“Ayam, ayam, ayam!”

Pernah nggak sih kamu dengar seseorang mengucapkan sesuatu dengan berulang secara spontan atau yang biasa disebut latah? Gejala ini merupakan sebuah kondisi di mana seseorang mengalami perubahan kesadaran atas sugesti yang diterimanya. Kalau latah yang demikian termasuk ke dalam gejala psikologis. Dan, anehnya, fenomena semacam ini hanya ada di kawasan Asia.

Advertisement

Bicara soal latah, kelatahan juga bisa diartikan sebagai budaya ikut-ikutan. Saat satu memulai, yang lain akan mengikuti tanpa mempertanyakan apakah yang mereka ikuti ini benar atau salah. Nah, hal itulah yang seringkali dilakukan oleh orang Indonesia. Budaya ikut-ikutan ini nampaknya sudah menjadi budaya yang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosial di Indonesia. Kali ini Hipwee Boys ingin  menyoroti budaya latah ini dan kaitannya dengan bulan puasa saat ini. Langsung disimak aja yuk!

Sudah sejak lama, setiap ada ‘mainan’ baru, semua orang berbondong-bondong pengen memilikinya sesegera mungkin. Batu akik, misalnya!

Latah deh, pengen memiliki Mbaknya. Eh, cincinnya. via jabar.tribunnews.com

Budaya latah untuk memiliki sesuatu yang baru dan tengah hits sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sepertinya orang-orang memiliki jargon sendiri atas hal itu, “Kalau nggak punya, ketinggalan zaman banget!” atau semacamnya. Alhasil, hampir semua orang ikut meramaikan untuk memiliki ‘barang’ baru tersebut.

Seperti cincin batu akik, misalnya. Kamu bisa melihatnya sendiri, betapa menjamur orang-orang yang kecanduan batu akik. Tapi setelah beberapa waktu, nggak ada lagi cerita soal batu yang mahalnya bukan main itu.

Akses internet melalui media sosial juga menjadi jembatan baru bagi orang-orang untuk latah. Meniru gaya hidup selebritis salah satunya

Pengen kayak Syahrini. 🙁 via www.instagram.com

Advertisement

Perkembangan teknologi memang nggak bisa dimungkiri, menjadi salah satu faktor kian kentalnya budaya latah di masyarakat kita. Banyak orang yang pengen eksis di dunia maya, hingga meniru gaya hidup selebritis di dunia nyata, yang jelas-jelas itu nggak baik buat kehidupan sosialnya sendiri. Bahkan seolah mereka memaksakan untuk tampil seperti selebritis, sebisa mungkin.

Masih dalam media sosial, orang-orang begitu latah untuk terpancing hal yang menurutnya buruk. Gampang terprovokasi!

Gampang banget nerima berita hoax. via uzone.id

Nah, budaya latah dari media sosial memang seperti nggak ada habisnya. Gampang terprovokasi dan percaya berita hoax juga telah menjadi budaya di masyarakat kita. Ketika ada sebuah berita naik di media, ada satu orang yang berkomentar pedas penuh kebencian, maka orang-orang selanjutnya pun akan melakukan hal yang sama. Mudah terpancing atas nama kebencian, latah yang sungguh meresahkan.

Urusan makanan pun latah. Kalau ada tempat makan yang terkenal di Instagram, semua orang berbondong-bondong kesana!

Makan hits! via farm4.staticflickr.com

Kelatahan ini juga terlihat di urusan makanan. Kalau ada tempat makan yang sedang hits di Instagram, semua orang berbondong-bondong pergi kesana. Nggak peduli apakah itu enak atau enggak, sesuai dengan selera atau nggak. Asalkan bisa foto dengan makanan di tempat hits tersebut, semua orang sudah merasa lengkap hidupnya.

Bukannya mempersoalkan gender ya, tapi untuk yang satu ini, biasanya cewek yang lebih getol untuk berburu tempat-tempat tenar di Instagram. Kalau cowok mah, makan cuman asal kenyang. Nggak peduli dengan foto makanan dan gaya.

Memasuki bulan Ramadan, kita bisa melihat betapa banyak cewek yang berkerudung. Tapi setelah lebaran, mereka kembali seperti sediakala

Ilustrasi. Latah doang. 🙁 via instagram.com

Tentu kamu nggak asing dengan fenomena yang ini, kan? Sebenarnya latah yang seperti ini memang baik dan nggak ada yang menyalahkannya. Mengenakan jilbab di bulan Ramadan bagi mereka yang melakukan puasa tentu akan menambah nilai spiritualnya dan memberikan kesan baik dalam kehidupan masyarakat. Tapi yang disayangkan adalah ketika mereka hanya mengenakan jilbab di saat bulan Ramadan saja. Setelah itu, mereka bebas membuka-tutup auratnya. Sebuah budaya latah yang sangat merisaukan, bukan?

Pastinya akan ada orang yang bilang “melakukan hal baik kok dikritik?”. Namun, bukan itu yang dimaksudkan oleh artikel ini. Yang dimaksudkan adalah sangat disayangkan kalau hal baik semacam memakai hijab dan rajin mengaji hanya dilakukan di bulan puasa saja. Terlebih lagi, kalau itu hanya dilakukan karena malu sama teman-teman yang memang mendadak khusyuk di bulan Ramadan. Seharusnya, hal-hal baik semacam ini dilakukan secara terus menerus!

Pada dasarnya, latah itu menirukan sikap, perbuatan, atau perilaku orang lain yang dianggapnya menarik. Latah memang nggak selamanya buruk, tapi latah yang telah membudaya seperti di atas tentu nggak baik. Kalau sudah begini, nggak salah dong kalau budaya latah ini disebut sebagai penyakit sosial? Ke dokter, yuk!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya