Wahai Kaum Sumbu Pendek, Berkumpulah! Yuk Pahami Kenapa Orang Se-Indonesia Makin Gampang Tersulut

Penyebab orang sumbu pendek

Istilah ‘sumbu pendek’ mungkin sudah sering terdengar di telinga kita. Istilah ini jadi sering dipakai untuk menggambarkan bagaimana gampangnya orang zaman now tersulut amarah. Kaum sumbu pendek lebih sering mengutamakan fisik atau emosi daripada berpikir dan menganalisis situasi atau sesederhana mencari kebenaran. Mirisnya, orang-orang dengan kecenderungan ini lebih mudah ditemui di zaman sekarang. Apalagi di media sosial, hadeh~

Advertisement

Fenomena sumbu pendek ini mungkin jadi pertanyaan di benak banyak orang. Sebenarnya kenapa sih banyak masyarakat Indonesia jadi mudah tersulut? Bisa jadi tanpa sadar, kita termasuk di antaranya lo! Kali ini Hipwee News & Feature mencoba membedah, kira-kira apa aja penyebab kita jadi kaum sumbu pendek.

1. Kaum sumbu pendek biasanya justru punya rasa solidaritas tinggi. Nyadar nggak, kita sering lo terlalu naif dan cuma ikut-ikutan, tanpa peduli yang diributkan itu benar atau salah

Atas nama solidaritas via blog.pucc.or.id

Mungkin sumbu pendek itu sebenarnya nggak selamanya buruk. Bisa jadi ini karena kita punya rasa solidaritas tinggi terhadap suatu kelompok tertentu, yang sayangnya tanpa sadar sering membuat kita naif dan pada akhirnya sering cuma ikut-ikutan. Setiap ada suatu keributan, kelompoknya dibela, urusan benar atau salah belakangan, yang penting bersuara dulu. Atau malah ada yang berpikiran, “Nggak apa-apa salah, yang penting dilakukannya ramai-ramai”~

2. Ditambah, kita sekarang juga hidup di lingkungan yang permisif terhadap kekerasan, entah di game online, film, TV, atau yang lain

Dikelilingi konten-konten mengandung kekerasan via www.merdeka.com

Ya, nggak bisa dimungkiri kalau saat ini kita begitu dimanjakan dengan berjuta jenis produk media –film, game online, komik, tayangan TV, dan banyak lainnya. Dalam berbagai macam produk media itu, banyak kita temui adegan kekerasan, baik fisik maupun verbal. Saking seringnya terpapar konten semacam itu, tanpa sadar kita juga jadi sering mengadopsinya ke kehidupan nyata. Lebih sedihnya lagi banyak yang menganggapnya normal dan sah-sah aja 🙁

Advertisement

3. Belum lagi literasi digital di Indonesia yang memang masih tergolong rendah, membuat kita lebih sering menerima mentah-mentah informasi di internet

Literasi digital di Indonesia masih rendah via www.goodnewsfromindonesia.id

Banyak lo penelitian yang bilang kalau literasi digital di Indonesia ini masih sangat rendah. Oke, kita tahu teknologi, kita bisa pakai WhatsApp, Line, Google, Facebook, dan segala aplikasi populer lainnya. Tapi kebanyakan dari kita masih belum paham gimana cara menggunakannya dengan bijak, atau biar nggak terjebak hoaks. Karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan inilah yang akhirnya mendorong kita lebih sering menerima mentah-mentah informasi dari internet. Belum tahu info itu benar atau nggak, eh, sudah ngegas duluan!

4. Rendahnya tingkat pendidikan juga sedikit banyak berpengaruh lo. Kita mungkin jadi nggak paham hukum, nggak paham undang-undang, jadi lebih suka main hakim sendiri

Tingkat pendidikan masih rendah via blogs.worldbank.org

Alasan nomor 3, mungkin juga dipengaruhi sama tingkat pendidikan yang juga masih rendah. Ya, di Indonesia masih banyak banget ‘kan orang yang nggak lulus SMA, bahkan SMP dan SD juga. Kondisi ini membuat kita kadang jadi menomorsatukan ego dibanding logika. Nggak heran kalau kemudian perilaku main hakim sendiri sering banget ditemui. Orang nggak paham hukum pasti mikir hal itu sah-sah aja, padahal dalam undang-undang jelas dilarang dan pelakunya bisa dijerat hukuman.

5. Atau kita tergolong sobat qismin, kebanyakan orang yang lagi terhimpit situasi ekonomi yang sulit itu ‘kan lebih mudah tersulut emosi~

Advertisement

Sobat qismin~ via www.misfitentrepreneur.com

Nah ini yang mungkin jarang kita sadari. Kebanyakan orang yang ekonominya lagi susah –alias sobat qismin– akan lebih mudah tersulut emosi. Tersinggung dikit marah, ada yang nggak sesuai ideologinya juga marah. Pokoknya marah-marah all the time. Ini termasuk karakteristik kaum sumbu pendek lo. Logikanya, kalau orang sudah tercukupi kebutuhannya, nggak punya utang, dan lain-lain, pasti hidupnya lebih tenang dan lebih bisa diajak berpikir pakai kepala dingin, ‘kaaan?

Ya… beginilah kita saat ini. Mau menyangkal juga sulit, karena buktinya juga sudah banyak sih. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah merefleksi dan berusaha berbenah aja, biar level sumbu pendeknya nggak bertambah. Syukur-syukur bisa tobat~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE