Pilu Tragedi Kanjuruhan, Peristiwa Mematikan Kedua dalam Sejarah Sepak Bola Dunia

Duka mendalam tengah menyelimuti dunia sepak bola Tanah Air, setelah Tragedi Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) malam menewaskan ratusan suporter. Di awali dari aksi suporter Arema atau Aremania yang turun ke lapangan usai kalah dari Persebaya dengan skor 2-3 ini justru berakhir dengan baku hantam dengan aparat di tengah lapangan.

Advertisement

Apalagi ditambah upaya aparat untuk mengatasi kericuhan dengan menggunakan gas air mata justru membuat peristiwa itu berakhir tragis. Ribuan penonton yang terkena gas air mata berebut keluar stadion, sehingga terjadi aksi saling desak. Sementara suporter yang tak bisa keluar harus terjebak dalam kepulan asap gas air mata.

Akibatnya 127 orang dinyatakan meninggal dunia dalam tragedi tersebut, dan ratusan orang lainnya harus mendapat perawatan di rumah sakit. Beragam kritik dan kecaman dari tragedi Kanjuruhan ini pun menjadi perbincangan publik. Mulai dari aksi anarkis suporter, hingga tindakan aparat yang melemparkan gas air mata pun ramai dikecam karena menyalahi aturan oraganisasi sepak bola dunia FIFA.

Tragedi Kanjuruhan menjadi tragedi paling mematikan kedua sepanjang sejarah sepak bola dunia

Tragedi Kanjuruhan

Tragedi Kanjuruhan, pelemparan gas air mata di dalam stadion | Foto dari Twitter

Peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan itu menewasakan 127 jiwa, 302 orang mengalami luka ringan, dan 21 orang mengalami luka berat. Hal itu membuat Tragedi Kanjuruhan tercatat sebagai peristiwa paling mematikan kedua dalam sejarah sepak pola dunia.

Advertisement

Melansir dari CNN, tragedi di Stadion Kanjuruhan ini berada di posisi kedua paling mematikan setelah Estadio Nacional Disaster, Lima, Peru pada 24 Mei 1964 yang menewaskan 328 jiwa. Kemudian di posisi ke-3 ada peristiwa Accra Sport Stadium Disaster, Accra, Ghana pada 9 Mei 2001 yang menewaskan 126 jiwa.

Tragedi Kanuruhan bahkan melewati tragedi Hillsborough di Inggris yang terjadi pada 15 April 1989 yang menewaskan 96 jiwa. Penyebab awal tragedi di Hillsborough dan Kanjuruhan bisa dibilang mirip karena diawali bentrok suporter di dalam stadion hingga penanganan bentrokkan dari petugas yang berakhir menjadi peristiwa mematikan.

Advertisement

Tragedi Kanjuruhan menyita perhatian dunia sepak bola hingga selebritas Internasional

Sebagai tragedi yang tercatat dalam sejarah sepak bola dunia, tragedi Kanjuruhan menjadi sorotan dunia internasional. Di dunia sepak bola sendiri nggak hanya ucapan belasungkawa dari Presiden FIFA saja, bahkan seluruh pertandingan pekan ketujuh La Liga Spanyol akan diwalai dengan mengheningkan cipta selama satu menit untuk menghormati korban Tragedi Kanjuruhan.

Prosesi mengheningkan cipta di La Liga Spanyom ini diawali oleh pertandingan Real Madrid vs Osasuna pada Minggu (2/10) waktu Indonesia. Berdasarkan pantauan Hipwee dari video yang beredar di Twitter, tampak seluruh pemain, kru lapangan, hingga penonton dalam pertandinan itu ikut mengheningkan cipta.

“La Liga dan RFEF telah menyepakati mengheningkan cipta selama satu menit untuk menjukkan belasungkawa kepada masyarakat Indonesia, terutama kerabat mereka yang meninggal dalam peristiwa di Stadion Kanjuruhan, serta mendoakan agar mereka yang terluka cepat sembuh,” kata narator, seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Nggak hanya dari dunia sepak bola sendiri, selebritas internasional sperti aktor Lee Min Ho dari Korea Selatan pun ikut menyampaikan duku cita atas Tragedi Kanjuruhan ini. Lee Min Ho mengunggah gambar berwarna hitam bertuliskan “Pray for Indonesia Kanjuruhan”.

Tragedi Kanjuruhan menuai banyak respons dan kritikan ke sejumlah pihak hingga muncul petisi, dan ancaman hukuman dari FIFA

Tragedi Kanjuruhan nggak hanya menyebabkan duka cita mendalam atas peristiwa tragis dan mematikan itu. Publik pun memberikan berbagai respons hingga kritikan terhadap sejumlah pihak. Mulai dari suporter yang bertingkah anarkis saat mengalami kekalahan, hingga tindakan aparat yang melemparkan gas air mata untuk mengatasi kericuhan yang melanggar aturan.

Bahkan, hingga Senin (3/10) ada dua petisi di change.org yang ramai dibagikan untuk mengumpulkan dukungan publik terkait Tragedi Kanjuruhan ini. Satu petisi membahas soal penolakan kick off sepak bola Indonesia yang terlalu malam, satu lagi tentang penolakan penggunaan gas air mata di dalam stadion.

Tragedi Kanjuruhan

Petisi tolak gas air mata di stadion | Tangkapan layar Change.org

Kedua petisi tersebut berkaitan dengan keselamatan penonton dan pemain sepak bola dalam pertandingan. Kick off di Kanjuruhan saat pertandingan Arema vs Persebaya kemarin diketahui dimulai pada pukul 20.00 WIB, hal ini dinilai terlalu malam dan menyulitkan pemantauan keselamatan di sejumlah titik di stadion. Selain itu menggunaan gas air mata diduga menjadi penyebab utama ratusan nyawa melayang, juga melanggar aturan FIFA, kendati untuk meredam aksi masa.

Ungkapan “nggak ada sepak bola seharga nyawa” yang ramai dibicarakan publik memang bisa menggambarkan Tragedi Kanjuruhan ini. Peristiwa tragis itu nggak hanya menyebabkan ratusan nyawa melayang, tapi juga ancaman hukuman bagi sejumlah pihak usai penyelidikan nanti, pun sanksi baik untuk Arema maupun sepak bola Indonesia yang terancam dijatuhi sanksi oleh FIFA.

Melansir dari Detikcom, Presiden Joko Widodo memberikan sujumlah arahan terkait Tragedi Kanjuruhan ini, mulai dari pemantauan medis terhadap para korban, evaluasi menyeluruh oleh Menpora, Kapolri, dan PSSI, pengusutan tuntas kasus melalui investigasi, hingga pemberhentian Liga 1 untuk sementara.

Sementara itu, hukuman untuk Arema pun telah mengintai. Sekretaris Jendral PSSI Yunus Nusi mengungkap bahwa Arema akan dijatuhi sejumlah sanksi berat, salah satunya nggak boleh bertanding di kandang. Sementara itu sanksi lainnya akan diumumkan melalui persidangan.

“Serahkan ke komite disiplin (sanksi Arema). Sebelumnya Komdis telah mengeluarkan statment bahwa Arema akan sangat berat hukumannya yang jelas tidak ada laga kandang di Malang. Kondisi lain akan bersidang sanksi-sanksinya,” ujar Yunus dalam jumpa pers Minggu (2/10) dinukil dari Detiksport.

Selain itu, ancaman sanksi dari FIFA pun mengintai sepak bola Indonesia. Melansir dari Sindonews, beberapa ancaman sanksi FIFA diantaranya, pembekuan Liga Indonesia, pencabutan keanggotaan Indonesia di FIFA, pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, Timnas Indonesia dilarang main di Piala Asia 2023 dan Piala Asia U-20, poin ranking FIFA Timnas Indonesia dikurangi, kompetisi Liga Indonesia tanpa penonton, hingga klub Indonesia nggak boleh bermain di AFC Cup dan Liga Champions Asia.

Namun, beberapa hal itu masih menjadi ancaman sanksi, belum ada penetapan sanksi mana yang akan dijatuhkan ke Indoensia akibat Tragedi Kanjuruhan. Kendati demikian Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali mengungkap bahwa pemerintah masih berupaya agar sanksi FIFA nggak terlalu merugikan bagi sepak bola Indonesia.

Atas Tragedi Kanjuruhan ini Hipwee turut mengucapkan duka cita yang sangat mendalam untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban. Semoga tragedi serupa nggak akan terulang lagi, dan segala pengusutan kasus bisa berjalan lancar dan semestinya.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE