Di Indonesia ini, wajar rasanya jika seseorang memiliki nama julukan. Dalam beberapa kelompok masyarakat, penyematan nama julukan adalah tanda penerimaan pada seseorang yang baru masuk dalam kelompok tersebut. Makanya, kadang hanya orang-orang tertentu saja yang memanggil seseorang dengan panggilan khusus. Pasti banyak dari kita dulu yang datang ke tempat teman kita dan lalu menanyakan nama julukannya pada orangtuanya. Dan, pastinya, orangtuanya tak paham kita ini mencari siapa.

Ketika kita dewasa, kita kerap kali mendengar sebutan atau julukan seseorang karena karakter, perilaku, hingga kebiasaannya yang cenderung buruk di mata masyarakat. Dari buaya darat, kucing garong, hingga tante girang. Belum tahu maksud pastinya, ‘kan? Nah, kali ini Hipwee Boys akan membedah makna dan sejarah dari predikat tersebut. Kenapa sih istilah-istilah itu muncul? Yuk, langsung dilihat aja pembahasannya!

Istilah untuk para cowok yang demen banget ganti-ganti pasangan, buaya darat. Lah, padahal roti buaya itu simbol kesetiaan loh!

Buayanya lucuuuu! via disney.wikia.com

Buaya darat ini biasanya disematkan pada cowok-cowok yang sering berganti pasangan. Predikat ini cenderung sangat buruk bagi cowok, sebab julukan ini konon diciptakan oleh para cewek yang merasa dirugikan dalam hubungannya bersama cowok yang telah mempermainkan perasaan mereka. Tak ayal, cewek-cewek ini senantiasa menghindari dan nggak terlalu suka dengan cowok semacam ini. Bahasa lain dari buaya darat sih playboy.

Tapi kenapa mesti mengadopsi nama buaya darat dan diasosiasikan dengan cowok? Padahal, buaya jantan merupakan hewan yang sangat setia dengan pasangannya. Ketika pasangannya mati, buaya jantan nggak akan kawin lagi. Setia, ‘kan? Selain itu, dalam adat Betawi, ada yang namanya roti buaya. Yang biasanya digunakan sebagai simbol atas kesetiaan dalam pernikahan. Nah, usut punya usut, mungkin karena buaya merupakan predator yang gemar mencari mangsa dan memakannya hidup-hidup atau bahkan menunggunya hingga menjadi bangkai. Karena tidak banyak orang yang tahu bahwa buaya adalah makhluk setia, makanya orang-orang hanya melihat buaya sebagai binatang yang selalu mencari mangsa. Mungkin, banyak orang mengasosiasikan buaya dengan cowok yang sering gonta-ganti pasangan karena dua hal itu memiliki sebuah kesamaan, selalu mencari mangsa baru.

Kucing garong, istilah yang masih belum jelas ditujukan untuk siapa. Kira-kira ini buat cewek atau cowok sih?

Advertisement

Padahal lucu loh. 🙁 via www.pixelstalk.net

Nggak ada sejarah pasti yang mengungkapkan asal mula istilah kucing garong ini. Ada yang menyebut istilah ini untuk para cewek yang berkelakuan seperti kucing liar. Tapi berkat lagu dangdut dengan judul yang sama dengan istilah ini, maka kucing garong diperuntukkan kaum cowok yang suka mempermainkan cewek. Kenapa harus kucing garong? Sebab kucing liar semacam ini akan kabur ketika ada masalah atau ketika dirinya terancam, dan akan menyerang ketika lawan lengah. Sama persis seperti cowok atau cewek yang melakukan kecurangan dalam hubungan. Seolah lepas tanggung jawab gitu deh.

Sebutan yang sangat akrab di telinga kita: Om-om hidung belang. Begini sejarah singkatnya

Ikut Om, yuk, Dik~ via jesselynch.com

Menurut sejarah yang beredar, istilah hidung belang ini sudah ada sejak zaman penjajahan di Indonesia. Remy Sylado dalam Kompas menjelaskan sejarah istilah hidung belang ini berasal dari zaman VOC, di mana para penjajah (Belanda) menjalankan pergundikan terhadap cewek-cewek pribumi. Dalam buku Vrouwen naar Jacatra karangan Hertog, seorang gadis pribumi yang terperangkap dalam cinta lelaki dari Belanda ini adalah Saartje Specx. Ia merupakan anak angkat dari Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen yang jatuh cinta pada pengawalnya sendiri, Pieter Corthenhoeff.

Pada suatu ketika, sepasang kekasih ini kepergok oleh Sang Gubernur saat sedang berhubungan badan. Sang Gubernur lantas menghukum ajudannya dengan alasan berzina. Lalu Cortenhoeff digantung di tengah kota, dengan sebelumnya dicorengi hidungnya dengan menggunakan arang. Nah, sejak saat itulah, setiap orang atau cowok yang melakukan zina disebut sebagai lelaki hidung belang. Saat ini, predikat hidung belang lebih ditujukan kepada lelaki usia 30-40an tahun yang masih doyan ‘main’ dengan perempuan muda.

Seperti nggak mau kalah, ada juga istilah untuk cewek sejenis om-om hidung belang. Ini dia, tante girang yang suka berondong

Konon, sebutan tante girang ini diciptakan oleh cewek-cewek yang lebih muda yang merasa tersaingi dengan gencarnya ibu-ibu yang mencari pasangan seorang cowok muda. Karena merasa tersaingi, mereka memberi predikat negatif ini pada kompetitornya yang sudah berumur itu. Ya, tante girang merupakan istilah yang memiliki stigma untuk ibu-ibu usia 30-40an tahun yang biasanya kaya raya, suka dandan, dan janda atau istri yang sering ditinggal suaminya ke luar kota untuk berbagai urusan. Ya, kalau begini, cowok mana yang bisa menolak ajakannya? Apalagi cowok-cowok yang masih muda dan nggak punya tanggungan apapun dalam hidupnya?

Jangan salah, ada juga sebutan untuk ibu-ibu lanjut usia yang kelakuannya kayak gadis ABG. Pernah dengar istilah nenek lincah?

Jackie O’Shawnessy, model, 64 tahun. Masih lincah. via pinterest.com

Kalau dari remaja dan dewasa ada, maka untuk orang yang lanjut usia pun juga punya sebutannya sendiri. Biasanya orang akan menyebutnya sebagai tua-tua keladi yang berarti makin tua makin jadi. Istilah ini merujuk ke semua gender yang sudah memasuki usia senja. Tapi ada satu istilah untuk seorang nenek yang masih begitu aktif dan berperilaku layaknya gadis remaja. Mereka disebut sebagai Neli atau nenek lincah. Pernah dengar istilah ini? Sebutan ini emang menggambarkan seorang nenek-nenek yang masih memiliki tenaga berlebih dan seolah terlihat masih muda, serta kadang nggak suka kalau dipanggil nenek. Aneh nggak sih? HAHA!

Nah, begitulah istilah atau panggilan dari masyarakat untuk orang-orang tertentu yang memiliki karakter atau perilaku yang lain daripada yang lain. Kalau sudah tahu begini, jangan sembarangan kasih nama pada temanmu, ya. Meski biar terkesan akrab, alangkah baiknya kalau kamu memanggilnya dengan sebutan yang lebih berkelas, seperti: Bor, Cuk, Dab, Ndes, Le, dsb. Lebih asyik, ‘kan? Yoi, Dab!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya