Menjalin tali pernikahan itu nggak semudah saat kamu jatuh cinta dulu. Berbagai problem rumit pasti akan datang dan melibatkan lebih banyak pihak lagi. Masalah nggak akan hanya melibatkan kamu dan pasanganmu saja tapi juga orang tua kalian berdua. Masalahnya pun beragam, dan masalah biaya adalah hal yang paling rumit dan sensitif untuk dibahas.

Mengenai siapa yang menanggung biaya pernikahan, terkadang yang menjadi acuan adalah adat dan kebiasaan. Namun ketika kedua mempelai berbeda adat, hal ini cenderung menimbulkan banyak kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Kalau kamu cowok dan berencana menikah dalam waktu dekat, coba gunakan beberapa poin ini sebagai pertimbangan. Lalu diskusikanlah dengan pasanganmu, orangtuamu, dan calon mertuamu biar nggak saling salah paham. Yuk, simak uraian Hipwee Boys berikut.

Cobalah konsultasi dengan tetua adat atau orang yang paham tentangnya. Beberapa menganjurkan, pihak wanitalah yang menanggung biaya nikah, seperti di Jawa, Sunda, dan Minang

Pernikahan lintas budaya. via www.pinterest.com

Advertisement

Di Jawa, pihak wanita adalah pihak yang punya acara atau biasa disebut dengan nduwe gawe, sehingga segala biaya yang keluar dalam pesta pernikahan ditanggung oleh wanita. Mulai dari proses nontoni hingga siraman semuanya dilakukan di pihak wanita sehingga biaya pesta dan prosesi ditanggung oleh wanita. Sedangkan mempelai pria hanya mengadakan ngunduh mantu (mengambil mempelai wanita) dan itu pun nggak secara mutlak wajib dilakukan. Hanya beberapa keluarga yang merasa mampu saja yang melakukan.

Serupa dengan Jawa, adat Sunda dan Minang juga cenderung membebankan biaya pernikahan pada mempelai wanita. Tetapi jika pihak mempelai pria dianggap lebih mampu dan mau membantu, maka dalam adat Jawa, Sunda, dan Minangkabau nggak ada larangan tertentu.

Sedangkan menurut agama Islam, menganjurkan biaya walimah ditanggung oleh mempelai pria. Pihak perempuan nggak wajib menanggungnya

Pihak mempelai pria menanggng biaya. via medianda-news.blogspot.com

Dalam agam Islam, yang menanggung biaya walimah ini dianjurkan dari pihak mempelai pria. Hal ini didasari karena prialah yang berkewajiban menafkahi kebutuhan istri, termasuk walimah atau acara pernikahan yang juga merupakan kebutuhan pihak istri. Namun nggak ada juga larangan bagi pihak wanita untuk menanggung biayanya. Karena Hipwee nggak berhak memberikan batasan hukum agama, maka lebih baik dikonsultasikan dulu, ya, dengan ahli agama masing-masing, termasuk aturan dalam agama selain Islam. 🙂

Bagaimanapun, kesepakatan siapa yang menanggung biaya pernikahan ini bukanlah masalah sepele dan harus dibicarakan dari awal

seringnya melibatkan orang tua sebagai ‘yang punya hajat’ via banjarmasin.tribunnews.com

Advertisement

Menikah nggak hanya melibatkan sepasang insan yang tengah jatuh cinta. Di Indonesia, orang tua juga ikut terlibat dalam proses penyatuan dua hati ini. Bahkan beberapa kalangan menganggap pesta pernikahan sebagai ajang pembuktian atau kebanggaan tersendiri, sehingga acaranya dibuat sedemikian rupa untuk memuaskan tamu undangan. Padahal esensi dari menikah itu sendiri sangatlah sederhana sebenarnya: sah secara hukum dan agama.

Mau nggak mau, pengaturan mengenai siapa yang nantinya menanggung biaya pernikahan ini sangatlah penting. Karena pernikahan ini melibatkan orang tua dari kedua belah pihak dan masing-masing seringnya memiliki keinginan tersendiri untuk menjalani prosesi pernikahan. Sebagai calon mempelai pria, baiknya kamu mempersiapkan semua ini, Boys. Bicarakan dulu secara terbuka bagaimana kondisi keuanganmu dengan calon istri tanpa perlu ada gengsi. Semakin terbuka kalian membicarakannya, maka semakin mencegah kesalahpahaman yang mungkin terjadi.

Siapa pun yang menanggungnya, yang jelas kesepakatan ini harus berdasarkan musyawarah kedua keluarga

Biar semuanya adem ayem via images.detik.com

Sulit rasanya untuk berbicara saling jujur, duduk bersama antara orang tua kedua belah pihak dan calon mempelai berdua untuk membicarakan secara kekeluargaan mengenai biaya pernikahan. Terkadang kesulitan terletak pada prinsip masing-masing orang tua. Jika terjadi deadlock atau kebuntuan dalam penyelesaian masalah, lebih baik sebagai anak kamu mengalah, Boys. Karena semakin kamu memaksakan kehendak pada orang tua, maka semakin runyam untuk diselesaikan.

Catatlah semua pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pernikahan. Jangan lupa susunlah laporan keuangan yang baik disertakan dengan nota atau bukti pembayaran. Kalau bisa, buatlah rekening bersama untuk menyimpan biaya pernikahan. Meskipun pada kenyataannya calon mertua atau orang tua bilang kalau mereka percaya dengan pengeluaran yang kamu dan calon istrimu keluarkan, tetaplah rajin untuk merekap semuanya demi kebaikan bersama dan meminimalisasi kesalahpahaman.

Selalu persiapkan semua dengan baikBoys. Termasuk jika biaya pernikahan sepakat ditanggung berdua, berilah batasan yang jelas, berapa persen yang ditanggung mempelai pria dan berapa persen yang ditanggung pihak wanita. Kamu pengen pernikahanmu terjadi untuk yang pertama dan terakhir, kan? Jangan segan-segan untuk musyawarah dan bicara, karena hal penting seperti ini memang sangat memerlukan komunikasi. Selamat menuju ‘sah’!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya