Mendengar kata Suriah, rasanya cuma sesak di dada yang terasa. Negara yang terletak di Timur Tengah itu menyimpan sejuta cerita duka karena tragedi kemanusiaan yang tak habis-habis terjadi sejak 2012 lalu. Entah sudah berapa ribu nyawa melayang karenanya. Jutaan orang juga terpaksa kehilangan pekerjaannya. Pun dengan anak-anak di sana, yang harus rela tak mengenyam pendidikan layak. Jangankan sekolah, untuk makan saja mereka kesusahan. Akibat konflik ini, jutaan orang pengungsi Suriah tersebar ke berbagai penjuru. Menurut UNHCR, jumlah pengungsi ini adalah yang terbesar setelah Perang Dunia II.

Dilaporkan CNN, Senin (19/02) kemarin, terjadi pengeboman di sebuah daerah di Suriah, bernama Ghouta Timur. Seolah tak cukup, kondisi ini juga diperparah dengan tembakan yang terus dilontarkan oleh pasukan pemberontak. Lebih dari 100 orang dikabarkan telah meregang nyawa karena tragedi ini, termasuk anak-anak. Kondisi Ghouta Timur jelas tak bisa hanya digambarkan dengan kata-kata. Penderitaan masyarakat di sana pun tak bisa dipandang sebelah mata.

Advertisement

Meski banyak orang yang tidak tega melihat begitu banyak orang terluka, menangis, dan kehilangan keluarga di sana, tapi kita tetap tak boleh menutup mata dan telinga untuk tragedi kemanusiaan satu ini. Sebenarnya kita bisa saja membuat foto yang sudah diburamkan. Namun, di sisi lain, kita juga ingin menunjukkan potret nyata neraka di bumi yang kini jelas-jelas terjadi di Suriah dan dirasakan sendiri oleh saudara kita. Jadi daripada kamu terusik dengan gambar berdarah-darah, lebih baik baca sampai di sini saja.

1. Di usia yang sekecil ini, anak-anak di Suriah sudah harus dihadapkan dengan kenyataan pahit dalam hidupnya. Tak ada mainan apalagi hiburan di sekelilingnya

Di usia seperti ini seharusnya mereka sibuk sekolah dan bermain bersama teman-teman, tapi keadaannya justru sangat bertolak belakang via edition.cnn.com

2. Bahkan tak sedikit mereka yang harus terluka hingga kehilangan bagian tubuhnya, karena serangan bom dimana-mana. Jelas bukan potret kehidupan ideal bagi anak-anak seusia ini

Bocah 12 tahun saat menunggu perawatan di rumah sakit di Kafr Batna via edition.cnn.com

3. Hanya tangis yang bisa mereka tunjukkan. Tak ada senyuman apalagi tawa. Anak mana yang minta dilahirkan di dunia yang kejam seperti ini?

Anak-anak yang terluka di rumah sakit di Douma via edition.cnn.com

4. Pengeboman ini kabarnya adalah rangkaian dari serangan besar yang ditujukan kepada oposisi terhadap Presiden Suriah Bassar Al-Ashad

Tak hanya anak-anak, orang dewasa juga banyak yang jadi korban via edition.cnn.com

5. Ghouta Timur sudah sejak beberapa tahun dikuasai para pemberontak, membuat ratusan ribu anak terkepung di sana

Anak dengan perban putih melilit di kepala dan berdarah seperti ini sudah jadi pemandangan biasa di Suriah via edition.cnn.com

6. Banyak fasilitas medis yang diserang. Penanganan korban perang menjadi terhambat. Tak kaget jika kemudian banyak nyawa melayang

Seorang anak terluka di bagian kepala akibat serangan di Desa Mesraba via edition.cnn.com

7. Rentetan penyerangan brutal ini belum pernah menemui titik terangnya. Para pemimpin dunia seolah bungkam dengan kondisi memilukan ini

Harus berapa nyawa lagi yang melayang agar konflik ini lekas usai? via edition.cnn.com

8. Meski termasuk golongan yang selamat, tapi hidup anak-anak ini tetap tak akan pernah nyaman. Dunia tak lagi sama

Tiga anak menangis meratapi nasib mereka via edition.cnn.com

9. Bahkan bayi pun tak bisa terhindar dari pengeboman ini. Tak pernah terbayangkan, bagaimana bisa makhluk sekecil itu sudah harus menerima kenyataan pahit seperti ini

Bayi yang dirawat di rumah sakit di Douma via edition.cnn.com

10. Konflik Suriah ini jadi tragedi kemanusiaan terbesar abad 21. Hingga kini banyak spekulasi mengenai apa faktor yang melatarbelakanginya

Pemandangan yang biasa terjadi di Suriah via edition.cnn.com

11. Entah harus berapa banyak lagi orang yang kehilangan keluarganya, sampai konflik ini benar-benar bisa diakhiri

Seorang pria yang menangis sambil memeluk anaknya yang telah tiada via edition.cnn.com

Selain dicekam keadaan genting karena terus dihujani bom, warga di sana juga harus berkutat dengan rasa lapar yang melanda mereka. Bahan makanan yang langka bahkan membuat harga kebutuhan pokok di sana melonjak fantastis, bahkan mencapai 22 kali lipat dari harga biasanya. Anak-anak tak bisa terhindar dari penderitaan gizi buruk. Bantuan internasional sulit masuk karena situasi yang masih tidak kondusif. Tak bisakah pihak yang berseteru berhenti demi generasi penerus yang jumlahnya makin tergerus ini?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya