We (Don’t) Talk About Love – Chapter 1

we (don't) talk about love - chapter 1

Sepanjang yang bisa kuingat, aku hanya punya satu cita-cita: menjadi perempuan sehebat Mama. Minus bagian menikahi laki-laki yang salah.

Karena itu, keputusanku sudah bulat. Aku dan Candra akan putus. 

Sebenarnya aku kaget karena berhasil melewati satu tahun bersamanya. Namun, selain memecahkan rekor pribadi, tidak ada yang istimewa dari anniversary kami hari ini. Candra lupa. Parahnya, saat kuingatkan, ekspresinya tetap lempeng. Tidak ada rasa bersalah, pun tidak ada ungkapan cinta. Sikapnya selalu begitu hingga mau tak mau aku berpikir, hanya aku yang jatuh cinta dalam hubungan kami.

Sebelumnya, para mantanku tidak pernah melewati masa percobaan—tiga bulan. Mungkin karena mantan-mantanku tidak ada yang sukses mengantongi restu Mama atau tidak sesabar Candra saat menungguku berdandan. Ya, Candra itu laki-laki penyabar, tidak banyak bicara, dan … itulah masalahnya. Dia benar-benar irit mengeluarkan kata, seolah tiap kata yang dilontarkannya akan dikenakan biaya seperti zaman Esia booming di Indonesia.

“Ra, dipanggil Pak Bagja.”

Mendengar itu, aku nyaris menjedotkan kepala ke meja.

“Sudah maksi, kan? Kok masih lemas?” lanjut Laila. “Pak Bagja nanyain production dari pembayaran … gue lupa provider-nya. Gih, samperin dulu.”

Lunglai, aku meraih ponsel, agenda, dan pulpen. Ruangan Pak Bagja tidak jauh dari mejaku, tapi siang ini jaraknya seperti berkilometer. Begitu dipersilakan masuk, dia bahkan tidak menawariku duduk sebelum mulai berceloteh. 

Masalahnya, bukan aku penanggung jawab bagian tersebut. Sebagai anggota divisi IT e-channel, khususnya pengembangan API—application programming interface—tugasku adalah menyusun flow dan spesifikasi fitur, meeting bersama developer, selesai sampai pengembangannya. Sementara setting server, koneksi, basis data, dan kawan-kawannya tugas seniorku—Antony. Kebetulan dia sedang menggunakan cuti tahunan dari bank swasta tempat kami bekerja dan ponselnya dimatikan. Jadi, aku yang lulusan Teknik Industri ini harus pura-pura mengerti sambil mencatat dan berdoa tidak ada yang terlewat, lalu menyumpahi Antony agar cutinya tidak tenang.

Kenapa Antony tidak menjelaskan tugas-tugasnya kepadaku sebelum cuti? Setidaknya aku punya persiapan, tidak cuma mengangguk-angguk seperti pajangan di dasbor mobil.

Ketika kembali ke meja, aku harus menahan diri agar tidak menjambak rambut. Ini baru hari Rabu dan aku sudah siap menyambut libur. Kuhempaskan bokong ke kursi, sibuk mengetik keluhan di ruang percakapan bersama Candra, sebelum ingat bahwa pacarku itu sama sekali tidak bisa berempati terhadap urusan pekerjaan. Bagi Candra, bekerja itu lakukan jika suka, tinggalkan bila tidak. Dia tidak paham untuk masuk ke program management trainee bank ini aku harus berusaha superkeras, juga melewati masa menganggur enam bulan selepas lulus kuliah. Aku memang tidak suka sebagian pekerjaanku, tapi resign bukan pilihan. Lagi pula kontrakku masih tersisa sekitar 3 tahun di perusahaan ini.

Omong-omong soal Candra, aku akan membicarakan masalah kami nanti malam. Aku tidak mau terseret-seret lebih lama.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

I’m an author of 21 novels under the pen name Nureesh Vhalega. Besides writing, I’m a member of the bookstagram community with account @nuifebrianti.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi