Sesuai kodratnya, cowok memang diplot sebagai pemimpin. Terlebih kalau sudah berumah tangga. Cowoklah yang harus memimpin istri dan anak-anaknya di jalan yang benar sesuai dengan anjuran agama mana pun. Akan menjadi masalah kalau cowokmu nggak bisa menjadi pemimpin. Kalau bukan dia yang memimpin, siapa lagi? Mau dibawa ke mana hubungan kalian?

Tapi ternyata, cowok yang terlalu dominan dalam memimpin juga nggak baik untuk hubungan loh. Dan juga, dominan itu bukanlah unsur dari sebuah jiwa kepemimpinan. Kamu harus bisa bedakan antara dominan dan jiwa kepemimpinan. Karena cowok yang dominan akan membuatmu menyesal di akhir hubungan!

Kalau cowokmu terlalu dominan dalam diskusi, nggak akan ada kesempatan buat kamu berargumen. Diskusi yang kurang sehat, bukan?

Diskusi yang kurang sehat ini sih. via medium.com

Membina hubungan itu layaknya berlayar menaiki sebuah perahu. Angin yang menggerakkan layar adalah komunikasi yang menghubungkan kamu dengan pasanganmu, sementara dayung merupakan percakapan atau diskusi yang membuat hubunganmu dengan pasangan bisa berjalanan sesuai dengan harapan.

Kalau dalam hubungan, kamu dan cowokmu nggak punya dayung, mau dibawa ke mana hubungan kalian? Misalkan punya, tetapi kalau cowokmu terlalu dominan dalam diskusi, dan kamu nggak punya kesempatan untuk berargumen, apa iya bisa jalan perahu yang kalian naiki? Sebuah diskusi yang nggak sehat.

Cowok yang dominan dalam hubungan ini akan mendominasi kehidupan. Artinya, kamu nggak bisa menjadi dirimu sendiri

Advertisement

Nggak bisa jadi diri sendiri. 🙁 via picssr.com

Seorang cowok/pemimpin nggak akan memonopoli porsi untuk anggotanya atau untuk istri dan anak-anaknya. Tapi kalau cowokmu terlalu dominan dalam hubungan, nggak cuma dalam diskusi aja kamu bisa tertekan. Bahkan, kehidupan pribadimu pun akan tertekan oleh cowokmu. Nggak cuma mendominasi dalam diskusi, tapi juga kehidupan pribadi. Lho, ‘kan masih pacaran, kok udah dikontrol semuanya gitu sih?

Masih dalam tahap pacaran aja udah ‘mengekangmu’ seperti itu. Bisa kamu bayangin sendiri, ‘kan, bagaimana rasanya pacaran dengan cowok yang dominan seperti itu. Alhasil, kamu nggak bisa menjadi dirimu sendiri. Mau nggak mau, kamu akan menjadi orang yang bermuka dua atau lebih.

Dia selalu marah kalau kamu nggak memberinya kabar. Bagaimana pun caranya, kamu harus laporan. Posesif banget!

Arrrgghh!!! via urbanintel.com.au

Selain akan mendominasi hubungan, cowok yang terlalu dominan juga akan membuatmu tertekan karena sikapnya yang posesif. Gimana nggak posesif coba, kalau setiap saat dia selalu minta kabar darimu? Ini itu selalu minta kabar. Ke mana kamu pergi, di mana kamu sekarang, sama siapa kamu nanti siang, berapa orang yang ikut kamu jalan, dan sebagainya, harus lapor ke dia. Karena menurut cowok yang terlalu dominan ini, dia harus tahu apapun mengenai kamu, pacarnya. Tapi, manusia mana pun akan merasa risih, bukan, dengan sikap seperti ini?

Mitos: sudah sejak dulu kala cowok selalu superior. Kalau begitu, cewek tertindas dong?

Ada yang berani ‘menjajah’ cewek ini?? via arhivach.org

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu

Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Lagu yang ditulis oleh Ismail Marzuki ini membuktikan bahwa memang sejak dulu wanita ‘dijajah’ oleh pria. Dari dulu cowok selalu digambarkan dengan kebesaran dan superioritasnya. Lalu, kalau begitu, cewek selalu tertindas dong?

Untuk masa modern sekarang ini, sudah nggak ada lagi yang namanya cewek tertindas. Cewek berhak memilih dan dipilih. Cewek juga berhak untuk memutuskan berbagai hal. Emansipasi wanita. Tapi, kalau cowokmu terlalu mendominasi hubungan dan bahkan kehidupan pribadimu, segera tinggalkan! Karena nggak melulu pemimpin harus dominan.

Cowok yang bisa memimpin bukanlah cowok yang selalu dominan dalam berbagai hal. Apalagi kalau nanti kamu sudah menikah, jelas kamu akan mengalami kesulitan karena kamu hanya bagaikan burung dalam sangkar.