Sungguh Ironi PSBB di Jakarta, Warga Malah Kumpul-kumpul Berkedok Nostalgia di McD Sarinah

Warga nostalgia penutupan McD Sarinah

Dua bulan lebih berlalu sejak kasus positif corona di Indonesia diumumkan. Kita semua bisa jadi mulai terbiasa dengan segala aktivitas yang dilakukan dari rumah aja; bekerja, sekolah, belanja, ibadah, sampai meeting penting. Semua kegiatan itu bisa tetap berjalan berkat teknologi. Sebisa mungkin kita memang dituntut memanfaatkan segala fasilitas yang kita punya, demi tetap bisa mengikuti imbauan pemerintah untuk berada di rumah aja.

Advertisement

Tapi faktanya, banyak orang yang masih tetap bepergian walau di wilayah Jakarta sudah resmi diberlakukan PSBB. Iya, iya, sebagian memang ada yang terpaksa keluar untuk mencari nafkah, membeli barang kebutuhan, dan keperluan penting lainnya. Di luar sebagian orang itu, banyak yang masih kumpul-kumpul dan berkerumun untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak mendesak. Seperti yang baru Minggu, 10 Mei kemarin terjadi. Beredar video kerumunan orang di depan McD Sarinah, Thamrin, Jakarta yang sedang bernostalgia karena restoran fast food tersebut resmi tutup permanen hari ini. Duh, kenapa sih??? Kenapa kenapa kenapaaa??

Kabar tutupnya McDonald’s Sarinah ternyata bikin sedih banyak orang. Alhasil, “upacara” penutupannya kemarin malam sampai dihadiri banyak orang. Mereka rela melanggar aturan PSBB demi bernostalgia

Sudah sejak beberapa hari lalu, media sosial diramaikan dengan kabar tutupnya McD Sarinah di Jakarta. McD pertama di Indonesia itu terpaksa harus ditutup karena manajemen mal akan melakukan renovasi besar-besaran. Karena sudah berdiri puluhan tahun, restoran fast food tersebut meninggalkan banyak kenangan di hati masyarakat. McD Sarinah jadi saksi banyak mahasiswa menyelesaikan kuliahnya, pasangan yang nge-date buat makan burger, atau keluarga yang makan bareng dan berburu happy meals.

Advertisement

Nggak heran kalau tutupnya McD Sarinah bikin sedih banyak orang. Sampai-sampai, waktu manajemen menggelar “upacara” penutupan kemarin malam, banyak banget yang dateng dan berkerumun. Iya sih, pada pakai masker, tapi mereka banyak yang lupa aturan jaga jarak minimal. Takutnya momen kumpul-kumpul berkedok nostalgia kemarin bisa menimbulkan cluster penularan baru!

Bukan cuma Minggu malam itu aja, sebenarnya massa sudah menggeruduk McDonald’s Sarinah sejak siang hari demi bisa menikmati sajian terakhirnya. Ya, walaupun cuma bisa di-take away, tapi kaaan, tetep aja 🙁

McD Sarinah via finance.detik.com

Imbauan PSBB rupanya nggak menyurutkan keinginan masyarakat yang ingin berkunjung ke McD Sarinah untuk terakhir kalinya. Mereka juga berfoto-foto di depan restonya, foto bareng ikon Ronald, atau selfie sama keluarga. Nggak sedikit juga yang langsung membagikannya ke media sosial. Kita-kita yang selama ini tertib ngikutin aturan PSBB dan tetap di rumah aja jadi ngerasa rada sia-sia gitu nggak sih. Sedih aja saat yang lain bener-bener menahan diri buat nggak keluar kecuali ada keperluan yang sangat penting, eh, malah banyak orang yang rela kumpul-kumpul cuma demi konten dan nostalgia. So sad…

Tapi sebenarnya yang jadi pertanyaan besar adalah, kenapa ya pihak manajemen sempet-sempetnya bikin seremonial penutupan di tengah imbauan physical distancing?

Advertisement

Manajemen menggelar seremonial sebelum penutupan permanen via jakarta.tribunnews.com

Momen penutupan McD kemarin dilakukan secara resmi oleh pihak manajemen dan menyiarkannya juga secara live di akun Instagram mereka. Dalam video siaran itu terlihat juga manajemen yang memberikan cinderamata untuk pelanggan terakhir. Lalu dilanjutkan penguncian pintu masuk gerai secara simbolis sebagai tanda berakhirnya operasional restoran itu untuk selamanya.

Pertanyaannya, kenapa pihak manajemen sempet-sempetnya bikin seremonial yang berisiko mempertemukan banyak orang di tengan pandemi kayak gini ya? Tentu aja mereka nggak mungkin lupa kalau pemerintah belum mencabut status PSBB di Jakarta. Kalau pun mau bikin seremonial kecil-kecilan, biar ada dokumentasinya gitu, harusnya cukup dilakukan pihak manjemen dan karyawan aja, nggak perlu melibatkan masyarakat kayak kemarin. Harusnya juga diselenggarakan di tempat tertutup biar massa nggak tertarik buat datang. Kalau mau masyarakat tetap menyaksikan, toh bisa ditayangkan secara live.

Sekarang yang bisa kita lakukan cuma berdoa supaya acara kemarin nggak menimbulkan cluster persebaran baru. Semoga ke depannya nggak bakal ada acara kumpul-kumpul yang tidak terlalu mendesak lagi, dan semoga wabah ini bisa segera berakhir. Ingat, tahan-tahan dulu ya jiwa-jiwa ekstrovert-nya~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE