Tadi malam, kita sama-sama sudah menyaksikan debat kedua Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang ditayangkan di berbagai saluran televisi. Debat kali ini sedikit berbeda dengan debat pertama 17 Januari lalu, yang mana hanya dihadiri oleh kedua calon presiden, tanpa ditemani calon wakilnya. Joko Widodo dan Prabowo Subianto, sebagai peserta debat, juga nggak mendapat kisi-kisi pertanyaan seperti saat debat pertama kemarin.

Namun kesamaan dalam kedua debat ini bisa kita lihat dari banyaknya highlight menarik yang banyak sekali dibahas warganet dunia maya. Seperti saat Jokowi menyebut kata ‘unicorn’, Prabowo tampak nggak mengerti arti istilah itu. Selain ‘unicorn’, ada juga beberapa istilah yang mungkin masih terdengar ‘asing’ di telinga kita. Mau tahu apa aja? Dan sebenarnya apa sih artinya? Yuk, simak bareng Hipwee News & Feature, ‘kan lumayan buat menambah pengetahuan juga~

1. Saat diberi kesempatan memberi pertanyaan untuk Prabowo, Jokowi menyebut istilah ‘unicorn’ yang ternyata terdengar masih asing di telinga Prabowo. Ternyata, unicorn yang dimaksud bukan kuda bertanduk lo, Guys~

Unicorn di Indonesia via kawanpendi.com

Advertisement

Pada segmen 5, kedua calon presiden sama-sama diberikan kesempatan untuk saling melontarkan pertanyaan kepada lawan debatnya. Saat diberi kesempatan bertanya, Jokowi menyebut istilah ‘unicorn’.

“Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?”

Tak disangka, Prabowo justru tampak asing dengan istilah itu. Ternyata unicorn yang dimaksud Jokowi ini adalah perusahaan start-up yang memiliki valuasi nilai atau nilai ekonomi mencapai 1 miliar dolar AS. Di Indonesia saat ini tercatat ada 4 perusahaan yang termasuk unicorn; Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Mereka banyak mendapat suntikan dana dari investor-investor luar negeri.

Advertisement

Di atas unicorn masih ada decacorn, dengan valuasi di atas US$ 10 miliar, dan hectocorn dengan valuasi US$ 100 miliar, seperti dikutip dari CNBC.

2. Dalam menanggapi jawaban Prabowo atas pertanyaan ‘unicorn’nya, Jokowi menyebut kalau ia sudah membangun Palapa Ring dalam rangka mendukung unicorn. Apa sih Palapa Ring itu?

Proyek palapa ring via kppip.go.id

Palapa Ring ini kalau dikutip dari website Kominfo, merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia yang total panjangnya mencapai 36.000 kilometer. Tujuan dari dibangunnya proyek ini adalah untuk mengintegrasikan seluruh jaringan telekomunikasi di Indonesia, mulai dari radio, telepon, sampai internet. Harapannya dengan proyek ini, pembangunan sosial ekonomi bisa lebih merata, dengan ketersediaan infrastruktur jaringan telekomunikasi berkapasitas lebih besar.

Kabarnya, proyek Palapa Ring di bagian barat dan tengah Indonesia sudah mencapai 100%, sedangkan di bagian timur masih 88,14%.

3. Di segmen lain saat membahas infrastruktur, moderator menyebutkan masih banyaknya konflik agraria terjadi di negeri ini. Ngomong-ngomong, apa ya konflik agraria itu?

Demo terkait konflik agraria via banjarmasin.tribunnews.com

Masalah konflik agraria ini sempat ramai juga jadi bahan perbincangan di lini maya setelah debat berlangsung. Soalnya, pernyataan Jokowi mengenai tidak adanya konflik pembebasan lahan selama 4,5 tahun ini dibantah oleh banyak pihak. Kenyataannya, sejak 2014, jumlah konflik agraria akibat proyek infrastruktur ini mencapai ratusan kasus lo!

Tapi, sebenarnya, apa sih yang dimaksud konflik agraria? Intinya, konflik agraria muncul ketika ada pertentangan atau saling klaim untuk memperebutkan sumber daya alam, misalnya tanah, lahan, perkebunan, dan lain-lain. Ketika negara ingin membangun infrastruktur seperti jalan tol atau bandara, seringkali masyarakat di sekitarnya menolak karena dirasa merugikan mereka yang mengandalkan hidup dari tanah dan kekayaan alam di sana. Di sinilah konflik agraria muncul.

4. Saat tanya jawab seputar energi dan pangan, setiap capres ditanya soal strategi menghadapi revolusi industri 4.0. Aduh, apa lagi ya itu?

Revolusi industri 4.0 via finance.detik.com

Revolusi industri 4.0 atau revolusi industri generasi keempat ini merupakan era yang sedang kita jalani sekarang. Secara garis besar, revolusi industri 4.0 adalah integrasi antara dunia online dengan dunia usaha, industri, atau manufaktur. Dalam era ini, semua proses produksi ditopang dengan internet atau teknologi. Makanya, revolusi industri 4.0 kerap ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, sampai kendaraan tanpa pengemudi.

5. Ada lagi istilah biodiesel B20 dan B100. Istilah ini muncul saat ada pertanyaan seputar tata kelola sawit yang disampaikan moderator

Biodiesel B20 dan B100 via www.bpdp.or.id

Masih dalam tema seputar energi dan pangan, moderator bertanya soal bagaimana strategi tata kelola sawit agar target biodiesel B20 tercapai. Istilah lain yakni biodiesel B100, juga disinggung Jokowi saat berusaha menjawab pertanyaan ini. Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar nabati alias berasal dari bahan-bahan organik –minyak nabati atau lemak hewani.

Sedangkan bedanya, kalau dikutip dari website Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), biodiesel B20 itu kandungannya merupakan campuran antara 20% bahan organik dan 80% bahan bakar minyak jenis solar. Kalau biodiesel B100, seluruh kandungannya dari minyak nabati, yang bisa diperoleh dari tanaman sawit, tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung, dan lain-lain.

Nah, gimana, sudah paham ‘kan sekarang? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya