Dunia pendidikan kembali jadi sorotan. Kalau biasanya pelajar dihukum karena melakukan kesalahan fatal seperti merokok di lingkungan kelas, terlibat tawuran atau obat-obatan terlarang, kali ini ceritanya rada berbeda. Sebagaimana dilansir dari Kompas, seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Bogor mengaku dihukum push up sampai 100 kali oleh kepala sekolahnya sendiri gara-gara sudah menunggak bayar SPP berbulan-bulan. Hukuman itu katanya sudah dua kali ia terima.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar: Terus gimana ya nasib siswa-siswi kurang mampu yang orangtuanya memang betul-betul tidak punya uang bayar sekolah? Layak ‘kah mereka menerima hukuman seperti itu? Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum info lengkapnya buat kamu. Yuk, simak!

Siswi SD inisial GNS, mengaku disuruh push up 100 kali oleh kepala sekolahnya cuma gara-gara belum membayar SPP

Siswi inisial GNS via www.viva.co.id

Advertisement

Pelajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bina Mujtama, Bogor, harus merasakan trauma mendalam setelah dihukum push up oleh kepala sekolah-nya sendiri. Siswi insial GNS itu dihukum lantaran menunggak uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak 10 bulan lalu. Dikutip Kompas, orangtua GNS mengaku tidak memiliki biaya untuk melunasi biaya pendidikan anaknya. Kata GNS, ia sudah dua kali dihukum push up. Hukuman itu juga tidak hanya diterima GNS, katanya ada juga beberapa siswa lain yang dihukum push up.

Kepala sekolah SDIT Bina Mujtama membenarkan adanya hukuman push up itu. Tapi kalau soal jumlah, ia mengaku cuma menyuruh GNS push up 10 kali

Ilustrasi hukuman push up via daerah.sindonews.com

Seperti diberitakan Kompas, Kepala Sekolah SDIT Bina Mujtama, Budi, tidak mengelak adanya hukuman yang diberikan ke muridnya yang menunggak uang SPP. Alasannya untuk shock therapy. Awalnya pihak sekolah memanggil GNS untuk berdiskusi soal uang sekolahnya yang sudah lebih dari 10 bulan belum dibayarkan. Setelah diskusi itu, GNS disuruh push up, katanya biar orangtuanya juga mau menemui pihak sekolah. Menurut Budi, orangtua GNS sudah sering dipanggil ke sekolah, tapi tidak pernah datang.

Atas kasus ini, pihak keluarga berencana memindahkan GNS ke sekolah lain. Menurut mereka, GNS sampai trauma dan mogok sekolah karena takut disuruh push up lagi

GNS dilaporkan trauma via megapolitan.kompas.com

Rasa trauma yang dirasakan GNS membuatnya urung berangkat ke sekolah karena takut disuruh push up lain. Berdasarkan keterangan kakaknya seperti dikutip Kompas, GNS sudah 10 hari tidak sekolah dan tidak mau bertemu orang. Alasan inilah yang membuat pihak keluarga kemudian berencana untuk memindahkan GNS ke sekolah lain. Mereka juga berharap tidak ada lagi siswa yang diperlakukan seperti GNS.

Pemerintah Kota Depok sekarang sedang mengusut kasus ini. Soalnya belum jelas juga apakah tunggakan SPP itu betul-betul karena siswi belum sejahtera, atau memang ada alasan lain

Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna via megapolitan.kompas.com

Advertisement

Kasus ini merebak dan jadi sorotan publik, termasuk Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Seperti diketahui, GNS ini sebenarnya adalah warga Depok yang bersekolah di Bogor. Setiap harinya ia menempuh jarak 12 kilometer atau sekitar 29 menit untuk sekali perjalanan ke sekolah. Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, mengatakan kalau pihaknya akan menelusuri dulu apa sebenarnya penyebab GNS menunggak SPP sampai lebih dari 10 bulan. Apakah memang karena kondisi ekonomi yang belum sejahtera, atau memang ada alasan lain.

Selain itu, Pradi juga akan bekerjasama dengan dinas-dinas terkait untuk menangani kasus ini. Seperti kalau GNS memang terbukti trauma, ia akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar pelajar 10 tahun ini diberi pendampingan. Jika memang perlu memindahkannya ke sekolah lain, Pradi akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat. Intinya sih, biar GNS tidak terganggu pendidikannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya