Wacana soal mencari cewek berdasarkan fisiknya, mungkin sampai sekarang masih berlaku bagi beberapa cowok. Entah dari mana, tapi pandangan ini seperti telah mengakar serabut di pikiran cowok. Tapi beda halnya dengan cowok-cowok yang memang serius dalam menjalin hubungan. Jauh dari melihat bentuk fisik, cowok yang benar-benar mencari pasangan hidup tentu akan berpedoman pada beberapa hal mendasar, seperti yang akan diuraikan oleh Hipwee Boys berikut ini. Coba disimak, yuk, Boys!

Ketika ada cowok yang melihat fisik cewek sebagai kekasih hati, rasanya cukup wajar. Tapi harusnya, paras ayu dan tubuh molek adalah bonus belaka

Holding hands. via www.pexels.com

Sebagai makhluk visual, akhirnya menjadi wajar ketika cowok menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Demikian halnya ketika cowok memilih cewek sebagai pendampingnya. Nggak sedikit dari mereka yang memilih pasangan berdasarkan paras ayu, tubuh aduhai, dan sebagainya (pun sebagian cewek ketika melihat cowok).

Advertisement

Tapi akan menjadi beda cerita ketika cowok memilih pasangan bukan sekadar dari fisiknya. Mereka yang tengah berjuang untuk menyeriusi ceweknya, tentu akan melihat fisik sebagai bonus belaka, bukan hal utama.

Banyak yang bilang bahwa kecerdasan anak merupakan keturunan genetik dari sang ibu. Dari sini, harusnya cowok paham akan masa depan keturunannya sendiri

Lucu! :3 via unsplash.com

Biasanya, cowok yang memang serius mendekati cewek untuk menjadi istrinya kelak, sudah mempertimbangkan hal satu ini. Konon, banyak penelitian yang mengatakan bahwa kecerdasan anak merupakan turunan genetik dari sang ibu. Ada benarnya, meski pengaruh genetik dari kromosom ibu nggak terlalu signifikan, tetapi hal ini cukup besar dibandingkan pengaruh dari sang ayah. Meskipun, kembali lagi, tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya, bukan cuma ibu atau ayah semata.

Bukannya mau mendeskreditkan cewek yang nggak bisa masak, tetapi istri yang bisa memenuhi kebutuhan perut suami adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga

Manyantap makanan penuh cinta dari istri. via www.pexels.com

Kalau mau menarik diri jauh ke belakang, masa-masa di mana stereotip tentang “cewek jago masak adalah istri terbaik” adalah sebuah petuah yang dijunjung oleh para orang tua, maka hal ini kadang ada benarnya juga. Meski zaman sekarang sudah nggak berlaku lagi stereotip semacam ini, tapi percayalah, cowok mana sih yang nggak bahagia dengan masakan yang dibuat dengan penuh cinta oleh sang istri? Meski kamu nggak jago masak, selama itu buatanmu sendiri, cowok pasti suka kok. Paling nggak, cowok menghargai usahamu untuk membuat perut tetap kenyang.

Advertisement

Pada dasarnya, tujuan memasak di rumah adalah agar suami nggak jajan di luar. Hemat.

Kelak ketika sepasang suami-istri memasuki usia senja, apa yang mereka butuhkan? Nggak lain adalah teman ngobrol, hanya itu!

Teman bercakap. via www.pexels.com

Hal inilah yang menjadi esensi dari sebuah hubungan. Ya, teman ngobrol. Apa yang penting dari sebuah hubungan? Kelak ketika kamu sudah menikah dan memasuki usia senja, yang kalian butuhkan hanyalah teman ngobrol. Anak-cucumu sudah mandiri dan membina rumah tangga sendiri. Di rumah, hanya kamu dan istrimu. Apa yang bisa kalian lakukan berdua? Nggak lain, hanya ngobrol. Di sinilah esensinya.

Maka dari itu, mencari pasangan itu nggak sebatas melihat bentuk fisiknya semata. Tetapi lihatlah bagimana cara kalian berkomunikasi. Komunikasi yang baik, dipercaya dapat meningkatkan kualitas hubungan yang kian baik. Kalau kalian ngobrol aja nggak nyambung, bagaimana bisa membina hubungan berdua?

Sementara kalau kamu hanya melihat cewek dari bentuk fisiknya, apakah kelak ketika istrimu sudah melahirkan bayi-bayi lucu dan menggemaskan, lantas tubuh istrimu nggak semenarik seperti saat kalian bertemu kali pertama, yakin kamu masih bisa menerimanya seperti sedia kala? Kalau rasa cintamu pada istri nggak berubah sih, nggak masalah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya