Di dunia yang serba ‘apa-apa larinya ke internet’ ini, kita seringkali sulit membedakan mana informasi yang asli dan mana yang palsu. Nggak jarang kita jadi korban persebaran hoaks di dunia maya. Contohnya yang paling baru kemarin ada kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Bahkan nggak cuma kita aja yang kena tipu, tapi banyak media besar di Indonesia yang kompak memberitakan kasus Ratna dipukuli orang tak dikenal. Padahal faktanya ia cuma habis operasi plastik.

Ada juga foto letusan gunung yang diduga Gunung Soputan beredar di internet dan grup-grup percakapan daring, aslinya sih itu foto letusan Gunung Sinabung tahun 2014 lalu. Maraknya berita-berita bohong ini tanpa sadar bisa memecah belah bangsa lho. Apalagi kondisinya saat ini negara kita sedang berada di masa-masa rawan ‘penggorengan’ isu politik, ya maklum, karena pemilu makin dekat. Kominfo sebagai garda terdepan pemberantasan konten negatif di internet, ternyata punya cara tersendiri gimana mengatasi info-info hoaks. Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkumnya buat kamu.

1. Hoaks itu masalah kita bersama. Kominfo pun mungkin nggak bisa mengatasi sendiri, karena memerangi hoaks butuh kerjasama banyak pihak

Advertisement

Sekalipun Kominfo punya andil besar dalam mengendalikan persebaran konten-konten negatif di internet, tapi hoaks ini sebenarnya jadi masalah kita bersama. Dampaknya itu lho ngeri, bahkan sampai bisa menghancurkan keutuhan bangsa. Sebagai lembaga yang mengatasi problematika internet, Kominfo tentu punya prosedur tertentu gimana menangkal hoaks di dunia maya. Nggak asal cap sembarangan.

Kita sebagai warga biasa ternyata juga punya peran penting dalam mengatasi hoaks. Kenapa kita mesti turut serta? Soalnya seringkali Kominfo ini baru memeriksa dan menganalisis apakah sebuah konten hoaks atau bukan, ketika ada laporan lewat email resminya. Iya, jadi kita sebagai masyarakat awam bisa banget melaporkan konten berbau negatif lewat email resmi Kominfo aduankonten@mail.kominfo.go.id atau ke lawan web aduankonten.id.

2. Nah, setelah ada laporan, Kominfo akan mulai menganalisis konten itu lewat mesin khusus yang salah satu fungsinya memang buat mengetahui kebenaran suatu konten

Mesin Air milik Kominfo via manado.tribunnews.com

Advertisement

Ketika Kominfo sudah menerima laporan dari masyarakat, timnya yang disebut Cyber Drone 9 akan menindaklanjut aduan itu. Langkah selanjutnya, mereka akan menelusuri jejak konten itu di internet menggunakan mesin bernama Ais. Mesin pengais senilai Rp200 miliar itu bisa memeriksa jutaan alamat internet hanya dalam waktu 5-10 menit lewat kata kunci yang sebelumnya sudah dimasukkan.

Selain memeriksa konten hoaks, mesin Ais ini juga rupanya bisa ‘mengais’ konten negatif lain seperti pornografi, terorisme, dan lainnya lho. Mengingat kemampuannya yang brilian ini, mesin Ais sebetulnya bisa berguna buat banyak instansi terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menelusuri invenstasi bodong, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam mencari konten berbau radikal, atau Badan Narkotika Nasional (BNN) saat ingin mencari penjualan narkoba daring.

3. Saat Kominfo sudah mengantongi kesimpulannya, apakah konten yang bersangkutan termasuk hoaks atau bukan, mereka akan menyalurkan infonya lewat laman web. Si pemohon bisa mengecek aduannya sendiri di sana

Masih mengandalkan tenaga manusia via inet.detik.com

Penggunaan mesin Ais ini sebetulnya baru langkah awal doang. Setelah udah ketahuan situs-situs apa aja yang mengandung konten negatif, selanjutnya tim verifikator yang terdiri dari manusia akan menentukan apakah situs itu pantas diblokir atau nggak. Kalau masalah hoaks, ya kesimpulan akhirnya akan menjawab apakah konten yang diperiksa termasuk hoaks atau bukan. Kalau betul hoaks, si pengadu akan mengetahui hasilnya itu lewat laman web trustpositif.kominfo.go.id. Tenang, kerahasiaan pengadu akan dijamin kok.

4. Hoaks itu bentuknya bermacam-macam lho. Ada yang beritanya bohong 100%, ada juga yang foto dan caption nggak sinkron

Bentuk hoax macam-macam via www.cnnindonesia.com

Hoaks itu bentuknya beragam ya guys! Nggak cuma berbentuk tulisan berita bohong aja, tapi juga foto, video, caption, chat di grup atau gabungan seluruhnya. Kayak misalnya ada unggahan yang menggambarkan kejadian baru tapi memakai foto lama, konten itu udah bisa disebut hoaks. Karena nggak ada sinkronisasi antara tulisan dan gambar yang mendukung.

Kemarin ada ramai-ramai foto FPI yang disebut hoaks. Menurut hasil penelusuran Kominfo, foto relawan FPI tersebut bukan diambil di Palu, melainkan di Sukabumi saat terjadi longsor 2015 lalu. Dibilang hoaks karena memang foto sama caption nggak nyambung. Fotonya lho yang hoaks, bukan aksi FPI-nya. Kalau dari keterangan banyak pihak, FPI memang turut membantu evakuasi korban di Palu. Sekali lagi yang hoaks itu fotonya, bukan aksinya ya.

5. Tapi sebetulnya orang awam kayak kita pun bisa mengecek sendiri kebenaran sebuah konten lewat fitur Google. Meski nggak secanggih mesin Ais, tapi setidaknya kita punya cara “emergency” buat memeriksa konten di internet

Cara simple pakai Google Image via www.tipsotricks.com

Sebetulnya cara paling gampang buat mengetahui apakah sebuah foto itu hoaks atau bukan bisa lewat fitur Google Image lho. Tinggal upload aja foto yang dimaksud, nanti bakal muncul tuh situs-situs mana aja yang pernah mencantumkan foto tersebut. Ya meski mungkin nggak secanggih mesin Ais punya Kominfo, tapi setidaknya kita punya cara darurat buat mengetes konten berbau hoaks. Kalau memang kurang puas, baru deh lapor ke Kominfo.

Serius deh, hoaks ini termasuk masalah krusial yang sayangnya masih banyak dipandang sebelah mata. Apalagi di saat-sata genting karena gaduh politik gini, banyak banget isu yang berakhir ‘digoreng’ suka-suka. Kalau kitanya nggak punya basis atau kepedulian sama hoaks, bakal gampang aja kemakan kabar-kabar bohong. Duh, semoga aja makin banyak orang melek literasi digital deh ya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya