Kepopuleran mengabadikan wajah sendiri dalam media foto atau selfie kini diikuti dengan kecenderungan mengedit wajah dalam selfie tersebut jadi sekinclong mungkin. Berbagai macam aplikasi pun tercipta untuk menjadikan foto selfie yang ada jadi semakin tampak menawan. Kalau sekedar mengedit untuk mengatur cahaya atau efek gambar sih nggak masalah. Tapi, nggak sedikit lho orang yang mengedit foto dirinya dengan penuh totalitas sebelum mengunggahnya ke dunia maya.

Mungkin, kamu punya teman yang bikin pangling ketika melihat foto-fotonya di jejaring sosialnya lantaran postingan fotonya jauh berbeda dengan wajah aslinya. (Atau kamu sendiri punya wajah asli dan selfie yang beda?)

Mempermak wajah di foto sampai beda dari wajah asli mungkin adalah tanda kalau mereka nggak percaya sama diri sendiri.

Sebelum dan sesudah

Sebelum dan sesudah via www.google.co.id

Advertisement

Mereka yang hobinya mengedit total wajahnya sebelum di-posting ke jejaring sosial sudah pasti kurang percaya diri. Mereka menganggap kalau tampang mereka nggak layak tampil tanpa bantuan aplikasi. Enggak heran kebanyakan dari mereka kalau posting pakai hashtag #latepost soalnya selfienya aja udah berkali-kali, dari berbagai sudut, untuk mencapai kesempurnaan. Ditambah lagi harus diedit lama banget sampai kelihatan seperti boneka barbie. Kira-kira, kalau dia selfie-nya hari Sabtu, hari Selasa dia baru posting di instagram.

Kalau dia aja gak percaya sama dirinya sendiri, kenapa orang lain harus percaya sama mereka?

Jangan-jangan ini malah wajah aslinya

Jangan-jangan ini malah wajah aslinya via www.google.co.id

Mereka yang sukanya ngedit foto berlebihan tanda kalau mereka nggak percaya sama diri sendiri. Terus, kenapa orang lain mesti percaya sama dia? Jangan-jangan fotonya pas lagi ke luar negeri editan semua lagi? Jangan-jangan foto pacarnya editan juga lagi? Atau jangan-jangan mukanya emang palsu bisa diganti-ganti? Hiii!

Mereka tertipu mindset bahwa ‘cantik atau ganteng’ harus sesuai dengan konsep yang ditanamkan si aplikasi bukan dari dirinya sendiri.

Cantik menurut aplikasi

Cantik menurut aplikasi via www.google.co.id

Tiap orang punya definisi cantik atau ganteng menurutnya sendiri. Sisi menarik setiap orang pun bermacam-macam. Mereka yang sukanya mengedit foto diri sampai jauh berbeda dengan wajah aslinya berarti sudah termakan oleh konsep cantik atau ganteng yang ditanamkan si aplikasi. Bayangkan kalau semua orang di sosial media fotonya sama semua nggak ada yang berbeda. Mata yang sipit bisa sedikit di lebarkan, wajah yang lebar bisa ditiruskan, kulit yang gelap bisa diputihkan, bibir semuanya merah. Terus apa kabar sama cewek curvy yang tetap sexy? Atau cowok oriental yang matanya tajam?

Maksudnya sih pengen nambah follower di instagram, tapi ya nggak gitu juga keleeesss!

Yang apa adanya lebih cepat ngetop lho!

Yang apa adanya lebih cepat ngetop lho! via www.google.co.id

Advertisement

Dengan posting foto selfie yang tampak bersinar, mungkin mereka bisa dapat perhatian lebih di instagram atau jejaring sosial lainnya. Follower yang meningkat, puji-pujian dari orang yang belum pernah dikenal sebelumnya, bahkan punya fans. Tapi, bukan mendapatkan teman-teman yang menerima apa adanya. Sekali foto tanpa editan tersebar, langsung bubar!

Mungkin bakal ada yang tertarik kenalan karena foto yang menipu itu, tapi pas ketemu langsung ‘bye’.

Dipukul kenalan online karena pakai foto palsu

Dipukul kenalan online karena pakai foto palsu via medan.tribunnews.com

Dari foto diri yang diedit sedemikian rupa sehingga menjadi jauh berbeda dengan wajah asli tersebut mungkin ada seseorang yang tertarik untuk kenalan (di Tinder, misalnya). Beberapa kali chatting dan kemudian merasa nyambung. Biasanya perasaan yakin untuk ketemu itu datang karena sudah nyambung dan si kenalan ini mau menerima dengan apa adanya walaupun aslinya tak sesuai dengan di foto.

Pada kenyataannya, banyak kasus orang yang kecewa karena ketika bertemu jauh berbeda dengan tampilan di foto yang telah di-edit. Alhasil, tanpa basa basi langsung ditinggalkan. Seperti salah satu contoh kasus di Cina, si pria sudah menghabiskan banyak uang untuk menemui teman kencan yang dikenal lewat online, eh ternyata tak sesuai bayangan.

Mereka yang kabur saat bertemu dan mendapati sang kenalan berbeda dari foto itu bukan berarti orang tersebut hanya melihat orang dari penampilan fisiknya lho! Dia mungkin hanya kecewa karena telah merasa tertipu.

Mereka yang sebenarnya nggak terlalu peduli sama penampilan, bisa jadi ilfil karena merasa ketipu.

Mirip kok!

Mirip kok! via www.google.co.id

Mungkin ada teman yang punya perhatian dan simpati khusus tanpa memperdulikan penampilan, tapi setiap kali lihat postingan fotonya kok berbeda dari wajah asli yang dikenal? Simpati (bisa dibilang naksir) itu pun jadi kandas seiring ilang perasaan alias ilfil lantaran ternyata dia yang disuka foto-fotonya palsu. Duh, sayang banget kan? Padahal banyak lho orang yang bisa naksir tanpa melihat tampilan fisik. Jadi hilang deh gara-gara nggak percaya diri dengan ngedit foto berlebihan.

Itu muka apa skripsi kok pakai editannya banyak banget?

Bapak kamu editor ya?

Bapak kamu editor ya? via www.google.co.id

Yang perlu ditegaskan, itu wajah, muka; ada mata, hidung, bibir dll. bukan artikel atau skripsi! Jadi nggak perlu diedit banyak banget sampai merubah tampilan aslinya. Membuat foto tampak lebih bagus sih sah-sah saja, tapi kalau sampai mengubah wajah, itu namanya pembohongan publik.

Percaya pada pemberian Tuhan, karena kamu pada dasarnya udah emang cantik dan ganteng.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya