BUY ME A BOYFRIEND #1 – How to Start the Chaos

buy me a boyfriend desy miladiana

Lelah dengan perhatian cowok-cowok di sekitarnya, termasuk atasannya di kantor, Amira nekat mencomot foto di internet dan pura-pura itu fotonya bersama sang pacar. Selesai masalah? Jelas nggak, karena hal itu malah membuat Amira dituduh melakukan penipuan.
***

Banyak orang berkata, memiliki paras cantik dan menawan membuat separuh masalah dalam hidupmu teratasi dengan mudah atau setidaknya cepat beres. Namun, berbeda dengan Amira, penampilan fisik membuat dia rugi. Karena banyak hal dalam kariernya jadi susah tercapai.

Terkadang ada beberapa klien meminta hal aneh-aneh di luar pekerjaan apabila ingin proyek yang Amira kerjakan berhasil. Atau yang paling sial, manajer divisinya secara terang-terangan menunjukan rasa sukanya, menjadikan Amira memiliki banyak musuh karena dianakemaskan. Belum lagi masalah ponsel, benda itu seolah tidak pernah berhenti berdering karena notifikasi pesan instan atau pesan di sosial media. Pusing.

Memang benar tahun ini umurnya 25 tahun. Keluarganya juga sudah menanyakan masalah pasangan dan mengharapkan pernikahan. Namun, Amira belum menginginkannya sekarang. Tujuan utamanya adalah membangun karier dan mengumpulkan uang sebanyak-banyak demi pensiun dini.

“Mbak Amira.”

Sebuah panggilan mengalihkan Amira dari kode pemrograman di komputernya. Seorang OB menenteng sebuah plastik dengan nama restoran berisikan kotak makan di sana.

Apalagi ini, Tuhan? Amira mengeluh. Matanya melirik sekilas meja kerjanya sudah ada dua kotak makanan dengan nama restoran yang berbeda-beda.

“Ini, Mbak, ada kiriman makan siang lagi yang … ketiga.”

Amira meringis. Kepalanya mengangguk saja sambil menerima makanannya. Tak lama ponselnya berbunyi dan notifikasi teman lamanya yang mengatakan baru saja mengirimkan makan siang.

Pada akhirnya, Amira menerima kiriman makanan tersebut. Tidak mungkin dia marah-marah dan senewen sendiri dengan seluruh perhatian teman dan kolega kerjanya. Walaupun dalam hati dia berharap tidak perlu dipedulikan.

Kiriman lunch untuk Amira | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Baru saja Amira ingin fokus pada pekerjaannya, sekali lagi ada seseorang yang memanggilnya. Dengan kesal dia mendongakan kepala. Tahu-tahu saja manajer divisinya, Eka, berdiri di samping kubikelnya. Keningnya berkerut memperhatikan tiga kotak makanan di mejanya.

“Dianterin makan siang lagi sama temen-temen kamu?” todong Eka yang Amira balas dengan anggukan malas-malasan. “Saya mau ngajak makan siang, makanan yang temen-temen kamu kasih mending kasih OB atau anak-anak aja.”

“Makan siang sama Bapak?” Amira malah balik bertanya. “Ngapain, Pak?”

“Habis makan siang kan ketemu klien di luar, jadi sekalian aja.”

Amira tahu ini hanya akal-akalan Eka saja. Dan sudah berkali-kali pula dia tidak bisa menolak. Siang ini, rasa kesalnya sudah sampai di ubun-ubun. Dipaksanya otak untuk berpikir cepat mencari alasan untuk kabur.

Pada akhirnya, Amira memilih membereskan barang-barangnya di meja, lalu memasukkannya ke dalam tas. Kemudian memberikan sebuah kebohongan asal yang muncul dalam benaknya, “Saya sudah ada janji makan siang, Pak. Kita bertemu di kantor saja, saya datang sepuluh menit sebelum jam makan siang berakhir.”

“Kamu makan siang sama siapa? Daripada sendirian, mending sama saya aja, Amira. Nggak enak makan sendirian.”

Sayangnya, Eka masih memaksa. Amira tetap bertahan. Kepalanya menggeleng dan mulutnya asal sebut, “Pacar. Kekasih saya menyempatkan diri untuk temani saya makan siang, jadi … saya mau samperin dia. Permisi, Pak.”

Bergegas Amira berjalan cepat menjauh. Kemudian, menghilang di balik lift. Di tengah-tengah kepadatan ruangan kecil itu, dia kembali berpikir apa yang harus dia lakukan untuk mendukung alasan pacar palsunya itu.

Hingga bunyi ting lift terdengar bersamaan itu pula sebuah ide muncul dalam kepalanya. Dia akan mencari foto kencan di internet selama makan siang nanti. Mengunggahnya di sosial medianya. Menciptakan bahwa dia memang memiliki pacar agar semua orang berhenti mengganggu ketenangan yang dia inginkan.

***

Kebohongan kecil yang terus ditumpuk ternyata benar-benar berdampak besar. Berkat aksi iseng memasang foto seolah-olah sedang berkencan dan tentu saja memiliki pasangan, notifikasinya mulai sedikit sepi. Beberapa memang ada yang memastikan masalah hubungannya nyata atau tidak dan Amira tentu saja mengiakan bahwa dia memiliki pasangan.

Amira pura-pura punya pacar | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Eka juga tidak lagi mencarinya untuk mengajak makan siang. Hanya saja beberapa kali Amira menemukan ekspresi kecewa dalam wajah bosnya. Reaksi patah hati seseorang memang cenderung terlihat jelas dalam ekspresi dan sikap mereka.

“Amira.”

Sebuah panggilan menghentikan Amira untuk beres-beres meja kerjanya. Wanita itu mendongak. Keningnya langsung mengernyit menemukan Farish, rekan kerja satu divisinya tahu-tahu berdiri di samping kubikelnya. Namun, yang paling menarik perhatian adalah senyum licik yang terpasang di wajah pria itu.

“Kenapa, Rish?” balas Amira. Mencoba untuk tidak terganggu dengan ekspresi Farish. “Udah jam 6 malam, gue mau balik. Lo masih lembur?”

Farish menggeleng. Tiba-tiba pria itu mencondongkan badannya, lalu berbicara lirih, “Gue tahu rahasia lo, Amira.”

Seketika mata Amira melebar. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia apa? Dia bertanya-tanya dalam hati. Hingga satu-satunya kebohongan yang dia lakukan hanyalah masalah foto-foto kencan palsu yang beberapa hari ini menghiasi sosial medianya.

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi