Resep Menjadi Lansia yang Sehat, Bahagia dan Sejahtera dengan Asupan Nutrisi, Aktivitas, Serta Peran Remaja

Lansia sehat dan bahagia

Disadari atau tidak, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia terus bertambah. Laporan Statistik Penduduk Lanjut Usia tahun 2020 mencatat jumlah lansia saat ini mencapai angka 26,82 juta, atau sekitar 9,92 persen dari total populasi. Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat karena jumlah anak usia 0-14 tahun diketahui menurun setiap tahunnya.

Advertisement

Pertumbuhan jumlah lansia ini adalah kabar baik, karena artinya derajat kesehatan dan angka umur harapan hidup di Indonesia meningkat. Namun, di sisi lain juga mendatangkan tantangan bersama dalam memastikan lansia bisa hidup sehat, bahagia dan sejahtera. Karena seperti diketahui, lansia merupakan kelompok rentan dari segi kesehatan, ekonomi dan sosial.

Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam semangat Hari Lanjut Usia Nasional 2021 yang diperingati tanggal 29 Mei lalu, menginisiasi webinar bertajuk “Menjadi Lansia Bahagia dan Sejahtera Di manapun, Kapanpun” pada Rabu, 9 Juni 2021.

Webinar “Menjadi Lansia Bahagia dan Sejahtera Di manapun, Kapanpun” ini memfasilitasi diskusi yang melibatkan ahli gizi, psikolog, dan perwakilan remaja. Agenda besarnya adalah mengetahui resep jitu agar lansia bisa menikmati hari tuanya dengan sehat, bahagia dan sejahtera.

Advertisement

Nutrisi menjadi berkah saat umur bertambah

Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum (dok. Tangkapan layar/YouTube Live) via www.hipwee.com

Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum berbicara kunci sehat bagi lansia adalah asupan nutrisi dan gaya hidup sehat. Menurut dr. Tan, hal ini sangat penting mengingat penuaan dini di Indonesia telah menjadi fenomena yang lumrah, dengan tanda-tanda seperti kelebihan lingkar pinggang, rambut rontok, kulit kering dan gatal serta banyak lainnya.

“Penuaan dini juga termasuk kelelahan tubuh, yang berdampak pada berkurangnya aktivitas tubuh. Ini nggak boleh dianggap lumrah. Harus diperiksakan (kalau tubuh merasakan gejala-gejala yang tidak semestinya),” kata dr. Tan.

Advertisement

Baik penuaan dini maupun penuaan alami, sambung dr. Tan, dapat menghambat produktivitas dan aktivitas. Misalnya, banyak lansia yang sudah tidak mampu memasak dan memilih memesan makanan melalui layanan pesan antar. Dalam hal ini, tidak ada yang salah. Persoalan akan muncul ketika kandungan, higienitas makanan, dan kebutuhan tubuh jadi nggak terkontrol.

“Di Indonesia dalam 20 tahun terakhit jargon low-fat booming. Namun, angka obesitas tetap meningkat. Kenapa? Karena masyarakat kita hanya mengonsumsi apa yang disuka, bukan apa yang dibutuhkan tubuh,” lanjutnya.

Untuk itu ia mengimbau pada penduduk senior, istilah dr. Tan untuk kelompok lansia, mengonsumsi “makanan orang” bukan “dagangan orang”. Maksud dari istilah pertama adalah makanan yang dibuat menggunakan bahan-bahan ciptaan Tuhan. Lebih baik lagi, lanjutnya, mengonsumsi makanan yang mendekati bentuk aslinya, bukan hasil olahan secara seimbang.

Sementara “dagangan orang” pada istilah dr. Tan merujuk pada ragam pangan ultra proses, atau makanan yang diproses dan ditambahkan food addivities, seperti gula, garam, lemak, perisa, penguat rasa, dan lain sebagainya.

“Pangan ultra proses ini pencetus obesitas, gangguan gizi pada anak tumbuh kembang, penyakit tidak menular. (Sayangnya) mudah didapat, praktis, ekonomis, dirancang untuk menciptakan kecanduan, dianggap penyokong pertumbuhan ekonomi, dan menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah,” terang dr. Tan.

Cara paling sederhana menilai makanan sehat menurut dr. Tan, selain mendekati bentuk aslinya adalah yang tidak dipromosikan. Dalam hal ini, ia menilai dibutuhkan peran anggota keluarga dan remaja untuk bisa mengedukasi lansia dalam memilih makanan.

Pengasuhan cucu bisa jadi resep bahagia lansia karena dapat menjaga kesehatan mental

Psikolog dan Dosen, Deasy Ori Indriowati, S.Psi, M.Si. Psikolog (dok. Tangkapan layar/YouTube Live) via www.hipwee.com

Selain memastikan kesehatan fisik lansia lewat asupan gizi, penting pula memerhatikan aspek psikologis demi kesehatan mental. Di sini, Psikolog dan Dosen, Deasy Ori Indriowati, S.Psi, M.Si. Psikolog mengatakan pengasuhan cucu bisa jadi salah satu langkah mengatasi stres pada lansia.

“Lansia punya dua peran dalam pengasuhan cucu, meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan mendidik,” kata Deasy.

Dampak dari pengasuhan cucu bagi lansia, menurut Deasy salah satunya adalah memberi kepuasan hidup dan kebermaknaan hidup yang baik bagi masa tua yang dijalani para lansia.

“Menurut penelitian, sekitar 80 persen lansia mendapatkan kebahagian atas hubungannya dengan cucu,” imbuhnya.

Meski demikian, Deasy mengatakan dalam pengasuhan cucu lansia juga berisiko mengalami stres. Penyebabnya cukup beragam, seperti belum siap menjalankan peran pemenuhan kebutuhan mendidik, khawatir pola asuh yang mereka terapkan tidak sesuai, dan lelah fisik akibat penurunan kesehatan.

“Untuk itu lansia tetap harus punya rest time, dan keluarga harus tetap mendampingi lansia dalam kegiatan pengasuhan untuk mempertahankan kesejahteraan psikologisnya,” terang Deasy.

Peran remaja dalam pendampingan lansia

Duta GenRe Prov. DKI Jakarta 2018, Fellya Zumarnis (dok. Tangkapan layar/YouTube Live) via www.hipwee.com

Perwakilan remaja, Duta GenRe Prov. DKI Jakarta 2018, Fellya Zumarnis bersepakat mengatakan peran semua elemen masyarakat, termasuk remaja, penting agar lansia bisa hidup sehat, bahagia dan sejahtera. Dengan fakta bahwa rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk usia produktif terus meningkat, Fellya menegaskan perlu adanya sinergi dalam pelaksanaan program-program untuk lansia.

“Saat ini, setiap 100 penduduk usia produktif usia 15-59 tahun harus menanggung 15 orang penduduk lansia. Angka ini bukan ancaman kalau lansia berdaya, dan kondisi itu akan bisa tercapai kalau generasi muda seperti saya dapat berkontribusi,” ujar Fellya.

Ia melanjutkan, saat ini persepsi remaja terhadap keberadaan lansia menunjukkan tren positif, seperti menganggap penting aktivitas produktif dan hiburan bagi lansia, mulai memahami hak-hak lansia seperti bekerja dan belajar, dan terus mendorong pemerintah untuk memerhatikan lansia.

“Anak muda sangat mendorong pemerintah untuk terus memerhatikan lansia, dan mendorong untuk memfasilitasi anak muda agar terhubung dengan lansia. Dalam hal ini BKKBN sudah mengambil langkah,” sambungnya.

Adapun langkah dari BKKBN tersebut seperti menginisiasi program Bina Keluarga Lansia (BKL), di mana duta GenRe (Generasi Berencana) melibatkan diri untuk berkolaborasi mengadakan sosialisasi, komunikasi dan edukasi terhadap lansia.

“GenRe juga menjadi pendidik sebaya dan konselor sebaya untuk remaja yang memiliki lansia. Kami juga melaksanakan kegiatan aktivitas fisik bersama BKL khususnya sebelum masa pandemi Covid-19,” tandas Fellya.

Nah, setelah mengetahui beberapa hal penting mengenai lansia, yuk sama-sama mulai peduli lansia di sekitar kita, dan juga peduli diri sendiri agar bisa menua dengan sehat, bahagia dan sejahtera.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE