Penampakan Bungkus Indomie 19 Tahun Lalu Ini Bikin Miris. Sampah Jadul Tapi Masih Begitu ‘Sempurna’

Bungkus Indomie 19 tahun lalu

Foto sebuah bungkus Indomie jadul dari 19 tahun lalu, datang dengan membawa misi. Sang uploader dari akun Twitter @selfeeani, bukan cuma sekadar ingin nostalgia masa lalu saja tapi renungan kenapa bungkus plastik ini bisa tetap utuh terombang-ambing di lautan selama hampir dua dekade.

Advertisement

Kalau nasib semua bungkus Indomie di negeri ini kayak gitu, bisa bayangkan nggak berapa jumlah sampah Indomie yang belum menemui ‘ajal’-nya terombang-ambing mengotori laut atau teronggok di jalanan? Itu baru ngomongin satu merek doang, gimana coba bungkus-bungkus lainnya…

Bungkus Indomie jadul edisi ultah Indonesia 19 tahun lalu ini dikabarkan ditemukan di Sendang Biru, Malang. Kondisinya masih utuh, tidak terurai sedikit pun

Utuh tanpa cela meski udah hampir 20 tahun, cuma paling robek sedikit dan warnanya pudar via regional.kompas.com

Penemuan bungkus-bungkus jadul produk makanan, sampo, sabun, air mineral, dan lain sebagainya, sebenarnya bukan peristiwa langka. Apa yang membuat penemuan bungkus Indomie kemarin spesial dan viral, mungkin adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penemunya. Fianisa Tiara Pradani, pemiliki akun @selfeeani, menemukan sampah plastik jadul itu ketika sedang meneliti sampel air dan sedimentasi di Sendang Biru, Malang, Jawa Timur, dikutip Kompas

Karena menemukan banyak sampah di laut dan sekitar pantai, mahasiswi Studi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (UB) ini malah jadi sekalian melakukan aksi bersih-bersih pantai. Salah satunya adalah sampah bungkus Indomie yang ditemukan dalam kondisi hampir tanpa cela, walaupun usianya sudah 19 tahun. Padahal menurutnya, kondisi sampah di Pantai Sendang Biru ini tidak separah pantai-pantai lainnya lo. Besar kemungkinan di tempat lain, mirisnya kita juga masih bisa menemukan sampah-sampah plastik lain yang lebih jadul dan historis…

Hanya dalam waktu beberapa jam saja, postingan itu langsung viral sampai di-retweet oleh Bu Susi. Berarti banyak yang sadar kalau ini masalah serius banget, tapi belum banyak orang yang bertindak

Indonesia itu memang penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia via www.cnbcindonesia.com

Postingan Fia di atas langsung jadi viral hanya dalam waktu beberapa jam. Kebanyakan orang ikutan miris dengan betapa ‘sempurna’-nya penampakan sampah plastik dari 19 tahun lalu. Bukan cuma viral di kalangan netizen, postingan ini bahkan sampai di-retweet oleh Menteri Perikanan dan Kelautan Indonesia, Bu Susi Pudjiastuti.

Mungkin semua orang juga sebenarnya tahu betapa sulitnya sampah plastik terurai, tapi ketika ada bukti nyata yang tak tebantahkan seperti itu, kita jelas tak lagi bisa pura-pura abai. Apalagi negeri kita ini merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di Indonesia lo. Memalukan sih, tapi itu fakta yang harus terus kita ingat…

Maka dari itu sudah saatnya kita memikirkan nasib hubungan manusia dan plastik di masa depan. Selama ini kita terlalu terlena dengan kenyamanan berbagai produk plastik sekali pakai, sampai tak sadar bumi ini diam-diam terkubur sampah

Advertisement

Banyak sampah tak terurai yang selama ini memberikan kita kenyamanan via www.nationalobserver.com

Masyarakat modern seperti kita tampaknya terlalu terlena dengan kenyamanan yang diberikan oleh berbagai produk plastik sekali pakai seperti tas kresek, cup take away, botol air mineral, sampai popok bayi. Namun tanpa banyak disadari, kenyamanan itu sebenarnya punya harga yang sangat mahal. Sampah-sampah produk plastik atau styrofoam yang cuma sekali dipakai, akan terus teronggok di berbagai tempat di bumi ini sampai puluhan atau ratusan tahun lamanya.

Padahal penduduk bumi juga tambah banyak lo, kita pun harus berbagi lahan dengan jumlah sampah yang makin menumpuk. Ke depannya, mengurangi ketergantungan manusia dengan plastik adalah prioritas utama yang harus segera kita lakukan.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE