Demi Tekan Inflasi, Gubernur NTT Imbau Warganya Jalan Kaki. Begini Tanggapan BPS

Kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat kini tengah menjadi sorotan. Setelah mengeluarkan kebijakan masuk sekolah jam 5 pagi untuk siswa SMA dan SMK se-NTT, kini gubernur Viktor kembali membuat Surat Edaran (SE) yang mengimbau warga NTT untuk berjalan kaki demi menekan laju inflasi.

Kebijakan ini menimbulkan tanggapan yang beragam dari berbagai pihak, termasuk Bdan Pusat Statistik (BPS) yang masih belum bisa melihat keterkaitan imabaun jalan kaki dengan laju inflasi daerah. Seperti apa sebenarnya kebijakan itu, dan gimana tanggapan BPS?

ADVERTISEMENTS

Gubernur NTT keluarkan Surat Edaran (SE) yang mengimbau warganya untuk berjalan kaki demi menekan laju inflasi

warga ntt

Ilustrasi jalan kaki | Photo by Daniel Reche from Pexels

Kebijakan tentang imbauan jalan kakai untuk menekan laju inflasi di NTT menjadi perhatian publik. Melansir dari CNN Indonesia, Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT Lery Rupidara, menjelaskan bahwa imbauan jalan kaki tersebut tercantum dalam Surat Edaran yang diteken pada tanggal 7 November 2022.

Lebih lanjut, Lery menjelaskan bahwa kondisi inflasi di tingkat daerah maupun nasional tengah melonjak. Sehingga pemerintah NTT membuat kebijakan yang mengimbau warganya untuk berjalan kaki atau bersepeda sesuai dengan kemampuan.

“Tanggal 7 November 2022 itu ada edaran bersifat himbauan untuk berjalan kaki atau bersepeda bebas kemana pun berapa jarak pun terserah kemampuan dan kebutuhan setiap orang,” ujar Lery dikutip dari CNN pada hari Selasa, (28/2).

Lery juga memaparkan bahwa imbauan tersebut bersifat moral dan tidak wajib untuk dilaksanakan dan tidak ada sanksi bagi yang tidak menjalankan. Menurut Lery, kebijakan tersebut bertujuan untuk mengendalikan inflasi. Selain inflasi, kebijakan ini dihadirkan sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.

“Himbauan bersifat moral karena itu kan hak asasi orang. Sederhana saja. Hal ini dalam rangka pengendalian inflasi juga ramah lingkungan dan sehat, ini bersifat imbauan,” tambahnya.

Lery menegaskan bahwa aktivitas berjalan kaki memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya yaitu dapat menghemat bahan bakar minyak yang harganya semakin melonjak. Lery juga mengimbau masyarakat mampu untuk tidak menghambur-hamburkan uang dan lebih baik ditabung.

“Tapi memang pertama sekali dalam rangka inflasi, juga untuk pencegahan emisi gas buang, ramah lingkungan, dan buat kesehatan. Walaupun sudah kaya, simpan uang lah untuk hal lain,” imbuh Lery dikutip dari Kompas hari Selasa (28/2).

Selain alasan menekan inflasi, Lery juga membeberkan terkait penelitian tentang orang Indonesia yang malas jalan kaki, sehingga kebijakan itu diharapkan bisa meningkatkan kebiasan jalan kaki, khususnya untuk warga NTT. Kendati demikian, SE imbauan warga NTT untuk jalan kaki tetap dianggap tak memiliki dasar yang kuat.

ADVERTISEMENTS

Badan Pusan Statistik masih belum bisa melihat keterkaitan imbauan jalan kaki dan inflasi di NTT

Kata BPS terkait imbauan jalan kaki

Kata BPS terkait imbauan jalan kaki | Foto dari Instagram @bps_statistics

Melansir dari CNN Indonesia, dalam konferensi pers pada hari Rabu (1/3), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, mengatakan bahwa Surat Edaran yang diterbitkan oleh Gubernur NTT ini merupakan fenomena yang luar biasa. Menurutnya, seolah-olah inflasi hanya dihitung dari komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat saja.

“Luar biasa ini fenomenanya. Jadi inflasi ini dihitung berdasarkan harga komoditas yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Pudji dikutip dari CNN.

Pudji juga menerangkan bahwa BPS belum meneliti bahwa apakah jalan kaki bisa mempengaruhi inflasi atau tidak. Karena ini merupakan fenomena baru yang hadir sebagai kebijakan. BPS masih terus memantau lebih lanjut.

“Jadi BPS belum memantau apakah imbauan ini (jalan kaki) nanti dapat mempengaruhi demand yang selanjutnya akan mempengaruhi harga dan pada akhirnya mempengaruhi inflasi. Jadi nanti kita lihat,” lanjutnya.

Direktur Statistik Distribusi BPS, Efliza, juga memberikan pemaparannya setelah konferensi pers. Pihaknya juga belum paham atas dasar apa Gubernur NTT mengambil kebijakan tersebut. BPS harus mengetahui terlebih dulu komoditas apa saja yang mempengaruhi inflasi di kota itu.

“Saya gak paham juga dasarnya apa gitu, perlu dicari juga. Perlu tahu komoditas apa yang memiliki bobot tertinggi dalam perhitungan inflasi di kota itu, itu baru bisa kita kaitkan, apakah jalan kaki bisa menahan inflasi. Kita sendiri juga gak paham beliau mengambil kebijakan seperti itu dasarnya apa,” ungkap Efliza dilansir dari CNN.

Omong-omong soal inflasi, memang sedang menjadi persoalan mulai dari tingkat daerah hingga nasional ya SoHip. Inflasi sendiri merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Hal-hal yang mempengaruhi laju inflasi antara lain adalah penambahan jumlah uang yang beredar, ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, dan adanya peningkatan biaya produksi.

Hmm, kalau imbauan jalan kaki warga NTT dilaksanakan, kira-kira bisa benar-benar menekan inflasi di daerah itu tidak ya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Introvert

Editor

Penikmat buku dan perjalanan

CLOSE