Survei Membuktikan, 25 Persen Milenial Akui Tak Punya Teman. Mereka Jadi Generasi Paling Kesepian

Milenial tak punya teman

Generasi milenial, atau mereka yang lahir kira-kira antara tahun 1980 sampai pertengahan 1990-an, adalah generasi yang ikut tumbuh bersama teknologi dan internet. Generasi ini mengalami semua fase perkembangannya, mulai saat internet cuma bisa diakses lewat warnet atau ruang TI di sekolah, sampai sekarang internet sudah ada di mana-mana, bahkan dalam genggaman sekalipun. Milenial juga sempat menikmati yang namanya MXit, Mig33, atau E-buddy, aplikasi chatting yang berkembang tahun 2000-an awal, sebelum ada WhatsApp, Line, dan kawan-kawannya.

Secara teori, internet memang akan memudahkan orang saling terhubung satu sama lain. Jarak yang jauh akan terasa dekat dengan internet. Kangen keluarga tinggal telepon, butuh meeting dengan kolega di pulau seberang tinggal video call, pokoknya komunikasi jadi serba mudah. Tapi tahukah kalian, meski milenial disebut fasih berinternet, ternyata menurut survei mereka justru termasuk generasi paling kesepian lo, bahkan 25 persen dari keseluruhan responden mengaku tak punya teman! Sedih nggak sih…

Media sosial memang membuat kita saling terhubung, tapi penelitian yang dilakukan YouGov justru membuktikan sebaliknya. Generasi milenial disebut jadi generasi paling kesepian

Milenial dibanding generasi-generasi lainnya via www.dailymail.co.uk

Advertisement

YouGov mengumpulkan 1.200 responden berusia 18 ke atas (campuran antara milenial, generasi X, dan baby boomers). Dari penelitiannya mereka menemukan sebanyak 30 persen milenial ternyata merasa kesepian, sementara hanya 15 persen baby boomers dan 20 persen generasi X yang mengaku tidak punya teman. Dari seluruh responden milenialnya, seperempat di antaranya mengatakan nggak punya kenalan, 22 persen nggak punya teman dekat, dan 30 persen nggak punya sahabat. Mirisnya, lumayan banyak yang merasa mereka nggak butuh teman.

Penyebab mirisnya kehidupan sosial milenial ini diduga (dan yang paling kuat) mengarah ke penggunaan media sosial. Ternyata di balik kemudahan yang ditawarkan medsos, kita pun jadi berpotensi mengalami kesepian!

Hati-hati bagi yang nggak bisa lepas dari gadget via nypost.com

Penelitian YouGov merujuk ke studi yang pernah dilakukan di University of Pennsylvania. Dalam studi itu disebutkan kalau fakta miris kehidupan sosial milenial itu ada hubungannya sama penggunaan media sosial. Medsos, selain menyajikan kemudahan –kemudahan berkomunikasi, berekspresi, atau mencari inspirasi– ternyata juga menyimpan dampak buruk. Ia dipercaya dapat meningkatkan risiko depresi hingga kesepian. Instagram sampai memutuskan menghapus fitur like di platform-nya untuk menghentikan perilaku kompetitif penggunanya. Segitunya lo!

Padahal kesepian sama buruknya seperti merokok satu bungkus per hari. Kodratnya memang manusia itu jadi makhluk sosial yang saling berinteraksi langsung satu sama lain, bukan cuma terhubung lewat gadget

Sama bahayanya dengan merokok sebungkus sehari via www.cosmopolitan.in

Kalau dipikir-pikir semenjak ada internet, orang memang jadi lebih individualis –mungkin termasuk kamu juga. Daripada bersosialisasi, kebanyakan lebih memilih gegoleran di kamar, mendengarkan musik, sambil scrolling Instagram. Setiap harus menunggu, mayoritas juga pasti akan sibuk dengan gadget masing-masing ketimbang harus repot-repot cari topik obrolan dan basa-basi ke orang sebelah.

Advertisement

Hati-hati ya kalau kamu termasuk golongan gadget-freak, karena bisa jadi dalam lubuk hatimu terdalam kamu justru merasa kesepian. Pasalnya ada penelitian yang bilang kalau kesepian itu lebih buruk dari merokok 15 batang sehari! Serius lo, ini beneran nggak main-main. Kalau parah, dampaknya bisa ke gangguan mental hingga memicu bunuh diri. Jadi, demi kesehatan mental lebih terjaga, yuk, mulai kurangi penggunaan internet dan media sosial. Kalau perlu bikin jadwal buat “puasa” medsos setiap seminggu sekali, atau berapa pun yang menurutmu bisa membantumu tetap waras~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE