Di era awal industri sinema berdiri, film romantis merupakan genre yang sudah sangat ‘seksi’ , laris manis dan tak pernah surut masanya. Bahkan, menonton film romantis di bioskop sudah menjadi sebuah preferensi paling populer atau simbol keromantisan dari pasangan kencan. Cuma mitos jika film romantis dianggap hanya sebagai pemenuhan selera kaum hawa.

Lazimnya bergaya drama, film romantis digarap sebagai medium untuk menyuguhkan visualisasi yang mampu memperkuat unsur emosi dari narasi-narasi romantika. Dengan kata lain, tugas film romantis adalah membuat kisah-kisah asmara terasa lebih nyata. Setidaknya, pilihannya kemudian ada dua: 1) penonton akan tersentuh karena merasa apa yang terjadi dalam layar sinema dekat dengan apa yang ia alami di kehidupan nyata. 2) penonton akan mengharu biru karena sukses dibuai dengan imajinasi-imajinasi indah dan dramatis yang dibangun oleh film.

Nah, berangkat dari kemungkinan nomor dua, artikel ini mencoba membedah elemen-elemen cerita dalam film romantis yang sejatinya tidak diadaptasi dari realitas umum, melainkan memang disusupkan sebagai modal dramatisasi saja. Harapannya sih kamu jadi bisa lebih jernih dalam memandang kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kehidupan asmaramu, alih-alih tersesatkan oleh gambaran dalam layar perak yang tujuannya sekadar untuk menambah daya hibur. Tapi Hipwee tidak bertanggung jawab ya jikalau setelah membacanya kamu jadi sukar untuk puas atau girang kala menonton film-film romantis lagi 🙂

1. Berbondong-bondong lelaki bergegas ambil nomor antrian untuk mengencani wanita yang baru saja di-makeover

Seperti iklan make-up via www.theodysseyonline.com

Tak terhitung lagi film drama romantis dengan garis besar kisah perihal cewek kuper dengan ‘kemasan’ culun yang bukan siapa-siapa lalu disulap menjadi cantik dan menjelma primadona. Film-film itu disebut dengan makeover movie. Di Indonesia sendiri entah sudah ada berapa FTV yang memakai formula ini. Faktanya, tak banyak cewek yang pasca menahun terpinggirkan di pergaulan untuk rela saja menyerahkan nasib penampilannya pada kawan-kawannya yang iseng. Biasanya wanita seperti ini cenderung keras kepala dan sudah mengaku nyaman dengan penampilannya yang apa adanya. Pun kalau ia rela, berdandan bukan cuma masalah niat, tapi juga kepekaaan dan pengalaman. Kalau biasanya sudah jarang dandan, bakal susah bagi seseorang untuk konsisten menampilkan gaya bersolek yang lebih mencuri perhatian. Toh para laki-laki juga tak akan seagresif itu untuk tiba-tiba bernafsu menyeriusi seseorang hanya karena transformasi penampilan. Ada beribu hal lain yang tetap dipertimbangkan.

2. Kamu adalah sosok introver dan kuper, lalu entah dari mana asalnya muncul sosok tampan super-populer yang naksir dan mengubah hidupmu

Advertisement

From zero to hero via filmz.dk

Biasanya formula ini banyak hadir di drama-drama dengar latar kehidupan SMA. Nggak selalu cewek, bisa juga kisahnya bermuara pada seorang cowok yang selama ini dirisak atau di-bully oleh kawan-kawannya. Di antara masa-masa gelap itu, munculah cewek idola satu sekolah yang mengulurkan tangan untuk membantunya menghadapi segala penindasan. Ujung-ujungnya si cowok jatuh hati dan akhirnya menaklukan hati sang cewek. Oke, sarana motivasi yang bagus, namun butuh banyak berangan-angan. Faktanya, cewek-cewek idola akan berpikir dua kali untuk memilih seorang cowok yang bahkan tidak bisa menyemangati dan menolong dirinya sendiri. Entah cowok maupun cewek sebenarnya selalu mendambakan sosok yang bisa mendukung dan setiap saat memberikannya inspirasi. Daripada menggantungkan diri pada pertolongan dari harapan palsu di sinema, mending berjuang maksimal untuk membuktikan diri pada mereka yang doyan meremehkan.

3. Satu tokoh bingung mencari pasangan untuk dibawa ke acara pernikahan atau pesta, lalu akhirnya ia terpaksa mengajak seseorang yang belum terlalu dikenalnya. Awalnya cuma jadi pasangan pura-pura, namun akhirnya keduanya benar-benar menjalin hubungan yang serius

Dibayar buat jadi pacar via Time%20Best

Ini sudah masuk kategori ‘hampir mustahil’ jika pada dasarnya kamu belum masuk di teritori pergaulan terdekatnya. Apalagi kebanyakan karakter utama dalam film adalah cowok atau cewek populer yang punya paras di atas rata-rata. Apa tidak ada orang lain yang lebih menggebu-gebu untuk meraih kesempatan pergi berdua bersamanya sampai ia harus memilihmu, yang mungkin baru dikenalnya via media sosial beberapa hari sebelumnya?

4. Sebuah keniscayaan untuk membawa pulang cowok ganteng atau cewek seksi dari bar dan kafe

Take away, kayak makanan aja ~ via www.playbuzz.com

Acapkali pasangan utama dalam kisah film-film drama dipertemukan pertamakalinya di sebuah kafe, klub malam, atau bar. Biasanya si tokoh utama mulanya melihat seseorang yang rupawan, terpukau, mendekatinya untuk berkenalan diiringi gombalan-gombalan aneh, lantas pulang berdua. Seakan tempat-tempat ini seperti jawaban atas kebutuhan mencari pasangan, sejelas toko buku untuk orang yang mencari buku. Biarkan itu menjadi ekspetasi saja, karena kenyataanya berbeda. Memang kemungkinan kita akan menemukan banyak sosok-sosok berpenampilan memikat di tempat-tempat itu, namun biasanya mereka juga punya kesibukan sendiri yang membuatmu akan berpikir sejuta kali dahulu untuk berani ambil langkah mengajak kenalan. Pun jika ajakan berbincang itu diterima, ada keberuntungan dalam level tertentu untuk membuatnya bakal berminat melanjutkan komunikasi di waktu-waktu setelahnya.

5. Adalah hal lazim untuk memasrahkan masalah hubungan asmara ke layanan terapi atau konsultasi hubungan

apa guna teman selain untuk curhat via woo-site.com

Nggak salah juga sih, tapi pada kenyataannya kebanyakan orang malas untuk membawa masalah asmara ke pangkuan jasa konsultasi hubungan. Apa gunanya teman-teman yang sebegitu banyaknya itu selain untuk ladang curahan hati? Apalagi jaman sekarang kita sudah difasilitasi oleh media sosial untuk berkeluh kesah dan menggerutu sepuasnya di sana. Tapi kalau niatnya memang untuk memberi rejeki orang-orang yang mencari nafkah di jasa semacam itu ya silahkan, daripada bikin polusi di media sosial.

6. Tiba-tiba ada mantan yang datang di acara perkawinan dan berteriak “Hentikan pernikahan ini!”

Faktanya memang ada sih manusia-manusia antik model begini jika kalian berniat mencarinya di mesin pencari (google, bing, dan lain-lain). Tapi itu adalah kasus langka, yang mana juga bisa kita duga kalau mereka nekat melakukannya lantaran terinspirasi dari film-film. Jadi tenang saja kalau kamu nantinya melangsungkan acara pernikahan, mudah-mudahan mantan-mantanmu sudah minum obat. Atau jangan-jangan ada di antara kamu yang justru punya rencana menculik mantan di pernikahannya? Kelakuan ini mungkin memang tampak heroik, romantis, dan mengundang simpati di film. Namun, di dunia nyata, orang-orang seperti ini malah cenderung lebih terlihat sebagai orang kalah yang norak. Masih harus bersyukur jika kamu cuma dipergunjingkan dan diusir, tidak sampai disiram pakai kuah sop manten atau dijadikan sendok es krim.

7. Adegan seks selalu terlihat luar biasa dan meluap-luap

ini yang kamu tunggu-tunggu kan? via www.sidereel.com

Tentu saja adegan seks dalam film harus ditampilkan dengan visualisasi yang menawan dan berkesan. Selain sebagai representasi sejauh apa hubungan antara dua karakter yang terlibat, adegan seks dipercaya merupakan adegan yang pasti mencuri perhatian, sehingga mesti diistimewakan dan tak digarap sembarangan. Ada rambut yang tergerai begitu indah, keringat yang bercucur dengan seksi, dan ciuman penuh berahi di ranjang sehabis bangun tidur… hei, yakin tak mempertimbangkan bau nafas di pagi hari? Semua fase-fase kegiatan seksual itu juga berjalan lancar tanpa ada kesulitan-kesulitan yang harus ditata dulu lewat obrolan basa basi canggung. Salah satu contohnya ya hampir tidak pernah ada adegan memakai kondom.

8. Semua hanya soal cinta, tidak ada masalah lain di dunia ini

makan tuh cinta via www.today.com

Ini penyakit yang paling mengakar di seluruh film romantis yang tidak digarap serius. Seakan-akan masalah yang ada di dunia ini hanya soal cara mendapatkan hati si dia, atau “mengapa takdir tidak mengijinkan kita bahagia bersama?” Tentu saja perkara asmara jadi subjek utama jika genre-nya memang film romantis, namun film yang baik adalah yang mampu mengelaborasikan tema besar apapun dengan realitas kehidupan yang sebenarnya, termasuk memperbincangkan persoalan asmara dalam konteks sejarah, karir, lingkungan sosial, atau budaya  yang relevan. Ada yang salah jika satu-satunya problema yang dihadapi si tokoh adalah semata masalah cinta. Relasi romantika antara pasangan beda agama atau beda latarbelakang ekonomi misalnya, tentu tak akan terselesaikan dengan sedirinya hanya karena modal rasa cinta yang kuat dan harmonis. Kamu mesti tahu ada segudang masalah lain yang menunggu diselesaikan dengan akal. Sadari itu setiap kelar menonton film ya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya