Siswi SMA di Sragen Diteror Anggota Rohis Gara-gara Tak Berjilbab. Sampai Sekolah Turun Tangan!

Siswi diteror rohis gara-gara jilbab

Belakangan ini agama memang jadi isu yang cukup sensitif di Indonesia. Entah dari mana mulainya, tapi sekarang jadi makin banyak orang yang nggak malu menegur bahkan mengintimidasi orang lain saat menurutnya orang itu telah melanggar ajaran atau syariat agama. Ya kalau menegurnya secara personal dan dengan cara baik-baik sih mungkin masih bisa diterima, tapi kalau malah berujung mengintimidasi, merundung, atau malah menjelek-jelekan, justru salah dan nggak bakal efektif.

Advertisement

Seperti yang belum lama ini terjadi di SMAN 1 Gemolong, Sragen, Jawa Tengah. Seorang siswi ditegur hingga diteror anggota rohis cuma gara-gara nggak mengenakan jilbab. Ia yang merasa diintimidasi melapor ke orangtuanya, lalu si ortu melapor ke sekolah. Masalah ini bahkan sampai ke telinga Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo lo! Beliau juga sudah memberikan tanggapan. Bagaimana sih cerita detilnya? Simak dalam ulasan Hipwee kali ini.

Siswi inisial Z mendapat perlakuan tak mengenakkan dari anggota rohis di sekolahnya. Ia merasa diintimidasi dan diteror karena nggak memakai jilbab

SMAN 1 Gemolong via news.detik.com

Siswi kelas X SMAN 1 Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari pengurus organisasi ekstrakurikuler Kerohanian Islam hanya gara-gara tidak memakai jilbab. Siswi inisial Z tersebut diintimidasi melalui pesan di aplikasi WhatsApp. Oknum pengurus rohis itu terus-terusan mengirim pesan yang isinya meminta Z memakai jilbab sebagai salah satu aturan syariat Islam. Hampir setiap hari pesan bernada sama sampai di ponselnya.

Karena merasa risi, Z pun memutuskan untuk memblokir nomor oknum tersebut setelah melapor ke orangtuanya. Tapi ternyata, hal itu nggak menghentikan si oknum buat tetap meneror Z

Chat teror via jateng.suara.com

Z merasa risi karena hampir setiap hari menerima pesan bernada sama dari pengurus rohis. Setelah melapor ke orangtua, ortu Z pun meminta anaknya itu untuk memblokir nomor si oknum anggota rohis. Tapi rupanya teror belum juga berhenti. Oknum itu tetap mengirim pesan yang sama melalui nomor ponsel temannya, yang juga teman si Z. Dalam salah satu pesan itu bahkan si anggota rohis menyinggung ortu Z dan mempertanyakan apakah ortunya itu nggak tahu ajaran syariat sampai-sampai membiarkan anaknya tak pakai jilbab.

Advertisement

Oknum juga sempat diminta untuk bertemu langsung ortu Z jika memang ingin menegur Z. Tapi ia malah menolak dan berdalih jika ingin bertemu ya bertemu sama guru PAI (Pendidikan Agama Islam). Kalau nggak mau, ya sudah, katanya tinggal tunggu di akhirat saja. Si oknum ini pun mengancam agar masalah ini nggak dibawa-bawa ke pimpinan sekolah atau kesiswaan, karena menurutnya ini masalah agama. Lah, gimana deh…

Kepala SMAN 1 Gemolong mengaku sudah mengetahui kejadian ini. Ia juga mengatakan pihaknya sudah menindaklanjuti

Kepala SMAN 1 Gemolong via news.detik.com

Kepala SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, Suparno membenarkan adanya teror yang terjadi di lingkup sekolahnya tersebut. Suparno dan jajaran gurun lainnya telah menemui wali murid Z untuk membicarakan permasalahan ini. Ia dan pihaknya mengaku salah karena keteledorannya sehingga ada oknum rohis yang bertindak sedikit menyimpang. Suparno juga mengatakan oknum yang bersalah itu sudah diberi pembinaan dan pihak rohis telah menyampaikan permintaan maaf ke wali murid, sehingga masalah sudah dianggap selesai.

Saking sudah meluasnya berita ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sampai ikut turun tangan. Lewat akun resmi Facebooknya, Ganjar menyatakan akan menemui siswa, guru, sekaligus ortunya

Advertisement

Ganjar Pranowo mengaku mendapat laporan dari jajarannya terkait peristiwa intimidasi bertajuk agama yang terjadi di SMAN 1 Gemolong, Sragen. Ia pun meminta dinas terkait untuk melakukan klarifikasi. Dirinya sendiri juga mengaku akan menemui siswa, guru, dan orangtua yang bersangkutan.

Walau mungkin maksud dan niat si oknum rohis itu baik, tapi cara menyampaikannya agak kurang tepat. Selain karena menggunakan nada mengancam atau intimidasi, keputusannya untuk meneror Z juga tidak sopan. Kalau memang si oknum benar-benar ingin Z berubah menjadi lebih baik, ya cara menyampaikannya juga harus baik-baik. Lain lagi cerita kalau si oknum sebenarnya punya dendam atau maksud terselubung dengan Z, jadi seolah-olah kayak cari-cari kesalahan Z gitu. Duh, kan, jadi suudzon. Maaf ya, netizen yang budiman~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE