Mengenal Budaya Tilik Khas Masyarakat Jawa, Menjaga Tali Silaturahmi itu Wajib Hukumnya

Budaya tilik

Film pendek “Tilik” menjadi trending selama sepekan. Penontonnya pun hingga kini mencapai 16 juta lebih. Sebuah rekor baru film pendek disaksikan begitu banyak penonton di platform YouTube. Berkat keviralannya, pemain bu Tejo diundang ke acara-acara TV, sutradara dan produsernya pun diwawancara banyak media. Gokil!

Advertisement

Lantas apa yang membuat film “Tilik” ini begitu spesial? Selain akting bu Tejo yang kocak dan nyebelin, tentu saja ceritanya yang dekat dengan kehidupan sosial penonton. Film ini mengangkat budaya tilik yang lazim dilakukan oleh orang-orang desa terutama di Jawa. Buat yang belum paham, simak ulasan berikut ini.

Sebelum lebih jauh ngomongin budaya tilik, penting kiranya untuk tahu arti tilik dari segi bahasa

Dalam bahasa Jawa, tilik artinya lihat. Namun dalam konteks tertentu, maknanya bisa berubah seperti misalnya saat rombongan ibu-ibu bertandang ke rumah sakit untuk melihat Bu Lurah yang sakit, makna tilik berubah jadi “jenguk”. Dalam bahasa Indonesia pun kata tilik memiliki makna penglihatan yang teliti, sinar (pandangan) mata, dan tenung, teluh, yang memilik kata turunan menjadi menilik. Nah, kata menilik ini bermakna melihat dengan sungguh-sungguh; mengamat-amati, mengawasi; memeriksa, melihat, memandang; menganggap, melihat (meninjau) dari, dan menjenguk.

Budaya tilik nggak hanya dilakukan untuk menjenguk orang sakit sebagaimana di film pendek “Tilik”

Tilik bisa diartikan sebagai aktivitas mengunjungi tetangga atau kerabat. Masyarakat desa punya beberapa budaya mengunjungi nggak melulu dengan tujuan menjenguk orang sakit. Aktivitas menyambangi bersama-sama ini juga dilakukan ketika ada kerabat yang baru saja melahirkan. Istilahnya jadi tilik bayi. Tujuannya beragam, untuk melihat kondisi bayi, ibunya (agar cepat pulih), dan utamanya untuk menjaga tali silaturahmi.

Advertisement

Begitu pula ketika ada kerabat yang baru pulang ibadah dari Makkah. Istilahnya jadi “tilik haji”.

Film “Tilik” berhasil menggambarkan budaya tilik yang sesungguhnya. Kalau anak muda nongkong, maka emak-emak tilik

Nongkrongnya ibu-ibu. via riauaktual.com

Dalam beberapa wawancara, Wahyu Agung Prasetyo (sutradara Tilik) mengatakan bahwa film ini diangkat dari kisah nyata. Pernyataan itu didukung oleh realitas yang ada. Sampai sekarang masih ada budaya menjenguk kerabat beramai-ramai seperti itu. Bagi ibu-ibu, cara ini dianggap seru. Kapan lagi, kan, punya kesempatan ngumpul, ngobrol bareng-bareng kala kerjaan rumah menumpuk. Tilik ini udah kayak ajang nongkrongnya ibu-ibu. 😀

Lantas apakah selalu naik truk? Ya, tergantung~

Advertisement

Truk, angkot, pickup, dan lain sebagainya. via mantrasukabumi.pikiran-rakyat.com

Satu hal yang menjadi perhatian warganet dalam film “Tilik” adalah kendaraan yang digunakan. Banyak yang heran soal penggunaan truk. Keheranan yang umumnya berasal dari warga kota atau orang yang berasal dari pulau lain. Dalam beberapa kasus, truk muatan memang digunakan ibu-ibu untuk tilik. Di desa, yang punya mobil pribadi bisa dihitung jari. Kendaraan yang sanggup menampung orang banyak barangkali hanya truk. Sewa bus mahal.

Meski begitu, kadang kala ada juga yang menggunakan angkot, kendaraan mirip kereta (mesinnya mobil, tapi bentuknya kereta), mobil pick up, dan lain sebagainya. Semua bergantung pada kuota dan bujet yang ada.

Inti dari tilik adalah silaturahmi. Menjaga ikatan dengan kerabat merupakan hal yang penting dilakukan masyarakat desa. Film pendek “Tilik” telah membuka mata bahwa budaya masyarakat desa di Indonesia itu unik-unik. Itu baru di Jawa lo, belum di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau lainnya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE