Konflik masih terus berlangsung di Aleppo. Sebagian korban sudah mengungsi ke Turki, sebagian yang lain masih telantar di Suriah. Kita tentu masih ingat dengan nama Bana Al-Abed, seorang gadis cilik berusia 7 tahun yang mengorbankan keselamatannya sendiri dan terus ‘melaporkan’ kepada dunia krisis kemanusiaan yang terjadi di Aleppo.

Melalui akun Twitter-nya yang digunakan berdua dengan sang ibu Fatemah, Bana membagi suasana mencekam di Aleppo selama dia sekeluarga terjebak di sana. Bom-bom terus meledak dari kedua pihak yang berseteru, membuat masyarakat sipil seperti Bana terjebak di tengahnya.

Advertisement

Akun Twitter Bana jadi jendela informasi berharga bagi dunia luar untuk melihat konflik kemanusiaan di Aleppo, Suriah. Beberapa kali sempat menghilang, hashtag #WhereisBana ramai

Suara dari daerah konflik yang terisolasi via cbsnews.com

Melalui tweet-tweet Bana, dunia mengetahui betapa beratnya kehidupan orang-orang di Suriah. Ditengah keputusasaan itu, Bana tidak pernah menyerah. Bana bersama ibunya Fatemah terus meminta uluran tangan dari dunia. Sesekali Bana mengirim pesan kepada orang-orang penting di Amerika seperti Michelle Obama dan Hillary Clinton. Ada masa-masanya Bana berhenti mem-posting tweet. Di waktu yang lain akunnya menghilang membuat netizen beramai-ramai mencarinya dengan hashtag #WhereisBana. Beberapa hari setelahnya diketahui bahwa Bana selamat dan sedang dalam proses evakuasi keluar dari Aleppo.

Setelah beberapa lama akunnya tidak aktif, dunia khawatir gadis cilik ini akhirnya gugur dalam perang. Tapi untunglah Bana selamat dan bisa menceritakan perjuangannya keluar

Bana saat masih di Aleppo via www.newyorker.com

Sekian lama memohon pertolongan dunia, akhirnya Bana dan keluarga punya kesempatan untuk keluar dari segala konflik di Suriah. Namun prosesnya pun tidak mudah. Berkali-kali Bana harus bersembunyi dari satu tempat ke tempat yang lain, saat rumahnya hancur oleh bom. Mereka terombang-ambing selama 24 jam dalam bus tanpa air dan makanan, seperti tawanan. Ketakutan dan kecemasan juga terus mendera, sebab beberapa bus yang mengangkut pengungsi dari Aleppo juga mengalami serangan. Namun setelah itu semua, akhirnya Bana sekeluarga beserta kurang lebih 170 orang lainnya berhasil keluar dari Suriah dan berada di bawah perlindungan pemerintah Turki.

Penderitaannya terjebak dalam perang membuat Bana dianggap sebagai Anne Frank abad 21

Anne Frank yang jadi simbol korban Nazi via tsnnews.com

Di era kejayaan Adolf Hitler, ada seorang gadis yang terkenal karena buku hariannya. Anne Frank, mengambarkan kehidupannya selama menjadi pelarian Nazi. Bagaimana dia sekeluarga harus bersembunyi di ruang rahasia rumahnya sendiri selama 2 tahun dan ketakutan setiap kali mendengar suara sepatu tentara. Anne Frank yang akhirnya meninggal karena tak mampu bertahan dari penyakit Tifus, mungkin tidak pernah tahu bahwa buku hariannya akan dibaca oleh jutaan orang di dunia. Film pun sudah dibuat untuk mengabadikan kisah hidupnya.

Sama halnya dengan gadis cilik dari Aleppo ini. Bana Al-Abed dikenal sebagai “The girl who announced Aleppo”. Dari tweet-tweet-nya, dunia turut merasakan ketakutan dan kecemasan akan kehidupan di masa depan yang terlihat sangat gelap. Karena persamaan kisah hidup yang penuh kecemasan dan ketakutan ini, Bana disebut sebagai Anne Frank abad 21. Mereka sama-sama mewakili kondisi anak-anak tak berdosa yang terlibat dalam konflik perang yang terus-terusan menelan korban.

Meski sudah hidup aman di Turki, Bana tak melupakan teman-temannya. Dia tahu bahwa di negara asalnya, konflik masih menggelora

Bana akhirnya bisa bernapas lega di Turki via twitter.com

Saat ini Bana dan keluarga sudah mulai hidup tenang di Turki. Beberapa kali sang ibu mem-posting foto Bana dan kedua adiknya sedang menikmati kehidupan yang bebas dari hingar bingar letusan bom. Sungguh mengharukan ketika Bana mengungkapkan rasa herannya terhadap betapa damainya hidup di Turki. Konflik berkepanjangan di rumahnya tampaknya membuat Bana berpikir bahwa dunia luar juga seperti Aleppo di mana suara bom adalah sesuatu yang biasa. Meskipun begitu, Bana tetap tidak bisa melupakan tanah kelahirannya. Dia tahu bahwa teman dan saudara-saudaranya di Suriah masih perlu diselamatkan. Maka dari itu, baru-baru ini Bana mengirimkan surat kepada Donald Trump. Kira-kira apa isinya?

Kepada Donald Trump, Bana menulis surat panjang lebar. Menawarkan persahabatan dan permintaan bantuan

Sebelum pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika ke-45, Bana mengirimkan surat yang ditulis dengan tangan. Inilah yang Bana tulis:

Dear Donald Trump, namaku Bana Alabed dan aku anak Suriah berusia 7 tahun dari Aleppo. Seumur hidupku aku tinggal di Suriah sebelum aku meninggalkan Aleppo timur desember tahun lalu. Aku adalah salah satu dari anak-anak Suriah yang menderita karena perang Suriah. Tapi sekarang, aku sudah menemukan kedamaian di rumah baruku di Turki. Di Aleppo, sekolahku hancur karena bom. Beberapa temanku meninggal. Aku sangat sedih dan berharap mereka bersamaku karena sekarang kami bisa bermain bersama. Aku tidak bisa bermain di Aleppo, itu adalah kota kematian.

Sekarang di Turki, aku bisa keluar dan bersenang-senang. Aku bisa pergi ke sekolah meskipun sekarang belum. Ini adalah kenapa kedamaian penting untuk setiap orang termasuk kamu.

Tapi bagaimanapun juga, jutaan anak Suriah tidak sepertiku sekarang dan masih menderita di Suriah. Mereka menderita karena orang dewasa. Aku tahu kamu akan menjadi presiden Ametika, jadi bisakah kamu menyelamatkan anak-anak dan orang-orang di Suriah? Kamu harus melakukan sesuatu karena mereka seperti juga anakmu dan layak mendapatkan kedamaian sepertimu. Jika kamu berjanji akan melakukan sesuatu untuk anak-anak Suriah, aku akan menjadi temanmu. Aku menunggu apa yang akan kamu lakukan kepada anak-anak di Suriah. 

Terima kasih, Pak.

Awalnya, banyak yang meragukan motif dan latar belakang Bana al-Abed yang mencuri perhatian dunia. Terlepas dari semua itu, konflik di Aleppo jelas-jelas nyata dan menelan banyak nyawa

Konflik di Suriah benar-benar memakan korban via www.cnnindonesia.com

Meskipun begitu, banyak yang masih menyangsikan apakah Bana Alabed benar-benar ada di dunia. Bagaimana Bana dan Fatemah bisa tetap ‘ngetwit’ saat perang melanda. Apakah internet masih jalan sementara seluruh kota luluh lantak? Soal ini, Fatemah sudah menjelaskan tentang penggunaan smartphone dengan tenaga surya yang digunakannya. Namun banyak pula yang meragukan kebenaran cerita dan menganggap Bana adalah tokoh yang sengaja diciptakan sebagai bagian dari propaganda. Terlepas dari itu semua, konflik di Suriah benar-benar nyata. Apapun masalahnya, banyak nyawa tak bersalah yang perlu diselamatkan.

Kira-kira Donald Trump sudah baca suratnya Bana belum ya? Dan kira-kira apakah dia akan membalas, seperti dia membalas kritik-kritik yang datang padanya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya