Tren ‘Ogah Nikah’ di 4 Negara dan Sederet Alasan Rasional di Baliknya. Jumlahnya Turun Terus

Tren malas menikah di negara-negara dunia

Meski di Indonesia mungkin masih banyak yang memimpikan nikah muda, tren yang tercatat secara global justru sebaliknya. Angka pernikahan mengalami penurunan di banyak tempat di dunia. Artinya, semakin banyak orang yang menunda pernikahan atau bahkan sama sekali tidak tertarik untuk menikah. Alasannya pun sangat beragam dan kompleks, bukan cuma karena kebanyakan negara barat atau negara maju itu penganut seks bebas seperti bagaimana warganet seringkali berkomentar.

Advertisement

Bukan bermaksud apa-apa, cuma ingin memberi perspektif lain saja kenapa sebenarnya di negara-negara itu angka pernikahan terus menurun dan orang-orang juga makin banyak yang memilih menikah di usia yang lebih tua. Kali ini Hipwee News & Feature sudah mengumpulkan negara mana saja yang orang-orangnya makin malas menikah dan apa sebenarnya alasan di baliknya.

1. Di Jepang, rata-rata orang menikah di usia lebih dari 40 tahun. Mereka punya anggapan menikah muda cuma akan menambah beban finansial. Jadi sukses dulu, baru nikah

Pernikahan di Jepang via alamatko.blogspot.com

Pria Jepang memilih tidak menikah muda karena takut belum bisa menghidupi anak orang. Umur-umur 20-30an memang jadi fase dimana kondisi finansial orang memang belum stabil. Apalagi biaya hidup di Jepang cukup tinggi. Tidak hanya cowok-cowoknya saja, para perempuan Jepang ini juga enggan menikah cepat-cepat, alasannya karena takut kebebasannya terenggut setelah menyandang status sebagai istri orang. Jadinya pada lebih memilih fokus ke karir gitu.

2. Selain Jepang, menurunnya tren pernikahan juga terjadi di Cina. Sebetulnya mereka bukannya malas sih, cuma menunda aja

Tren menikah di Cina via www.thetimesinplainenglish.com

Hampir sama seperti di Indonesia, keluarga di Cina bakal terus-terusan mendorong anaknya yang sudah lebih dari 25 tahun buat cepat-cepat menikah. Tapi kebanyakan anak-anak muda di sana menunda pernikahan karena merasa belum siap secara finansial, dikutip dari ECNS. Ya, lagi-lagi masalah ekonomi jadi alasan terbesar orang terus menunda pernikahan.

Advertisement

3. Tren ‘ogah nikah’ ini juga banyak terjadi di Amerika. Cuma setengah dari penduduk sana yang saat ini memilih buat menikah! Jumlahnya turun sangat drastis dibandingkan tahun 1960an

Orang Amerika juga ogah nikah via kitchat.me

Tidak hanya Jepang, orang-orang Amerika ternyata juga mulai enggan menikah lo. Seperti dikutip dari University of Virginia Magazine, jumlah orang menikah di sana turun 72% kalau dibandingkan dengan tahun 1960, dengan hanya 20%-nya saja yang menikah sebelum umur 30 tahun. Banyak ahli berpendapat, penurunan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh mulai banyaknya perempuan yang bersekolah sampai universitas dan bisa mencari duit sendiri. Menikah jadi dianggap tidak begitu penting.

4. Di Eropa malah lebih parah lagi. Angka pernikahan di sana bahkan lebih rendah dibanding di AS, dan jumlah pasangan yang tinggal bersama juga lebih tinggi

Tren pernikahan di Eropa menurun via www.businessinsider.sg

Orang di negara-negara Eropa seperti Swedia, Perancis, Italia, Irlandia, Polandia, dan Portugal juga mulai malas menikah. Trennya menurun jika dibandingkan puluhan tahun lalu. Sebaliknya, tren tinggal bersama di Eropa –cohabitation– justru mengalami kenaikan. Pernikahan sudah dianggap jadi sesuatu yang tidak penting. Selain itu, ada juga alasan ekonomi yang melatarbelakangi. Kalau dikutip dari The Guardian, orang malas menikah karena pesta pernikahan butuh biaya besar.

Advertisement

Sebuah data juga menunjukkan, hampir setengah penduduk usia 18-30 tahun di Eropa masih tinggal sama ortunya. Ini karena mereka belum punya pekerjaan tetap, utang menumpuk, ditambah harga properti makin gila. Krisis ekonomi ini secara tidak langsung juga berpengaruh pada keengganan orang menikah.

Sebenarnya selain negara-negara di atas, tren ‘ogah nikah’ ini juga terjadi di banyak negara lain, mau negara kaya atau miskin; Australia, Kuba, Mesir, atau Jamaika. Kebanyakan memang karena faktor ekonomi dan kesejahteraan menurun, hidup sendiri aja susah, apalagi menghidupi pasangan dan anak-anak –begitu pikir mereka. Selain itu juga karena meningkatnya kualitas pendidikan dan wanita-wanita terdidik, atau persepsi kalau menikah itu cuma budaya tradisional~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE