Skotlandia Akan Gratiskan Pembalut Wanita. Ini 4 Alasan Kenapa Kita Perlu Lakukan Hal yang Sama

Skotlandia gratiskan pembalut wanita

Skotlandia digadang-gadang bakal jadi negara pertama yang menggratiskan pembalut, tampon, dan semua produk kewanitaan. Usulan ini datang dari dewan perwakilan Skotlandia, Monica Lennon. Ia menganggap kalau produk-produk untuk menstruasi seharusnya bukanlah barang mewah. Bagi kita di Indonesia mungkin pembalut bukan barang yang sulit dibeli. Tapi ternyata ada lo sebagian orang yang nggak mampu beli pembalut. Padahal menstruasi itu nggak pandang bulu, semua wanita –kecuali yang punya indikasi medis– pasti menstruasi.

Advertisement

Atas alasan itulah, Monica mengusulkan agar pemerintah Skotlandia menyediakan produk-produk sanitasi di tempat-tempat umum, klub pemuda, atau apotek. Perkiraan dana yang dikeluarkan sekitar 24,1 pondsterling atau 435 miliar rupiah per tahun. Ya kalau tisu aja tersedia gratis di banyak lokasi, kenapa pembalut nggak?

1. Sebagai wanita, kita sudah dikodratkan mengalami menstruasi. Nggak adil aja gitu kalau kita mesti mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bahkan nggak bisa kita pilih

Semua cewek pasti menstruasi via www.pulse.ng

Alison Johnstone, pembuat kebijakan sebelumnya, pernah mempertanyakan kenapa udah 2020 tisu masih dianggap lebih penting daripada produk menstruasi? Menurutnya nggak adil aja gitu kalau perempuan punya beban finansial karena kondisi biologis tubuhnya. Kita jelas nggak bisa memilih untuk nggak menstruasi kan? Soalnya menstruasi memang pasti terjadi pada wanita. Kalau dipikir-pikir, harusnya malah sejak dulu produk menstruasi itu udah digratiskan ya…

2. Masalahnya nggak semua perempuan punya dana lebih untuk beli pembalut atau produk kewanitaan ini. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan pasti lebih milih beli beras daripada pembalut

Masih banyak orang yang nggak mampu beli pembalut, padahal tiap bulan butuh via english.lokaantar.com

Bagi kita, pembalut mungkin bukan barang yang mahal-mahal banget. Paling dalam sebulan kita cuma perlu mengeluarkan beberapa puluh ribu saja untuk pembalut. Tapi, coba deh mikir lagi. Beberapa puluh ribu itu di pelosok daerah lain bisa jadi merupakan nominal yang cukup banyak. Mungkin malah itulah besar penghasilan mereka dalam sebulan. Daripada buat beli pembalut, pasti mereka lebih memilih beli makanan buat ngisi perut.

Advertisement

3. Kalau pembalut jadi prioritas ke sekian, sedangkan menstruasi pasti terjadi, bukan nggak mungkin mereka akan mencari cara lain untuk “menghadapi” tamu bulannya. Kalau cara yang dipakai nggak higienis gimana??

Gimana kalau cara yang dipakai nggak bersih? via www.outlookindia.com

Masalah lain, gimana kalau akhirnya mereka yang kurang mampu ini mencari cara lain untuk menampung darah haidnya, sedangkan cara yang dipakai itu belum tentu higienis? Misalnya pakai kain sekali pakai, tapi kainnya juga jarang dicuci, atau lainnya. Ditambah mungkin entah di pelosok mana, pendidikan reproduksi masih jadi sesuatu yang “mahal”, sehingga mereka yang haid tiap bulan ini belum tahu berbagai risiko kesehatan jika nggak menjaga kebersihan daerah intim. Kan kasihan…

4. Sekarang tuh udah eranya #SetaraTanpaTapi lo. Udah bukan zamannya lagi wanita kesulitan menjalani hidup, termasuk ketika tamu bulanannya datang

Harusnya zaman sekarang pembalut itu bisa diperoleh dimana saja, kayak tisu via www.mbs.news

Pemerintah Skotlandia bilang kalau kebijakan menggratiskan produk kewanitaan itu selain untuk menormalisasi menstruasi juga sebagai bukti kalau parlemen itu serius banget sama kesetaraan gender. Mereka pengin negaranya dikenal sebagai negara yang ramah wanita. Makanya perlu dibuat aturan yang mendukung hal tersebut, salah satunya menyediakan pembalut dan tampon gratis di berbagai lokasi publik.

Kalau memang mau setara, memang kudu #TanpaTapi sih. Jangan sampai koar-koar kesetaraan gender tapi masih banyak syaratnya; tapi harus ini lah, harus itu lah. Hmm… gitu ya Gaes. Jadi kira-kira kapan ya di Indonesia ada dispenser pembalut di toilet umum?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE