Menghapus Stigma Negatif Kondom di Tengah Manfaatnya Bagi Kesehatan

Mendengar kata kondom, seringkali yang muncul di benak masyarakat adalah hal-hal negatif berkaitan dengan perzinaan dan seks bebas. Kemudahan membeli kondom sering dianggap sebagai kemudahan pula untuk menyalahgunakan alat kontrasepsi tersebut. Stigma negatif berkaitan dengan kondom memang nggak bisa dimungkiri karena kurangnya edukasi masyarakat terhadap alat kontrasepsi yang satu ini.

Advertisement

Belum lagi anggapan lain soal pencegahan kehamilan yang masih dibebankan pada wanita, sehingga keterlibatan pria menggunakan alat kontrasepsi masih cukup sedikit. Padahal, kondom yang banyak dijual di minimarket hingga apotek dengan harga yang murah itu memiliki banyak manfaat, tidak hanya sebagai pencegah kehamilan, tapi juga mencegah penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).

Stigma negatif terhadap kondom dari masyarakat dan penggunanya sendiri membuat edukasi berkaitan alat kontrasepsi ini menemui jalan terjal, terutama bagi pemerintah. Berikut ini lika-liku persoalan kondom di tengah masyarakat dan bagaimana kondom menjadi cukup penting bagi pencegahan PMS.

Alasan pria malas pakai kondom jadi bukti stigma negatif kondom juga datang dari penggunanya

stigma kondom

Pria malas pakai kondom | Foto oleh Pixabay dari Pexels

Bicara soal stigma negatif berkaitan tentang kondom memang nggak bisa dimungkiri menjadi salah satu alasan pria malas pakai kondom. Namun, di lain sisi kondom juga seringkali dianggap membuat aktivitas hubungan seksual jadi nggak nyaman. Bahkan, hal ini ada yang juga dirasakan oleh wanita. Seperti yang diungkap Dhani (31) yang menceritakan pendapatnya soal kondom pada Hipwee.

Advertisement

Aku nggak (pakai kondom). Pertama karena malas belinya, dilihat kayak orang nakal. Kedua karena jujur nggak enak, aneh juga, kan (berhubungannya) sama istri. Bukan cuma aku loh yang bilang, kata istri juga begitu,” ungkap Dhani.

Dhani dan sang istri menjadi salah satu pasangan dari sekian banyak pasangan yang sepakat nggak menggunakan kondom. Alasan Dhani, mungkin juga dirasakan pula oleh pria-pria lain yang menganggap kondom biasa digunakan oleh pasangan berkaitan dengan seks bebas. Sehingga, hubungan sah seperti suami dan istri dianggap nggak memerlukan kondom.

Anggapan tersebut sebenarnya nggak ada salahnya, apalagi penggunaan alat kontrasepsi berdasarkan kesepakatan dengan pasangan. Namun, stigma negatif terhadap kondom sendiri jelas masih melekat, nggak hanya pada masyarakat secara umum, tapi juga para pria sendiri yang menggunakannya.

Advertisement

Pengendalian kehamilan masih dianggap tanggung jawab wanita

stigma kondom

KB dianggap tanggung jawab perempuan | Foto oleh Cottonbro dari Pexels

Kondom sebagai alat kontrasepsi yang digunakan oleh pria nggak hanya mendapat anggapan-anggapan negatif, tapi juga dipandang sebagai hal yang nggak terlalu penting. Hal ini berkaitan dengan pandangan yang cukup banyak terjadi masyarakat bahwa pengendalian kehamilan dibebankan pada wanita.

Berdasarkan data BKKBN 2021, keterlibatan pria dalam penggunaan alat kontrasepsi kondom dan vasektomi sebagai metode Keluarga Berencana (KB) cukup sedikit, yakni pengguna kondom baru 3,27 persen dan vasektomi 0,5 persen. Kecilnya angka pengguna kontrasepsi pria ternyata nggak jauh dari anggapan bahwa KB biasanya dilakukan oleh wanita. Hal ini pula yang juga diungkap oleh Dhani. Ayah dua anak ini sepakat dengan sang istri untuk melakukan KB pil.

“Kalau istri kan punya banyak pilihan mau pakai apa, dia minum pil. Kalau dari sisi pria ya kondom itu kan yang paling gampang. Apalagi kebanyakan orang yang KB wanita, jadi kami mikirnya yaudah mau pil, suntik, atau IUD sekalian,”  tutur Dhani.

Namun, anggapan KB hanya dilakukan oleh wanita tentu nggak berlaku bagi semua pasangan. Ada yang menganggap bahwa kondom sebagai alat kontrasepsi juga menjadi bentuk tanggung jawab pria pada pasangan dengan memberikan perlindungan dari penularan PMS, yang jelas nggak bisa didapat dari alat kontrasepsi lainnya. Hal ini diungkap oleh Galang (32) yang menggunakan kondom karena merasa nggak mau membebani sang istri untuk melakukan KB.

“Aku pakai kondom, karena simpelnya itu paling gampang. Tapi sebenarnya ada rasa aku nih yang harus tanggung jawab, jadi nggak mau membebani pasangan, itu alasan utamanya. KB suntik, implan atau gitu-gitu menurutku repot,” kata Galang.

Sekali lagi, soal pemilihan alat kontrasepsi seperti Dhani dan Galang memang nggak ada yang salah. Hanya saja pandangan terhadap pengendalian kehamilan yang sebenarnya juga bisa diambil alih oleh pria, meski mayoritas saat ini memang dianggap sebagai kewajiban wanita. Kondom menjadi salah satu pilihan paling mudah dan aman bagi pria yang ingin ikut andil melakukan KB.

Stigma negatif terhadap kondom membuat pria yang benar-benar ingin pakai kondom jadi ragu

stigma kondom

Stigma kondom | Foto oleh Cottonbro dari Pexels

Stigma negatif kondom yang sering dikaitkan dengan perzinaan dan seks bebas memang cukup mengganggu bagi pria yang benar-benar mau menggunakan kondom. Pandangan aneh, menyelidik alias curiga kerap didapat para pria saat membeli kondom. Alhasil, mereka harus memilih toko yang sepi, bahkan mengintai jam-jam saat toko sepi, demi menghindari rasa malu saat beli kondom.

Hal ini nggak bisa dimungkiri seringkali membuat pria yang memang memakai kondom jadi harus punya cara sendiri untuk menghindari stigma negatif itu. Salah satunya yang sering dilakukan oleh Galang adalah membeli kondom di apotek ternama. Menurutnya pegawai apotek biasanya lebih teredukasi soal kondom, daripada toko-toko non medis biasa.

“Jujur sering risih sih (saat beli kondom). Harus cari cara, misal cari toko yang sepi, tapi lebih sering di apotek. Tapi ya tetep apotek yang punya nama, karena orang di sana kan udah pahamlah, lebih teredukasi soal kondom,” ungkap Galang.

Stigma negatif terhadap kondom memang cukup menjadi kendala besar untuk mengedukasi pentingnya penggunaan kondom. Bahkan, bagi orang-orang yang sudah teredukasi dan menyadari manfaat kondom pun masih sering mendapatkan stigma negatif tersebut yang membuat mereka merasa risih, bahkan malu, hingga harus punya siasat tersendiri saat membeli kondom.

Alasan kondom menjadi alat kontrasepsi yang aman dan bermanfaat bagi kesehatan

stigma kondom

Manfaat kondom | Foto oleh Nataliya Vaitkevich dari Pexels

Lika-liku kondom untuk diterima masyarakat di tengah stigma negatifnya memang menjadi tantangan besar bagi pencegahan penyakit menular seksual. Padahal, selain untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, kondom memiliki cukup banyak manfaat bagi kesehatan di antaranya:

  • Nggak berpengaruh terhadap hormon wanita

Kondom menjadi alat kontrasepsi yang sangat minim efek samping, karena nggak mempengaruhi produksi hormon pada wanita. Apalagi ada wanita yang nggak cocok dengan KB hormonal seperti pil, suntik, dan implan.

  • Mencegah  penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual seperti HIV, gonore, herpes, sifilis, dan sebagainya bisa terjadi melalui kelamin. Penggunaan kondom bisa mencegah penularan ini ketika berhubungan seksual. Sehingga kondom memang menjadi alat kontrasepsi yang sehat dan higienis.

  • Menjaga ereksi lebih lama sehingga meningkatkan kualitas hubungan seksual

Bagi pria yang kesulitan mempertahankan ereksi, kondom bisa sangat bermanfaat karena membantu mempertahankan ereksi lebih lama. Sehingga selain memberikan perlindungan, kondom juga memberikan kepuasan hubungan seksual karena durasinya bisa lebih lama. Apalagi kondom memiliki berbagai variaso benruk dan tekstur yang bisa meningkatkan kualitas hubungan seksual.

  • Praktis, mudah didapat dan harganya terjangkau

Kondom menjadi alat kontrasepsi yang paling mudah didapat karena bisa dibeli di minimarket hingga apotek. Secara harga pun cukup murah dan mudah digunakan.

Mengingat manfaat kondom yang cukup banyak daripada alat kontrasepsi lainnya, memang sangat disayangkan jika stigma negatif terhadap kondom itu sendiri justru menghalangi para pria untuk menggunakan kondom. Nah, selain butuh kesadaran mengenai manfaat kondom, edukasi di masyarakat juga sangat penting untuk menghilangkan stigma negatif itu. Namun, demi kesehatan seksual, stigma negatif tersebut bukan menjadi halangan yang berarti untuk para pria nggunakan kondom.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Penikmat buku dan perjalanan

CLOSE