Bu Halimah dan Virus Corona: Ibu Pedagang di Pasar yang Tetap Berjualan Meski Wabah Menerjang

Pedagang pasar dan virus corona

Kita yang punya privilege untuk bekerja di rumah sudah semestinya banyak bersyukur. Rasa ‘aman’ dari infeksi virus corona masih dapat kita rasakan. Kadang kita lupa, di tengah rasa aman yang kita rasakan masih ada orang-orang yang terpaksa pergi bekerja di luar rumah. Semua mereka lakukan demi menghidupi keluarganya. Seorang ibu pedagang di sebuah pasar di Kota Bandung, membagi kisahnya kepada Hipwee…

Advertisement

Halimah adalah seorang ibu dari tiga orang anak, sekaligus pedagang jajanan yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun. Dari awal ia memulai usahanya, ia selalu pergi selepas subuh dan pulang saat petang datang. Ia menjual barang dagangannya untuk kantin-kantin sekolah, warung rumahan, kantin rumah sakit dan pedagang asongan.

Penghasilan harian dari berjualan jajanan tersebut membuat bu Halimah dapat menyekolahkan semua buah hatinya. Biaya sehari-hari pun dapat tertutupi. Meski bekerja dengan jam yang panjang dan seringkali kelelahan ia menikmati pekerjaan yang telah ia jalani selama dua dekade tersebut.

Pada bulan Januari lalu, Bu Halimah menonton berita di televisi selepas berjualan. Dari berita yang disaksikannya ia tahu informasi tentang virus corona yang menyebar di Cina. Seperti kebanyakan orang-orang, saat itu Ibu Halimah masih acuh. Kehidupannya masih berjalan normal dan bisa mencari penghidupan dengan rasa aman.

Advertisement

Siapa yang menyangka, virus yang dua bulan lalu masih ada di Cina, kini sudah ada di kota tempatnya tinggal. Semenjak presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama yang terjangkit virus corona, Bu Halimah mulai khawatir dan ketakutan. Rasa khawatirnya semakin bertambah setelah ia menyaksikan pasar tempatnya berjualan disemprot disinfektan oleh petugas yang mengenakan APD.

“Ibu langsung takut pas lihat ada petugas medis yang pakai baju kaya di televisi-televisi datang dan nyemprot pasar. Apalagi di kelurahan sini, katanya ada 5 orang yang statusnya dalam pemantauan. Ibu takut berjualan dan langsung pulang,” ujarnya.

Advertisement

Meski merasa takut dan khawatir tertular, keesokan harinya Bu Halimah dan suaminya tetap berjualan seperti biasa. Mereka terpaksa tetap pergi ke pasar karena tuntutan hidup. Efek dari penyebaran virus di kota Bandung serta kebijakan social distancing yang dikeluarkan pemerintah berdampak pada penghasilan sehari-hari Bu Halimah.

“Pendapatan jadi berkurang. Kan sekolah diliburin, otomatis kantin-kantin sekolah nggak order belanjaan, rumah sakit masih order sedikit-sedikit. Warung-warung rumahan juga ngurangin jumlah belanjaannya. Yang paling kasihan itu pedagang asongan, mereka tetep jualan di jalanan meski sepi.”

Rasa khawatir bu Halimah membuat ia dan suaminya mengikuti anjuran dari pemerintah. Selama berjualan, bu Halimah dan sang suami mengenakan masker yang ia dapat dari pelanggannya yang bekerja di rumah sakit. Ia juga menyediakan hand sanitizer. Mengajurkan para pelanggannya untuk membasuh tangan mereka sebelum dan setelah transaksi.

Nggak cuma melakukan upaya pencegahan, lebih jauh Bu Halimah kini menerima pesanan lewat WhatsApp agar pelanggannya dapat berbelanja tanpa harus pergi ke pasar. Namun hal ini kurang efektif mengingat kebanyakan orang yang berbelanja di pasar itu orang-orang tua yang nggak mengerti teknologi.

“Ya, Ibu, suami dan satu pegawai sekarang pakai masker kalau lagi dagang. Ibu dikasih sama langganan yang kerja di rumah sakit. Bapak juga keliling ke apotik buat nyari hand sanitizer. Allhamdulillah dapet. Jadi seengaknya aman. Pembeli yang datang harus basuh tangan dulu pake hand sanitizer. Ibu juga sekarang buka orderan lewat WA, tapi nggak banyak sih soalnya yang belanja kebanyakan orang tua yang nggak melek teknologi.”

Lebih jauh, Halimah bercerita tentang keacuhan pedagang lain di pasar tempatnya berjualan. Meski mereka tahu di daerah tersebut sudah ada 5 orang ODP, para pedagang lain nggak melakukan pencegahan seperti yang dilakukannya. Justru bu Halimah dan suaminya disebut berlebihan dan ditertawakan oleh pedagang lain.

“Iya banyak pedagang yang menganggap ibu dan bapak berlebihan gara-gara pakai masker. Kami malah disangka nantangin virus corona. Padahal ibu sama bapak cuman pengen aman dan takut ketularan. Kalau udah ketularan kan nggak ada obatnya.”

Meski begitu Bu Halimah nggak menggubris perkataan orang lain tentang kewasapadaan dan tindak pencegahannya. Menurutnya pasar itu tempat yang sensitif untuk berdebat perihal apapun. Terakhir, Bu Halimah berharap pemerintah dapat menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia sangat ingin pulang ke kampung halamannya, berkumpul bersama sanak saudara dan mengunjungi makam ibunya.

Semangat terus Bu Halimah. Semoga rezekinya lancar dan Ibu sekeluarga diberi kesehatan ya!

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An amateur writer.

CLOSE