Pelajar SD dan SMP di Surabaya Dibebaskan dari PR, Fokus pada Pembentukan Karakter

Pekerjaan rumah (PR) menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sekolah. Rasanya hampir setiap hari para siswa pulang ke rumah dengan membawa sejumlah tugas sekolah yang harus mereka selesaikan. Tujuannya baik, yakni untuk mengasah kemampuan mereka dalam memahami materi yang udah diajarkan di sekolah. Namun, di satu sisi PR juga disebut bisa membuat para siswa terbebani dan nggak punya waktu untuk bersosialisasi.

Advertisement

Bermula dari dua alasan tadi, Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengeluarkan aturan untuk menghapuskan pemberian PR kepada siswa SD dan SMP di kotanya. Tujuannya agar para siswa itu lebih punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas lain di rumah atau lingkungan sekitar tanpa terbebani oleh tugas sekolah. Meskipun begitu, masih ada pro kontra dari pihak orang tua soal aturan ini.

Pemerintah Kota Surabaya ingin lebih fokus pada pembentukan karakter anak. Selain meniadakan PR, jam belajar di sekolah pun dikurangi

Photo by Greg Rosenke on Unsplash

Mulai 10 November 2022, seluruh siswa SD dan SMP di Surabaya dibebaskan dari PR sekolah. Seluruh kegiatan belajar mengajar harus diselesaikan saat jam sekolah sehingga para siswa nggak terbebani lagi ketika pulang ke rumah. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi bilang kalau PR itu nggak boleh membebani siswa secara jumlah maupun materi yang ditugaskan.

“Sebenarnya PR itu jangan membebani anak, yang saya ubah PR itu pembentukan jiwa karakter. Kalaupun ada, tidak berat, tidak banyak, hanya mengingatkan. (Peraturan ini berlaku mulai) 10 November, Hari Pahlawan,” kata Eri, Rabu (19/10) dilansir dari Suara Surabaya.

Advertisement

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh. Ia bilang penghapusan PR itu untuk mengurangi beban belajar siswa yang udah diberikan dari sekolah sehingga siswa pulang ke rumah dengan lebih menyenangkan.

“Biar anak tidak terbebani di rumah, kalau orang tua tidak bisa mendampingi kan repot,” kata Yusuf, dilansir dari Detik Jatim.

Advertisement

Nah, waktu yang biasanya dipakai siswa untuk mengerjakan PR di rumah nantinya bisa mereka gunakan untuk melakukan aktivitas lain yang diharapkan berfokus pada pembentukan karakter mereka. Sepertinya halnya membantu orang tua, melakukan kegiatan keagamaan seperti mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), hingga bersosialisasi dengan tetangga di sekitar.

Yusuf juga menegaskan penghapusan PR ini bukan berarti membuat siswa jadi sama sekali nggak belajar di rumah. Mereka tetap akan membaca ulang materi pelajaran yang diajarkan di kelas, tapi fokusnya lebih pada pemahaman. Dalam hal ini, peran orang tua sangat diperlukan untuk mendampingi si anak.

Selain meniadakan PR, Dispendik Surabaya juga akan mengurangi jam belajar di sekolah. Awalnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah berakhir pukul 14.00. Nantinya akan dibatasi hanya sampai pukul 12.00. Dua jam yang dipotong itu akan dialihkan untuk kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk pengembangan karakter. Dispendik masih akan merencanakan lebih detail soal kegiatan ekstra yang akan dilakukan siswa.

Peraturan penghapusan PR tampaknya seperti angin segar bagi kebanyakan siswa. Namun, aturan ini memicu pro kontra di kalangan orang tua

Photo by August de Richelieu from Pexels

Dilansir dari Detik Jatim, para orang tua punya pandangan sendiri soal rencana pemberlakuan penghapusan PR ini. Orang tua yang nggak setuju kalau PR dihapuskan berpendapat kalau aturan demikian nggak cocok diterapkan di sekolah yang belum menggunakan sistem full day school. Dengan demikian, anak mereka punya banyak waktu luang di rumah. Selama ini adanya PR dari sekolah membantu menyeimbangkan antara waktu bermain dan belajar.

Selain itu, orang tua lebih setuju kalau jumlah PR dikurangi saja, bukan ditiadakan. Menurut mereka, pemberian PR itu berguna banget untuk menstimulus otak anak untuk berfikir.

Sebagai informasi, sistem full day school itu menerapkan kegiatan belajar mengajar selama delapan jam dari hari Senin sampai Jumat. Biasanya mulai dari pukul 06.45 sampai pukul 15.30 dan istirahat setiap dua jam sekali.

Orang tua yang anaknya bersekolah dengan sistem full day school cenderung lebih setuju dengan peraturan ini. Mereka menilai kalau waktu delapan jam di sekolah udah sangat menguras tenaga dan pikiran anak mereka. Sehingga, kalau masih diberi PR lagi untuk dikerjakan di rumah, mereka nggak punya waktu untuk rileks dan istirahat.

Nah, kalau menurutmu gimana nih SoHip? Setuju nggak kalau para siswa dibebaskan dari PR?

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE