papan begitu, apa bisa efektif? Kecuali memang di tempat-tempat ekstrem itu ada petugas yang memberi peringatan langsung, kalau-kalau ada yang melanggar aturan.

Cara lain mungkin bisa dengan pendekatan langsung macam sosialisasi di sekolah-sekolah atau kampus gitu ya, soal pentingnya mengutamakan akal sehat dibanding sekedar likes dan comment di media sosial semata…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya