Siapa sih yang tidak tahu bahaya atau dampak buruk merokok? Dari ajaran guru sewaktu sekolah, poster-poster instansi kesehatan, sampai peringatan yang tertera di bungkus rokok itu sendiri, kita berulang kali diajari betapa mengerikannya risiko merokok seperti penyakit jantung dan kanker paru-paru. Namun sayangnya, banyak juga orang yang tampaknya memilih untuk hirau. Ya asal tidak merugikan orang lain, ‘kan tidak apa-apa — mungkin begitu cara pikir perokok. Tapi ternyata mindset itu jelas tidak cukup, teruma untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif merokok.

Lihat saja bagaimana Indonesia berkembang jadi salah satu negara dengan angka perokok muda terbanyak di dunia saat ini. Kenyataan pahit tersebut sebagian besar disebabkan oleh banyaknya pengaruh dan ‘jejak’ rokok di lingkungan terdekat, baik dalam keluarga atau lingkungan pergaulan. Nah penelitian terbaru dari Universitas Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detik, ternyata mengungkapkan realita yang lebih menyedihkan, bahwa anak-anak yang tidak berubah jadi perokok sekalipun akan mengalami masalah tumbuh kembang jika orangtuanya merokok.  Penelitian itu menyimpulkan bahwa anak dari perokok berisiko akan menjadi lebih pendek dibanding anak-anak yang orangtuanya tidak merokok. Kok bisa ya? Nah, kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum informasinya buat kamu. Simak bareng deh…

Peneliti dari Universitas Indonesia ungkap dampak secara tidak langsung dari perilaku merokok orangtua terhadap tumbuh kembang anaknya

Dampak tidak langsung perilaku merokok terhadap anak via aceh.tribunnews.com

Advertisement

Meskipun tidak berdampak secara langsung, tapi hasil riset yang dijadikan rujukan Teguh Dartanto dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) ini cukup masuk akal. Ia menggunakan data tahun 1993-2014 dari Survei Ekonomi Nasional (Susenas) yang menyatakan kalau anak-anak yang orangtuanya merokok, rata-rata punya berat 1,3 kg lebih rendah dan tinggi 1,3 cm lebih pendek dari anak-anak yang orangtuanya tidak merokok. Faktor lain seperti genetik juga sudah diperhitungkan. Intinya, terbukti kalau dampak dari rokok tidak hanya dirasakan perokoknya, tapi juga orang lain, terutama keluarga dekat.

Menurut Teguh, perilaku merokok ini bisa memengaruhi kualitas makanan yang dikonsumsi anak-anaknya. Inilah yang jadi sebab utama si anak tumbuh di bawah rata-rata

Salah satu faktor pendorong dari kurangnya gizi anak-anak di negara berkembang via indianexpress.com

Orang yang aktif merokok biasanya akan menomorduakan kepentingan lain walaupun itu jauh lebih penting, seperti kebutuhan pangan. Teguh mengatakan, ketika orangtua membelanjakan uangnya untuk rokok, konsumsi makanan harian keluarga cenderung dinomorduakan. Padahal anak butuh asupan makanan bergizi agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal. Sekalipun harga rokok naik, selama masih dalam jangkauan, rata-rata keluarga perokok akan mengorbankan dana belanja makanan bergizi untuk rokok. Fakta ini diungkap peneliti lain dari Lembaga Demografi UI, Triasih Djutaharta.

Padahal di Indonesia sendiri, angka stunting atau gangguan pertumbuhan anak-anak memang sedang di level darurat. Jangan-jangan tingginya konsumsi rokok di kalangan ekonomi menengah ke bawah ini, jadi salah satu faktor penyebabnya ya?

Anak-anak Indonesia tambah pendek, jumlah stunting di Indonesia masih tinggi via www.industry.co.id

“Stunting adalah kondisi ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan yang menyebabkan ia punya tubuh lebih pendek dibanding teman-teman seusianya.”

Advertisement

World Health Organization (WHO) menetapkan batas toleransi stunting sebesar 20% dari keseluruhan jumlah balita di suatu negara. Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 menunjukkan kalau jumlah balita stunting di Indonesia ternyata masih sebesar 29,6%, lebih dari standar WHO. Stunting tidak hanya soal tubuh yang tumbuh lebih pendek, melainkan juga soal kekurangan gizi dan keterlambatan otak berpikir. Masalah ini jelas bisa merenggut masa depan bangsa. Bayangkan aja kalau kualitas generasi penerus bangsa menurun hanya karena stunting.

Bisa jadi tingginya jumlah anak stunting di Indonesia ini memang dipengaruhi sama perilaku konsumsi rokok yang juga masih tinggi. Orang dewasa masih banyak yang kecanduan rokok, menganggap rokok sebagai kebutuhan pokok. Padahal banyak yang jauh lebih utama, salah satunya pangan.

Kalau masih banyak orangtua yang mendahulukan biaya rokok dibanding perbaikan gizi anak-anak, masa depan generasi penerus di negara ini jelas terlihat suram

Intinya ada di asupan gizi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan via bisnisbandung.com

Kalau sudah kecanduan, berhenti merokok memang bukan perkara mudah. Tetapi ‘budget‘ merokok tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang lumrah atau bahkan diprioritaskan di atas kebutuhan-kebutuhan pokok lain. Dilema menyedihkan ini sayangnya masih banyak ditemui di kalangan ekonomi menengah ke bawah di Indonesia. Alhasil, anak-anak yang jadi korbannya. Bukan hanya terpengaruh menjadi perokok seperti orangtuanya, tetapi juga tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai karena pola konsumsi orangtuanya yang lebih memilih beli rokok daripada tambahan buah-buahan.

Duh, semoga aja segera ada penanganan konkret dari pemerintah soal ini ya, mengingat masa depan bangsa ada di tangan anak-anak juga~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya