Friends with Benedikta [1] – Don’t Touch Me, I’m Famous

Friends with Benedikta Aya Widjaja

Dicuekin gebetan pas nobar pertandingan sepak bola Indonesia vs Vietnam, Prinsa mengunggah sebuah cuitan ke akun Twitter-nya. Siapa sangka, cuitan itu viral dan Prinsa jadi bahan bully-an netizen se-Indonesia.
***

Friends with Benedikta @FWBenedikta
Rasky Raditya udah nggak main film? Sekarang main bola.

Aku mengunggah cuitan itu di Twitter sementara orang-orang di sekelilingku riuh menonton pertandingan bola Indonesia lawan Vietnam. Habisnya, aku bosan setengah mati. Aku tidak mengerti sama sekali soal bola. Kenapa sih, 22 orang pria dewasa rebutan satu bola? Apa nggak bisa beli sendiri-sendiri?

Hope you enjoy the game.” Dia menoleh. Akhirnya, setelah satu jam dikacangin, dia noleh juga.

Much more, enjoy being with you. Pengin kubalas begitu, tapi yang keluar dari mulutku cuma senyum lebar. Aku pikir, dia sudah lupa keberadaanku. Hello, Anda lho yang ngajak saya ke sini?  Atau dia kira aku sudah kabur dari tadi karena dari sekian banyak raungan dan teriakan aku cuma lempeng saja?

Layar raksasa di café itu menayangkan jeda iklan.

Fiuh. Dua kosong.” Dia mengambil minum dari meja dan meneguknya. Capek kan, lo teriak-teriak nggak jelas dari tadi?

“Rasky Raditya ganas banget mainnya.” Cowok yang duduk di meja seberang berkomentar.

“Vietnam mainnya agak payah sih, tumben.”

“Bener.” Dia ikut menyahuti. “Coba Kanigara nggak pensiun dini. Gue yakin dia pasti turun di pertandingan ini.” 

“Beh, bisa dibantai habis itu Vietnam!”

“Sayang banget si Kanigara ini.”

“Bukan sayang banget, tapi bego banget.”

“Apa kabarnya dia sekarang?”

“Nggak ada yang tahu. Nggak peduli juga. Pada hilang respect sama dia.

“Sudah, mari melihat ke depan. Taruhan, babak dua berapa gol buat Indonesia?”

Diskusi makin panas. Semua orang sibuk berkomentar dan memprediksi pertandingan kayak dukun saja. Aku bersungut-sungut tapi tiba-tiba dia menoleh padaku dan tersenyum lebar. Bibirku yang sedang manyun, spontan tertarik ke sudut tertinggi. Alih-alih senyum termanis, ekspresiku pasti malah kayak lagi nahan sakit gigi.

Ladies and gentlemen, I’d like to introduce my… apa ya? 

Nggak ada apa-apa sih. Cuma kalau lagi sama dia belakangan jantungku salto kayak pemain yang kesandung bola tadi. 

Meet Taksa Diego Maranatha yang mengaku sedang memperjuangkan pergantian namanya jadi Maradona—aku lupa alasannya, seingatku sih, nggak ada hubungannya sama Madonna.

Kami jadi dekat karena untuk skripsi aku meneliti soal Natural Resource Curse dan perusahaan tempat Taksa bekerja adalah salah satu stakeholder objek penelitianku. Selidik punya selidik, ternyata almamater kami sama, cuma beda fakultas. Lumayan, jadi gampang dimintai data ini itu. Dia helpful, menyenangkan buat jadi teman dan sialnya, aku mulai deg-degan.

Diam-diam aku menghela napas. Tadinya ngarep pas iklan dia bisa diajakin ngobrol setelah aku dianggurin hampir sejam—berapa sih durasi permainan satu babak? Ternyata masih nimbrung sama temannya lagi. 

Aku bukannya nggak mau nimbrung, cuma enggak nyambung sama topik obrolannya. Jadi, supaya kelihatan menikmati suasana dan nggak bikin Taksa ilfeel, aku berlagak antusias, nimpalin ‘oh ya? masa? gitu? Kok bisa?’, terus ikutan tertawa kalau yang lain tertawa—padahal nggak ngerti apa-apa kecuali senyum Taksa yang menggetarkan jiwa. Bhaiq, mulai menggelikan.

Ponselku bergetar karena notifikasi Twitter. Keningku berkerut . Mataku mengerjap untuk memahami apa yang terjadi.

Nobar slash kencan yang membosankan bagi Prinsa | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

“Lo bosan, ya?”

Refleks aku menengadah sambil berhah-heh-hoh. “Eng-enggak,” lalu meringis.

“Kocak deh, ini di Twitter rame gara-gara ada yang nge-tweet, ‘Rasky Raditya udah nggak main film? Sekarang main bola?’” 

Celetukan dari cowok di meja seberang membuat Taksa menoleh. Kupingku berdenging. Aku merinding.

“Masa sih?” Taksa condong ke arah pemberi informasi.

Aku memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir kuat-kuat. Bisa nggak minggat dari sini tanpa Taksa melihat?

“Ini bukannya akun Twitter lo?” 

Pertanyaan Taksa membuatku berharap iklan di TV buruan kelar, jadi aku nggak perlu menjawab pertanyaan biadab itu.

Saatnya mengalihkan isu. Excuse atas kebodohan jari-jariku di sosmed. Tanganku  memencet pelipis sambil menggoyangkan kepala. “Kepala gue berat banget. Kayaknya mabok gara-gara kebanyakan minum bir yang lo pesenin tadi.”

“Kayaknya dari tadi lo belum minum?” Taksa berdeham sambil mengurut dagu. “Lagian, bir pletok nggak bikin mabok, Prinsa.”

Sumpah, aku pengin hilang saat ini juga!

oOo

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bagi Aya Widjaja, menulis novel lebih menyenangkan daripada menulis profilnya sendiri. Aya telah menulis enam novel (Starstruck Syndrome, Failure Tale, Editor’s Block, Monster Minister, Hellove & Alegori Valerie). Karyanya yang lain bisa dikepoin di IG @ayawidjaja

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi