Setelah #IndonesiaTerserah Terbitlah #IndonesiaAbnormal, Tagar Viral di Tengah Kabar New Normal

Tagar Twitter Indonesia Abnormal

Istilah ‘new normal‘ atau normal baru mungkin udah sering kita dengar atau baca di berbagai media. Istilah itu dipakai buat menggambarkan kehidupan manusia yang berubah di tengah pandemi. Salah satunya ya kayak kebiasaan memakai masker. Kalau dulu aktivitas itu biasa dilakukan sama mereka yang lagi berkendara di jalanan, atau dokter-dokter yang lagi melakukan tindakan operasi. Tapi sekarang, semua orang wajib pakai masker setiap keluar rumah. Malah masker sekarang udah dianggap sebagai bagian dari tren.

Advertisement

Kata-kata ‘new normal‘ semakin santer diperbincangkan setelah pemerintah Indonesia dikabarkan sedang menggodok aturan untuk ‘new normal life‘ di sejumlah provinsi. Jadi ada kemungkinan dalam waktu dekat, ruang-ruang publik akan dibuka kembali; sekolah, kantor, mal, pasar, dan lainnya, dengan menerapkan sejumlah protokol atau prosedur yang lagi dirumuskan itu. Padahal di satu sisi, kurva kasus Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat, nggak ada tanda-tanda turun sama sekali. Inilah yang memicu perdebatan di media sosial, sampai-sampai muncul tagar #IndonesiaAbnormal. Iya, masyarakat justru takut, bukan ‘new normal‘ yang tercapai, tapi justru kondisi yang “abnormal”.

Tagar #IndonesiaAbnormal menggema di media sosial Twitter sejak Selasa, 26 Mei kemarin. Tagar ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat atas rencana pemerintah membuka kembali tempat-tempat umum

Tagar Indonesia Abnormal ramai di Twitter via www.msn.com

Selasa, 26 Mei kemarin warganet Twitter berbondong-bondong meramaikan tagar #IndonesiaAbnormal. Tagar itu muncul setelah Presiden Jokowi menyatakan bakal memulihkan kondisi ekonomi dengan menerapkan kehidupan normal baru. Keputusan itu dianggap banyak pihak terlalu buru-buru. Pasalnya, kasus Covid-19 di Indonesia aja masih naik terus. Masyarakat banyak yang takut kasusnya makin meningkat kalau tempat-tempat umum kayak sekolah, kantor, pasar, atau mal kembali dibuka.

Ya meskipun katanya bakal ada protokol kesehatan yang wajib dipatuhi, tapi nggak ada yang bisa memastikan 100% kondisi di lapangan bakal berjalan sebagaimana mestinya. Nggak bisa dipastikan juga keputusan itu bakal menghentikan persebaran virus corona. Bukannya menciptakan ‘new normal‘, bisa-bisa malah kondisi abnormal yang muncul.

Advertisement

Keputusan di atas malah semakin menyiratkan kalau pemerintah lebih mengedepankan stabilitas ekonomi dibanding penanganan Covid-19 itu sendiri

Jokowi saat meninjau pusat perbelanjaan, untuk persiapan ‘new normal’ via idtoday.co

Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay, menilai kalau keputusan menerapkan normal baru itu sedikit terlalu maksa. Seakan menunjukkan kalau pemerintah lebih memilih memulihkan ekonomi dibandingkan menangani wabah. Harus diingatkan berapa kali sih biar kita semua paham kalau wabah ini belum selesai? Kasus di Indonesia terus meningkat lo! Nggak ada tanda-tanda kurvanya melandai, apalagi menurun. Di tengah banyaknya pilihan yang bisa diseriusi dan dijadikan prioritas, kenapa justru penerapan normal baru yang dipilih? Kenapa nggak fokus aja dulu sama penanganan wabah secara langsung, kayak test, track and trace, meningkatkan fasilitas kesehatan, menerapkan hukuman bagi pelanggar physical distancing, menutup transportasi, dll? Huft~

Rencana penerapan normal baru juga semakin memperjelas arah pemerintah buat melonggarkan PSBB. Padahal menurut ahli, PSBB baru bisa dilonggarkan kalau ada vaksin atau penurunan kasus

Belum beneran dilonggarkan aja udah banyak pusat perbelanjaan yang diserbu via www.dream.co.id

Pelonggaran PSBB sah-sah aja dilakukan. Tapi, penerapannya harus ekstra hati-hati karena perlu mempertimbangkan banyak hal. Epidemiolog di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengatakan kalau PSBB baru bisa diakhiri kalau vaksin sudah ditemukan dan siapapun bisa mengaksesnya. Dan kalau memang mau dilonggarkan pun mesti memenuhi syarat tertentu kayak terjadi penurunan kasus secara terus menerus. Di Indonesia sendiri, kayak yang tadi udah dibahas, angka kasus terus naik. Belum ada tanda-tanda penurunan kasus. Jadi, ada baiknya kalau rencana pelonggaran PSBB disimpan dulu rapi-rapi, sembari fokus menurunkan kurva kasus Covid-19.

Takutnya kalau nggak bener-bener direncanakan dengan matang, justru memicu ledakan kasus yang lebih besar, berkaca dari wabah flu Spanyol 1918 silam

Advertisement

Takut bakal ada ledakan kasus baru via www.ayosemarang.com

Tanpa strategi yang matang, kehidupan normal baru atau pelonggaran PSBB bisa memicu ledakan kasus yang lebih tinggi. Dulu waktu wabah flu Spanyol melanda dunia, warga sempat juga mengalami kebosanan setelah harus diam di rumah beberapa waktu. Akhirnya mereka kembali memenuhi ruang-ruang publik. Gelombang dua itu justru lebih mematikan karena angka kasus meningkat lebih drastis.

Lagipula kalau memang tujuan pemerintah untuk mengundang investor asing menebar cuan di Indonesia, bukannya upaya pemulihan ekonomi di tengah wabah yang belum terkendali malah bisa bikin investor ciut ya? Ya sekarang siapa juga yang mau nanem modal di negara dengan situasi tidak pasti akibat kebijakan yang nggak jelas, bahkan terkesan mencla-mencle? Kan pasti pada mikir, mending milih negara lain yang jelas-jelas secara data berhasil mengendalikan wabah, kayak Vietnam.

Kayaknya memang sekarang ini, semua harus dimulai dari diri kita sendiri deh. Kalau memang pengin wabah segera berakhir ya mesti tahan-tahan nggak keluar rumah dulu, kecuali memang ada urusan mendesak banget. Meskipun mal dibuka, sebisa mungkin tetap hindari pusat keramaian. Karena kalau nggak dimulai dari kesadaran sendiri, ya bakal susah bikin virus corona pergi…

Sudah waktunya kita lebih peduli, kenal, dan memahami virus corona yang sudah hidup di antara kita. Dapatkan E-book Panduan Normal yang Baru di sini.
Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE