Kupas Tuntas ‘Social Distancing’, Istilah yang Sering Muncul di Tengah Wabah Virus Corona

Pengertian social distancing

Social distancing jadi pembahasan yang lagi hangat-hangatnya di tengah wabah virus corona yang terjadi di seluruh dunia ini. Selain menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan sesuai pedoman yang benar, social distancing juga bisa membantu persebaran virus corona nggak semakin menjadi-jadi. Pemerintah kita pun sudah mengeluarkan imbauan soal ini, agar kita semua bisa #JagaJarakSejenak hingga wabah ini bisa terkendali.

Advertisement

Namun sayangnya, sebagian orang masih belum benar-benar memahami apa itu social distancing. Penerapannya di Jakarta juga masih amburadul. Di samping kita sendiri masih awam sama istilah ini, koordinasi setiap instansi atau pihak terkait juga masih kurang sekali. Kali ini Hipwee mencoba mengajak kalian memahami lebih dalam soal istilah yang lagi populer dan masih akan terus populer sampai beberapa waktu ke depan ini. Simak bareng, yuk, biar bisa sama-sama mempraktikkan!

Mari kita bahas dari definisinya dulu~

Social distancing via www.verywellmind.com

Social distancing adalah salah satu strategi yang digunakan di ranah kesehatan untuk memperlambat persebaran suatu infeksi patogen seperti virus. Banyak tindakan yang termasuk dalam social distancing ini, seperti:

  1. Membatasi interaksi fisik dengan orang lain
  2. Mengisolasi orang yang terinfeksi
  3. Mengarantina orang-orang yang mungkin telah terinfeksi
  4. Menjaga jarak satu sama lain secara umum
Advertisement

Social distancing sangat penting diterapkan di tengah pandemi yang sedang berlangsung seperti sekarang ini, sebab belum ada vaksin yang bisa melindungi orang dari virus corona. Fokus ahli kesehatan dunia saat ini adalah memperlambat laju persebaran dari virus corona, karena dengan begitu jumlah kasusnya juga bisa ditekan.

Pasalnya seringkali suatu wabah memuncak karena tenaga medis dan fasilitas-fasilitas kesehatan kewalahan menghadapinya. Padahal sebenarnya kemungkinan sembuh dari penyakit itu cukup besar asal mendapat perawatan yang memadai. Pasien kasus corona ini juga banyak yang meninggal hanya karena kesulitan menemukan rumah sakit yang masih menerima pasien. Makanya, social distancing menjadi sangat penting di saat situasi genting kayak gini…

Social distancing nggak cuma sebatas kita berdiam diri di rumah aja. Dalam skala yang lebih besar, membatalkan acara-acara penting, atau menutup tempat wisata juga termasuk social distancing

Menutup tempat wisata juga termasuk social distancing via www.latimes.com

Advertisement

Mungkin bagi kita yang cuma sekadar tahu, social distancing itu hanya perkara berdiam diri di rumah aja. Padahal sebenarnya lebih luas dari itu. Social distancing adalah ketika NBA musim ini terpaksa ditiadakan. Social distancing juga termasuk ketika pemerintah DKI Jakarta memutuskan menutup tempat-tempat wisata selama wabah ini masih berlangsung, atau sejumlah konser artis luar negeri yang juga mesti ditunda penyelenggaraannya.

Sayangnya, di Indonesia sendiri social distancing masih sulit diterapkan. Mungkin karena masyarakat masih awam juga sama istilah ini ya

Di media sosial ramai foto-foto yang menunjukkan antrean mengular di halte transjakarta dan stasiun KRL atau MRT, Senin (16 Maret) ini. Antrean terjadi karena perusahaan penyedia layanan transportasi itu menerapkan social distancing dengan membatasi jumlah armada bus dan membatasi penumpang di tiap gerbong.

Mungkin karena kurang koordinasi, mengingat aktivitas masyarakat di Jakarta masih berjalan seperti biasa, pegawai-pegawai masih pada masuk (walau sudah ada beberapa yang menerapkan WFH –lagipula nggak semua sektor bisa dikerjakan dari rumah). Jadinya kebijakan yang niatnya baik itu jatuhnya nggak tepat sasaran, karena malah memicu terjadinya kerumunan, orang saling berdekatan, berinteraksi, virus juga makin mungkin menyebar.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menerapkan social distancing ini?

Dilansir dari Forbes, ada sejumlah cara yang bisa kita lakukan:

  1. Menahan diri untuk nggak menghadiri acara atau pertemuan besar di mana akan ada banyak sekali orang berkumpul di satu tempat
  2. Berhati-hati setiap menyentuh benda “milik umum” kayak pulpen-pulpen di bank, tombol lift, atau gagang pintu. Bisa dengan melapisi tisu jadi nggak menyentuh kulit langsung
  3. Sebisa mungkin hindari jam-jam ramai ketika akan berkunjung ke tempat umum, seperti swalayan. Biasanya tempat kayak gitu lebih ramai di akhir pekan, jadi hindari ke sana pas Sabtu/Minggu
  4. Hindari rush hour di tempat-tempat tertentu, seperti terminal atau stasiun
  5. Jangan pergi ke kantor, sekolah, bioskop, event olahraga, atau tempat lainnya di mana banyak orang dari banyak daerah berkumpul jadi satu
  6. Ubah cara kita bersalaman dengan cukup mengatupkan kedua tangan di dada, atau kalau seumuran bisa dengan tos siku atau sepatu. Selain itu, masih banyak lo alternatif lainnya, cek aja di sini. Eh, hindari juga berpelukan atau saling cium ya!
  7. Jika memang pahit-pahitnya kita diharuskan berkumpul di satu tempat bersama banyak orang lain, pilih titik-titik yang sekiranya nggak begitu ramai orang
  8. Hindari kegiatan yang melibatkan close contact. Mungkin kayak dansa, atau konser yang berdesak-desakan
  9. Jaga jarak dengan orang lain, paling nggak 1 meter (lebih malah bagus)
  10. Sebisa mungkin berdiam diri di rumah, kalau memang nggak ada yang penting-penting banget ya nggak usah keluar

Ingat ya Guys, khawatir boleh, tapi jangan sampai panik berlebihan sampai-sampai menomorsekiankan akal sehat. Stay safe and healthy, everyone!

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE