Fresh graduate atau sarjana yang belum punya pengalaman bekerja menjadi status yang bagai pisau bermata dua dalam sebuah perusahaan. Di satu sisi mereka jelas banyak diincar karena dianggap muda, bersemangat, dan penuh gairah, sementara di sisi lain fresh graduate juga kerap mendapat perlakuan diskriminasi dalam praktik berkarir. Yah, banyak yang bilang kalau namanya “anak baru” memang wajar mengalami banyak cobaan-cobaan unik di lingkungannya.

Namun, sebenarnya seperti apa sih posisi fresh graduate di mata perusahaan? Kenapa perlakuan dan impresi yang mereka terima sering menimbulkan keluhan? Simak ke bawah ya!

1. Fresh graduate itu artinya bisa dibayar kecil. Karena mereka yang sudah berpengalaman menuntut gaji yang pantas, akhirnya pada lari deh ke fresh graduate ini

Maukan di bayar kecil? via www.instagram.com

Salah satu pertimbangan sebuah perusahaan ketika hendak merekrut lulusan yang belum mengenyam banyak pengalaman adalah pertimbangan bahwa mereka tak punya dana yang cukup besar untuk membayar lulusan yang sudah punya jam terbang lebih tinggi. Standar gajinya jelas berbeda. Dan itu kadang nggak masalah bagi para fresh graduate itu sendiri, karena umumnya mereka masih terbuai dengan euforia awal dunia kerja, sehingga dibayar seadanya pun sudah merasa senang dan dihargai. Nah, dengan cara inilah keuangan perusahaan-perusahaan tidak terlalu terkuras namun pekerjaan tetap bisa terselesaikan.

2. Fresh graduate adalah lulusan yang bisa disuruh-suruh. Sehingga mereka adalah sekumpulan lulusan yang bisa mengurangi banyak beban stres pekerja tetap~

Please hire me via hipwee.com

Advertisement

Hampir semua fresh graduate pernah merasakan bagaimana rasanya jadi anak baru di dalam sebuah perusahaan. Untuk awal-awal waktu masuk, mereka akan mulai beradaptasi dengan lingkungan kantor dan rekan kerja. Dan rata-rata orang Indonesia memang menjunjung tinggi senioritas dalam sebuah perusahaan. Junior harus patuh dengan senior sehingga fresh graduate akhirnya banyak disuruh-suruh hal yang nggak penting oleh seniornya. Misalnya, mengurusi fotokopian berkas, beli makan siang yang enak bahkan diutangin beli pulsa. Tapi biasanya kalau sebuah perusahaan mengusung budaya organisasi yang baik, nggak akan ada sih praktik-praktik semacam ini.

Awalnya sih asik tapi kok lama-lama jadi nge-bossy ya? -Ciko Jawo. 22 tahun Fresh Graduate

3. Fresh graduate dianggap belum banyak paham tentang industri, sehingga harus digurui ini dan itu, duh! Kadang-kadang merepotkan~

Kamu kok gt aja ga bisa! via papasemar.com

Nah, yang namanya orang baru lulus kuliah dan melek dunia kerja, mereka perlu adaptasi yang cukup lama agar bisa masuk ke fase berikutnya. Karena minimnya pengalaman mereka bekerja, petinggi perusahaan rata-rata menganggap sebelah mata wawasan para fresh graduate tentang dinamika dunia kerja yang sebenarnya. Mereka beranggapan fresh graduate masih sekadar khatam soal teori tapi nol dalam memahami realitas lingkungan kerja. Yah, tapi bisa jadi memang kurang lebih benar sih. Fresh graduate memang perlu diberi arahan lebih agar cepat beradaptasi. Namun, masalahnya seringkali cara mereka pada akhirnya terlalu menggurui dan merasa menang sendiri.

4. Weits, tapi di sisi lain,  fresh graduate itu kadang dianggap selalu ngangenin lho buat beberapa perusahaan!

Sebagian perusahaan menganggap bohong kalau fresh graduate itu nggak ngangenin. Kendati belum bisa kerja dengan baik dan acapkali berbuat ngawur, tapi tetap saja mereka punya posisi di hati para pekerja senior. Selain sebagai sosok yang dimudakan, mungkin semangat yang meluap-luap dari para pekerja muda ini memberikan energi tersendiri untuk atmosfer lingkungan kerja mereka.