Sudah beberapa hari ini, publik media sosial diramaikan dengan isu LGBT di kampus. Jadi ingat bulan Juli 2015, saat semua orang Indonesia di Facebook ngeributin disahkannya pernikahan sesama jenis di Amerika.

Tapi sekarang, asal mula isunya sedikit berbeda, sih. Kejadian-kejadiannya murni lokal alias semua pihaknya berasal dari Indonesia. Mulai dari SGRC UI, pihak Universitas Indonesia sendiri, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek) Muhammad Nasir, sampai Bapak Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, semua ikut komentar.

Sempat ketinggalan beritanya? Nah, kalau iya, Hipwee akan menjelaskan di sini kronologi kasusnya dari awal. Semoga informasinya bermanfaat!

PS: Kalau komentar, jangan kebawa emosi ya. Postingan ini gak bermaksud untuk menggiring opini. Tapi, sekadar menyampaikan informasi 🙂

Bermula dari kontroversi keberadaan SGRC UI, serta penggunaan nama dan lambang Universitas Indonesia oleh organisasi ini

Logo SGRC UI via twitter.com

Advertisement

Sebelum Menristek, Ketua MPR/DPR, dan media ramai berkomentar soal LGBT, terlebih dahulu yang disorot adalah organisasi SGRC UI. Hmmm… apa sih sebenarnya SGRC ini?

SGRC atau Support Group and Resource Center For Sexual Studies adalah organisasi mahasiswa tingkat universitas yang fokus pada isu-isu gender dan seksualitas. Organisasi ini berdiri sejak tahun 2014.

SGRC didirikan oleh dua mahasiswa Universitas Indonesia: Ferena Debineva dari Fakultas Psikologi dan Febi dari Antropologi. Anggotanya sendiri terdiri dari mahasiswa, alumni, dan dosen Universitas Indonesia.

Isu LGBT hanyalah salah satu dari sekian banyak isu yang ditangani oleh SGRC. Selain LGBT, SGRC juga fokus pada isu kesetaraan gender, penanganan korban kekerasan seksual, serta pencegahan kekerasan seksual di kampus.

Sebenarnya selain SGRC, ada banyak komunitas kajian dan diskusi lainnya di UI. Setiap komunitas ini punya fokus yang berbeda-beda. Misalnya, pernah ada UILDSC (UI Liberalism and Democracy Study Club), komunitas diskusi yang fokus pada pengkajian isu-isu demokrasi dan liberalisme. Ada juga Lentera Filsafat, yang membahas berbagai fenomena sosial dari sudut pandang filosofis.

Oke, terus kenapa jadi heboh sama SGRC? Dan kenapa baru sekarang?

Kontroversi ini dipicu oleh pengumuman kerja sama SGRC dan situs Melela.org minggu lalu. Kedua lembaga ini berinisiatif membangun jaringan peer support untuk anak-anak muda LGBT. Seperti dilansir Magdalene.co, jaringan peer support ini sebenarnya lebih ditujukan ke arah sharing, dan tidak bermuatan politik. Kegiatan konseling dan sharing di dalamnya akan menghadirkan perspektif dari berbagai sisi masyarakat.

Media kemudian memberitakan kerja sama ini dengan headline seperti “LGBT serang kampus” dan “LGBT masuk kampus”. Bisa ditebak: ramailah media sosial.

Setelah SGRC menuai kontroversi, pihak UI pun mengeluarkan surat resmi. Isinya: SGRC bukan badan resmi dI bawah UI. UI juga melarang SGRC memakai simbol dan nama ‘Universitas Indonesia’.

Rektorat UI via www.tribunnews.com

Untuk merespon kontroversi ini, tanggal 21 Januari 2016 pihak Rektorat UI mengeluarkan surat resmi. Isinya: SGRC bukan badan resmi di bawah Universitas Indonesia, dan pihak UI tidak bertanggung jawab atas seluruh kegiatannya.

Nggak hanya itu, pihak UI juga melarang SGRC menggunakan nama dan simbol makara UI.

Apa masalahnya?

“Bukan konten organisasi tersebut, melainkan statusnya. Banyaknya pertanyaan tentang status SGRC mendorong pihak rektorat untuk membuat pernyataan terbuka bahwa SGRC tidak pernah terdaftar secara resmi di kampus.”

-Pak Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UI

Di sela keributan, Pak Menristek Muhammad Nasir pun ikut komentar: “LGBT tidak sesuai dengan nilai kesusilaan bangsa Indonesia.”

M. Nasir, Menristekdikti via www.antaranews.com

Situasi di media sosial semakin memanas setelah Pak Menristek, Mohamad Nasir, ikut komentar.

“LGBT ini tidak sesuai dengan tataran nilai dan kesusilaan bangsa Indonesia. Saya melarang. Indonesia ini tata nilainya menjaga kesusilaan,”

Pernyataan Menristek Mohamad Nasir ke detik.com, 24 Januari 2016

Bisa ditebak, pernyataan ini bikin media sosial tambah ribut.

Menristek pun akhirnya mengeluarkan klarifikasi via Twitter. Beliau menyatakan bahwa yang yang dilarang bukanlah kesempatan kaum LGBT untuk kuliah, tetapi tindakan yang kurang terpuji (?) seperti bercinta atau pamer kemesraan di kampus.

Lho, berarti mahasiswa yang heteroseksual boleh bercinta dan pamer kemesraan, dong?

Ih, kamu. Yang itu juga dilarang, seperti yang diklarifikasi lagi oleh beliau setelahnya.

Menyusul Pak Menristek, politisi Indonesia lain pun ikutan komentar

Firmansyah, salah satu alumni UI yang juga aktif di SGRC via melela.org

Isu LGBT dan SGRC ini sebenarnya mengingatkan kasus yang sempat terjadi Desember lalu di Universitas Gadjah Mada. Saat itu, ada pentas teater mahasiswa yang terancam batal karena posternya “bernuansa lesbian”

UKM Teater Gadjah Mada via ugm.ac.id

Sebenarnya bukan hanya UI. Pertengahan Desember tahun lalu, di UGM pun sempat ada kontroversi anti-LGBT. Asalnya adalah poster yang menampilkan tulisan “Masih Adakah Cinta di Kampus Biru?” dengan latar belakang dua mahasiswi hendak berciuman. Karena poster tersebut, pentas pra-lakon (preview) persembahan UKM Teater Gadjah Mada ini hampir dibatalkan. Teater Gadjah Mada sendiri akhirnya meminta maaf karena telah memunculkan kontroversi.

Di antara kontroversi ini, ada yang tetap bikin adem hati: pernyataan sikap dari Salam UI dan Lembaga Dakwah Fakultas se-UI

“Salam UI dan LDF se-UI secara tegas menolak dengan keras tindakan orang-orang yang mendiskreditkan saudara-saudara kita yang sedang mengalami konflik batin masalah seksual, pendiskreditan dalam bentuk apapun.”

– Pernyataan sikap Salam (Lembaga Dakwah Kampus Nuansa Islam Mahasiswa) UI dan Lembaga Dakwah Fakultas se-UI

Sekarang, pro-kontra pun masih berlanjut. Entah sampai kapan. Tapi semoga, tidak berujung pada kekerasan.

Pro-kontra tentang keberadaan SGRC (yang meluas dan menyempit menjadi keberadaan anak-anak muda LGBT di kampus pada umumnya) masih terus berlanjut hingga saat ini.


Semoga kontroversi ini tidak berlanjut dengan kekerasan, ya. Kita pantau dan doakan sama-sama.