Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Ulas Cara Menjaga Ranah Privasi Diri Sendiri dan Orang Lain di Internet

Dalam acara ini content creator Ghania Harsono dan psikolog Annisa Poedji Pratiwi. M.Psi., bahas pentingnya personal boundaries

Di tengah pesatnya perkembangan media digital saat ini, Hipwee sebagai media yang fokus memproduksi konten-konten positif untuk anak muda berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, menggelar kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital untuk menjawab tantangan penggunaan ruang digital bagi anak muda saat ini.

Rangkaian kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital mengusung berbagai topik tentang literasi digital yang relevan dengan anak muda dan tantangannya di era ini. Kegiatan tersebut juga merupakan wadah untuk anak muda belajar dan mengembangkan kemampuan literasi digital mereka. Harapannya, Ruang Belajar ini bisa menghasilkan talenta-talenta muda yang berkualitas dan lebih cakap digital.

Rangkaian Ruang Belajar #MakinCakapDigital yang digelar secara virtual pada Rabu, 28 September 2022 mengangkat topik bertajuk “Personal Boundaries: Menjaga Ranah Privasi Diri Sendiri dan Orang Lain di Internet”. Kegiatan ini menghadirkan seorang content creator Ghania Harsono dan psikolog Annisa Poedji Pratiwi. M.Psi., untuk membahas soal privasi di internet berkaitan dengan personal boundaries yang saat ini menjadi tantangan besar pengguna media sosial.

Mengenal apa itu personal boundaries dan manfaatnya dari sisi content creator dan psikolog

Content creator Ghania Harsono | dok. Tangkapan layar/Zoom

Para peserta Ruang Belajar #MakinCakapDigital pertama diajak untuk mengenal apa itu personal boundaries, mengingat di tengah kemajuan informasi digital saat ini, masih banyak dari pengguna ruang digital belum memahami ranah privasi dan personal boundaries.

Dari sudut pandang seorang content creator, Ghania mengatakan bahwa privasi baginya bisa dibilang sebagai persoalan yang cukup riskan. Ini karena berkaitan dengan pembahasan topik, termasuk keterlibatan pihak-pihak lain di dalam kontennya, yang mana tetap harus ia jaga privasinya.

Sementara tentang personal boundaries bagi content creator, Annisa sebagai seorang psikolog mengatakan adalah tentang bagaimana seorang creator mampu memisahkan apa yang menjadi informasi pribadinya dan apa yang bisa diakses oleh publik.

Selain itu, Annisa juga mengungkap bahwa personal boundaries merupakan bagaimana creator bisa mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan pada orang lain, supaya tidak merasa dimanfaatkan, dilanggar hak-haknya, atau mengalami perbuatan yang tidak menyenangkan terkait karya yang dihasilkan.

Baik Ghania dan Annisa pun sepakat bahwa personal boundaries ini sangat penting dimiliki oleh seorang content creator. Apalagi menurut Ghania, privasi setiap orang berbeda-beda. Ada yang merasa tidak masalah ketika diekspos oleh suatu konten, ada pula yang merasa itu sudah melanggar privasi. Sehingga, sebagai seorang content creator, Ghania menganggap personal boundaries sangat penting supaya bisa memiliki batasan privasi, terutama terkait informasi pribadi.

“Setiap pengguna platform digital memang harus menentukan batasan privasi dirinya sendiri, apa yang menurut orang lain biasa saja, bisa jadi itu melanggar privasi bagi kita. Makanya personal boundaries itu penting banget, apalagi soal data pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, plat mobil,” kata Ghania.

Sejalan dengan yang diungkap Ghania, Annisa juga menambahkan betapa pentingnya personal boundaries terutama bagi seorang content creator dalam berkarya dan menjalankan pekerjaannya.

Menurut Annisa, tujuan penting personal boundaries mulai dari membuat batasan supaya tidak bekerja secara berlebihan, tidak memiliki komitmen dengan banyak orang secara berlebihan, tidak berbagi informasi secara berlebihan pula, serta menjaga supaya tidak dimanfaatkan banyak orang baik secara pikiran, tenaga, dan materi. Ia menambahkan bahwa personal boundaries ini tidak hanya penting bagi seorang creator, tetapi bagi seluruh pengguna ruang digital.

“Mengingat pentingnya membuat batasan seperti ini, apapun dan siapa pun penting untuk bikin personal boundaries, kenali batasan-batasan yang ingin dibuat, tidak hanya seorang creator saja, agar kita bisa berkarya dengan sehat untuk diri kita dan bermanfaat untuk orang lain,” tegas Annisa.

Menghindari pelanggaran privasi di ranah digital seperti yang marak terjadi

Psikolog Annisa Poedji Pratiwi. M.Psi. | dok. Tangkapan layar/Zoom

Saat ini pelanggaran privasi di ranah digital seperti media sosial sangat marak terjadi. Mulai dari menyebarkan nomor telepon, menayangkan alamat rumah melalui konten video, hingga melalui konten-konten viral.

Menyoroti hal itu, Ghania mengaku gemas dengan banyaknya konten-konten di media sosial yang menayangkan wajah seseorang, nama, hingga informasi-informasi pribadi lainnya tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Menurut Ghania, ada kalanya konten seperti itu diterima oleh yang bersangkutan. Namun, akan berbeda cerita jika ternyata yang bersangkutan tidak berkenan wajahnya muncul di sebuah video viral. Ketika itu terjadi, maka tindakan tersebut termasuk pelanggaran privasi.

Ini lah mengapa pengguna platform digital penting membuat batasan, agar bisa menghormati dan memahami batasan-batasan privasi orang lain. Ghania juga menekankan agar tidak asal mengambil video untuk kemudian diunggah di media sosial, apalagi sampai menyebut nama ataupun lembaga.

“Sesederhana kalau kita sedang mengambil Insta Story atau foto bareng teman-teman, kemudian ada yang bilang ‘eh, jangan ada muka gue dong’ sekecil itu pun kita harus hargai, karena itu privasi dia,” ujar Ghania.

Tak jauh berbeda dengan Ghania, Annisa merasa prihatin dengan maraknya pelanggaran privasi pengguna media sosial. Poin keprihatinannya didasari pada dua hal. Pertama karena kurangnya edukasi tentang privasi pengguna. Kedua, tidak semua pengguna internet memiliki kematangan secara emosional, sehingga kurang menggunakan empati ketika mengunggah ataupun membagikan sebuah konten.

Annisa juga mengingatkan bahwa tidak semua orang merasa nyaman ketika dirinya viral. Apalagi ketika wajahnya terlihat jelas, dan identitasnya terungkap. Annisa menyarankan ada baiknya bagi pengguna media sosial untuk berpikir jangka panjang, terutama terkait pelanggaran hukum yang saat ini marak terjadi, sebelum melakukan sesuatu.

“Hati-hati, bisa jadi buat kita hanya untuk merekam dan bercanda, tapi orang itu tidak nyaman dan melaporkan kita ke pihak berwajib, seperti banyak yang viral adalah pelanggaran perbuatan yang tidak menyenangkan. Jadi kalau mau share sesuatu harus hati-hati, ingat konsekuensi jangka panjangnya,” ingat Annisa.

Melalui topik yang dikupas oleh Ghania Harsono dan Annisa Poedji Pratiwi ini dapat disimpulkan bahwa personal boundaries sangat penting dimiliki oleh siapa pun pengguna internet, baik itu sekedar penikmat konten maupun si pembuat konten alias content creator.

Diharapkan setiap anak muda pengguna internet kini bisa menentukan personal boundaries dengan memahami apa yang membuatnya nyaman dan tidak nyaman saat menggunakan internet. Sikap saling menghormati privasi orang lain pun sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap anak muda pengguna internet.

Lebih jauh, apa yang dijelaskan oleh Ghania Harsono dan Annisa Poedji Pratiwi diharapkan dapat menambah pengetahuan anak muda dalam menggunakan platform digital yang sehat, terhindar dari kejahatan dunia maya, serta bisa berkarya lebih bijak dan bermanfaat.

Rangkaian kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital ke depannya akan mengusung lebih banyak topik-topik menarik dan relevan terkait dunia digital bersama para ahli di bidangnya. Untuk itu, jangan lupa follow akun Instagram @siberkreasi untuk mendapatkan update kegiatan #MakinCakapDigital selanjutnya.

Kamu juga bisa mengakses laman literasidigital.id untuk mendapatkan beragam konten panduan berinternet, serta konten bermanfaat lain mengenai pemanfaatan teknologi digital secara positif.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor