Pendudukan kolonialisme Jepang di Indonesia memang terhitung singkat, jika kita bandingkan dengan Belanda. Seperti kita ketahui sendiri, keberadaan mereka di Indonesia hanya 3,5 tahun. Jauh sekali bila dibandingkan lamanya pendudukan Belanda yang 350 tahun. Namun dengan pendudukan tersebut, bukan berarti Jepang tak melakukan banyak hal di Indonesia. Mereka bahkan dinilai lebih kejam.

Hal yang menjadi bukti kekejaman mereka adalah perbudakan seks yang dilakukan kolonialisme Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, istilah jugun ianfu sangat terkenal di telinga beberapa kalangan, terutama para gadis-gadis asli Indonesia. Pembahasan soal jugun ianfu memang tak pernah hinggap di kepala kita jika tak inisiatif mencarinya. Sebab, buku-buku pelajaran sejarah pada masa sekolah tak pernah membahas yang satu ini. So, buat para cowok yang ingin tambah wawasan, disimak yuk, kisahnya!

Apa sih sebenarnya jugun ianfu? Bagaimana bisa lahir nama seperti itu?

Jugun ianfu = perempuan penghibur

Jugun ianfu = perempuan penghibur via www.tutufoundationusa.org

Advertisement

Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan kolonialisme Jepang saat Perang Dunia II untuk menyebut wanita-wanita penghibur yang diperuntukan bagi para tentaranya. Setelah peristiwa Rape of Nanking di Tiongkok pada 1938 yang sangat mengerikan dan dianggap sebagai kejahatan perang, para petinggi militer Jepang mengusulkan membuka pusat rekreasi untuk para pasukan yang jadi garda terdepan saat peperangan.

Tajuknya memang “pusat rekreasi”, akan tetapi rekreasi seksual lah yang dimaksud. Para petinggi militer Jepang yakin, hal tersebut bermanfaat bagi para tentaranya untuk menjaga tata tertib dan mental perangnya. Di samping tampak lebih manusiawi, “pusat rekreasi” ini juga diyakini bisa menekan jumlah tentara yang mungkin mengidap penyakit seksual. Praktik ini pun terlaksana selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang yang diduduki negera yang berjuluk Negara Matahari Terbit, termasuk Indonesia.

Dari yang sukarela sampai yang benar-benar jadi budak seks. Inilah cara militer Jepang merekrut jugun ianfu

Nggak tega

Nggak tega via media.viva.co.id

Tajuk rumah bordil (istilah khusus dari pusat rekreasi) pun lahir di tanah air seiring masuknya Jepang ke Indonesia. Dalam praktiknya, proses perekrutan para perempuan penghibur ini dikelompokan menjadi tiga, yakni perempuan yang secara sukarela mau menjadi jugun ianfu, mereka yang ditipu atau diiming-imingi pekerjaan, serta mereka yang direkrut secara paksa. Pada faktanya, proses perekrutan kedua dan ketigalah yang sering digunakan.

Advertisement

Perempuan yang sukarela menjadi jugun ianfu biasanya berasal dari Jepang sendiri. Bisa dibilang, mereka yang ingin mengabdi pada negaranya sendiri. Kedua, perempuan yang diiming-imingi pekerjaan, biasanya mereka yang berasal dari Korea, China, dan Malaya. Akan tetapi untuk perekrutan secara paksa, perempuan-perempuan Indonesia sendirilah yang jadi tumbal.

Pemaksaan tersebut terjadi akibat para jugun ianfu yang pertama kali datang ke Indonesia tahun 1942, yang berasal dari Korea dan Tiongkok, jumlahnya sedikit.

Satu sisi, permintaan tentara Jepang soal perempuan penghibur di Indonesia meningkat. Untuk menyiasati kekurangnnya stok jugun ianfu, militer Jepang menculik perempuan-perempuan pribumi dari rumahnya. Bahkan dikabarkan, ada perempuan yang sedang bertani di sawah, kemudian tak luput dari penculikan militer Jepang.

Tapi apakah benar lebih manusiawi dari peristiwa Nanking? Nyatanya tidak sama sekali

Perekrutan jugun ianfu

Perekrutan jugun ianfu via cdn2.tstatic.net

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, lahirnya rumah bordil dengan jugun ianfu di dalamnya adalah sebuah alternatif supaya Jepang tak terlihat amat kejam di mata dunia pasca kejadian di Nanking. Namun yang jadi pertanyaan, apakah benar lebih manusiawi jika perempuan-perempuan dijadikan jugun ianfu justru hasil penculikan militer Jepang itu sendiri? Kamu pasti tahu sendiri penilaian apa yang harus kamu beri.

Sudah menjadi rahasia umum di negeri kita bahwa tentara Jepang memperlakukan para jugun ianfu secara tidak manusiawi. Menurut mereka yang pernah menjadi jugun ianfu, Tak ada satupun kenangan manis yang bisa mereka ingat di rumah bordil militer Jepang tersebut.

Dalam praktiknya, terdapat pengkategorian para jugun ianfu. Mereka dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Jugun ianfu yang baru masuk rumah bordil biasanya akan berada di kategori berkualitas, atau kasta tertinggi. Pasalnya, mereka masih sangat mungkin bersih dari penyakit kelamin.

Namun, seiring berjalannya waktu, perempuan tersebut akan diturunkan kelasnya karena sudah sering “dipakai” tentara Jepang, sehingga kemungkinan terkena penyakit kelaminnya jadi lebih tinggi. Bayangkan saja, minimal dalam sehari mereka harus melayani nafsu bejat para tentara Jepang sebanyak empat orang. Itu baru angka minimal.

Lalu, saat jugun ianfu dianggap sudah berbahaya karena penyakitnya, mereka diabaikan militer Jepang. Satu hal ini mungkin akan mengganggu kamu, tapi perlu disampaikan. Banyak jugun ianfu mengungkapkan bagian uterus mereka membusuk, akibat dari penyakit yang diperoleh setelah melayani ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun. Tuhan memberkati kita yang hidup di zaman ini.

Periode takluknya Jepang pada masa Perang Dunia II, dan mundurnya Jepang dari Indonesia, jadi sedikit angin segar bagi para jugun ianfu

Korea Selatan paling lantang

Korea Selatan paling lantang via ichef-1.bbci.co.uk

Selepas Jepang mengakui kekalahannya pada dunia, perlahan kekuatan Jepang pun menurun. Tanpa terkecuali di wilayah-wilayah yang jadi tempat koloninya. Momen tersebut tak cuma jadi angin segar bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia, tapi juga para jugun ianfu. Setidaknya mereka telah lepas dari jeratan perbudakan seks militer Jepang.

Banyak dari jugun ianfu yang berusaha move on. Berupaya melanjutkan hidup agar kehidupan berjalan wajar, meski tiada sepeserpun uang dari pihak Jepang. Mereka ditinggal begitu saja tanpa diberi kepastian. Tak sedikit pula jugun ianfu yang kemudian menutup diri dengan tinggal di suku pedalaman. Contohnya, para jugun ianfu yang ada di Pulau Buru. Di samping itu, banyak juga yang berusaha membuka lembaran baru dalam hidupnya dengan menerima pinangan laki-laki yang mau terima apa adanya.

Pada masa tersebut, para mantan jugun ianfu tersebut hampir semua memilih diam dengan apa yang telah terjadi padanya, sampai akhirnya, pada 1991, Kim Hak Soon, asal Korea Selatan, mengaku dijadikan budak seks tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Kesaksian Kim melahirkan keberanian lain dari mereka yang pernah mengalami hal serupa. Pengungkapan tersebut bak laju bola salju. Pengakuan korban-korban lain bermunculan, dan menyampaikan kesaksiannya.

Menunggu pengakuan dan menagih janji Jepang atas. Negara-negara yang warganya jadi korban perbudakan seks militer menuntut penyelesaian

Patung yang diletakan pra aktivis di depan konsulat Jepang untuk Korea Selatan

Patung yang diletakan pra aktivis di depan konsulat Jepang untuk Korea Selatan via img.okezone.com

Meski praktik tersebut telah terjadi puluhan tahun lalu, tepatnya masa Perang Dunia II, akan tetapi negara-negara yang warganya jadi korban perbudakan seks tetap menuntut Jepang. Salah satu negara yang paling lantang dalam hal ini adalah Korea Selatan.

Belum lama ini, Jepang menunjukkan langkah yang bisa dibilang kurang bijak dalam menanggapi kasus yang sudah terjadi sekitar 70 tahun lalu tersebut. Mereka menarik duta besarnya untuk Korea Selatan di Busan. Mereka baper lantaran para aktivis meletakan sebuah patung perempuan di depan kantor kedutaan besar Jepang. Patung tersebut memperlihatkan perempuan yang sedang duduk di kursi. Para aktivis mengasosiasikan patung tersebut dengan para budak seks atau perempuan yang dipaksa bekerja di rumah bordil Jepang pada masa Perang Dunia II.

Laporan BBC mengungkapkan, patung tersebut adalah simbol ketidakadilan sekaligus lambang perjuangan agar Jepang segera memberikan permintaan maaf resmi dan kompensasi dari Jepang. Dua tahun lalu, Jepang telah sepakat dengan Korea Selatan soal perbudakan seks. Akan tetapi, belum terealisasinya janji tersebut jadi alasan aktivis terus melancarkan aksinya.

Untuk Indonesia sendiri, pemerintah dianggap acuh tak acuh soal masalah ini. Pada tahun 1993, misalnya. Tatkala isu ini begitu kencang berhembus paska bola salju yang pertama kali digulirkan Kim Hak Soon dua tahun sebelumnya, Menteri Sosial saat itu, Inten Suweno, menyatakan penanganan jugun ianfu lebih baik dilakukan oleh pihak swasta. Alasannya, agar hubungan kedua negara yang sudah terjalin baik tidak terganggu.

Akan tetapi, bukankah keadilan tak pandang pihak? Kita tetap harus memperjuangkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya