Ada satu lagi satu keajaiban dunia selain Rawon Setan Surabaya dan Mie Ayam Tumini Yogyakarta. Mereka adalah balita usia tanggungan yang lagi lucu-lucunya. Tingkah polahnya mampu membuat jiwa raga terpingkal-pingkal tak karuan. Bahkan, ketika mereka berdiam diri, cukup ampuh membuat orang sekitar tersenyum simpul. Namun ternyata, keajaiban macam itu tak mampu menggugah selera humor beberapa manusia muda yang hampir dewasa.

Tawa riang batita dan lafal cadel balita sungguh bukan hal yang spesial bagi mereka. Beberapa malah tak bergeming ketika ada balita terjungkal di hadapannya. Ada beberapa kecurigaan yang tentunya muncul di kepala. Semacam tuduhan praduga tak bersalah pada orang dewasa macam itu. Nah, bagi kalian yang ternyata menjadi bagian dari orang dewasa yang tak suka anak-anak, yuk disimak praduga di bawah ini. Siapa tahu kamu pernah mengalaminya!

1. Tak suka balita membuatmu disangka memiliki masa kecil kurang bahagia karena tak faham di mana letak lucunya.

Sampai pengen masukin ke kulkas via tagdrobe.com

Orang mengira bahwa kamu semacam tak melewati masa kecil dengan bahagia. Jadi, ketika melihat balita berkeliaran, kamu tak tahu betapa bahagianya mereka. Sebabnya begini. Memori masa kecil seharusnya melekat begitu kuat dalam benak setiap insan bernyawa. Nah, sayangnya, kamu tak memiliki cukup memori untuk merespon betapa lucu dan bahagia bayi yang ada di hadapanmu.

Begitulah kira-kira dugaan orang tentang dirimu yang tak hobi melihat anak-anak. Iya kami paham, kamu memang tidak membenci mereka; hanya tak tahu harus bagaimana sebab tak ada kelucuan yang tampak di rautnya. Alhasil, dirimu cuma planga plango tatkala melihat balita melintas di hadapanmu.

2. Atau kamu dituduh sebagai manusia yang terlalu serius, tak mengerti kelucuan tingkah polah makhluk kecil dengan pipi tembem yang begitu mulus.

Advertisement

Sirius black! via tumblr.com

Ini juga kerap mendarat di benak orang dewasa yang tak suka anak-anak: dikira terlalu serius. Sebabnya begini. Tingkah polah bocah memang tak masuk akal. Nah di situlah kelucuan mereka. Di bagian kondisi yang tak masuk akal. Kita, manusia dewasa kadang tak dapat merengkuh bagian itu, sehingga tak lagi lucu. Tapi bagi mereka yang terlalu serius, bagian tak masuk akal itu dikiranya sebagai ketidaksambungan antara logika dan gerak gravitasi yang dibebani oleh gerak bebas tak beraturan menjadi kondisi chaos yang sulit dipahami oleh relativitas waktu dalam kajian nasionalisme. Bingung? Sama. Nah, begitu kira-kira.

Jadilah, mereka yang tak suka bayi ini dianggap terlalu serius oleh para pecinta bayi. Sebab, tak berniat tertawa atau bahkan tertarik pada tingkahnya yang tak masuk akal. Padahal, itulah yang membuat bayi begitu spesial.

3. Lebih parah, banyak orang bilang hatimu dingin dan membeku sehingga tak bergeming saat melihat balita yang super lucu.

Ku tak mengerti via tumblr.com

Kalau enggak dikatain serius, maka dirimu akan dikira memiliki hati beku sedingin mantanmu yang enggak pengen balikan. Bayi bulat yang terjungkal; batita yang ngelantur; atau balita yang mringis karena makan lemon bukanlah sesuatu yang patut ditertawakan. Sebabnya, hati yang beku sudah tak mampu lagi merespon hangatnya dunia.

Orang-orang akan mengira bahwa kamu adalah manusia pendiam yang hemat tenaga untuk sekadar tersenyum. Sebabnya begini, kamu bahkan diam saja ketika ada seonggok balita tembem yang lucunya bukan main terjebak dalam sebuah ember yang berguling dua kali di tengah taman namun si bayi hanya terkekeh. Namun, kamu tetap diam.

4. Orang juga sering menebak bahwa kamu tak ingin punya anak. Sebab kamu benci mereka yang hobinya teriak-teriak.

Liat kau!! via www.debrapasquella.com

Nah kalau ini yang paling sering terdengar. Tak suka bayi akan membuat manusia dewasa dituduh sebagai makhluk berakal yang tak ingin memiliki momongan. Sebabnya begini. Menurut orang-orang dan lembaga survey yang dirahasikan keberadaannya menemukan bahwa orang dewasa memilih untuk tidak suka anak-anak demi latihan sejak dini. Latihan agar terbiasa untuk tak tertarik dengan anak-anak. Ini membantu mereka untuk menebalkan semangat anti-reproduksi demi kehidupan pribadi yang bebas dari tangis lapar dini hari. Itulah sebabnya orang mengira bahwa kamu tak ingin punya anak ketika tertangkap basah menjauh dari kelucuan balita.

5. “Kamu trauma ya sama anak-anak.” Ini juga lumayan sering kau terima dari manusia dewasa pecinta balita.

Selain itu, ada juga penuduh yang hobinya ngarang cerita :

“Kamu tuh enggak suka anak-anak pasti pernah trauma ya.”

“Oh ya?

“Aku tahu, pasti waktu itu kamu sedang pacaran sama mantanmu, terus ada bocah yang teriak-teriak di hadapan kalian sampai kalian dipergoki warga lalu diarak keliling lapangan. Gitu kan?”

Ya begitulah kira-kira salah satu jenis penuduh. Kamu dikira pernah memiliki pengalaman buruk dengan anak-anak. Pengalaman itulah yang menimbulkan trauma hingga enggan menyentuh mereka, sepeserpun.

6. Atau begini “Ah, kamu takut dikira pedofil ‘kan?” Dituduh bahwa dirimu enggan menerima citra buruk dari orang sekitar.

Yeah, man… via www.funnyjunk.com

Penuduh lain yang lebih fanatik akan mengira bahwa kamu memiliki ketakutan dipandang sebagai pedofil. Tuduhan yang cukup fantastis. Menurut lembaga survey yang keberadaannya dirahasiakan, tuduhan ini berangkat dari fakta bahwa pedofil lekat dengan citra tak baik di kalangan anak muda di Indonesia. Bahkan, di beberapa kondisi dipandang sebagai penyakit yang harus disembuhkan. Nah, si penuduh sering berasumsi bahwa suka pada anak-anak dipandang sebagai gejala pedofil.

Untuk itu, pecinta anak-anak (mereka pedofil, Gak ya) mengira bahwa orang yang tak suka anak-anak memiliki rasa sungkan untuk dikira pedofil oleh orang lain. Dengan ini, muncul kesimpulan yang tentunya sembarangan soal pecinta anak-anak bahwa sebenarnya mereka tidak takut dikira pedofil atau memang pedofil. Sekian.

7. Selain itu mereka kerap berasumsi bahwa kamu emang gampang bosan, jadi biasa aja kalau lihat anak-anak berkeliaran.

Too much! really much! via teachertomsblog.blogspot.co.id

Nah kalau tuduhan yang satu ini ada sedikit unsur optimisme. Beberapa penuduh ingin berimajinasi bahwa orang-orang yang tak suka pada anak-anak sebenarnya sudah memiliki banyak adik di rumah. Sehingga, tiada alasan bagi mereka untuk tetap mencubit pipi balita yang dijumpainya.

Sebabnya begini, aktivitas cubit pipi telah dilakukannya semenjak dahulu dengan lima balita di teras rumahnya setiap pagi. Jadilah terselip nuansa bosan ketika melihat bocah lucu di hadapannya. Itulah kiranya latar belakang yang dikarang oleh para penuduh di waktu senggang mereka untuk mencoba mencari tahu : kenapa orang dewasa tak suka anak-anak? Jawaban atas pertanyaan itulah yang menjadi bahan tuduhan.

8. Dan ini yang paling kejam. Mereka mengira bahwa hidupmu penuh dengan penderitaan. Hingga tak mempan ketika disuguhi perilaku bocah yang lucunya keterlaluan.

“Nak, penderitaan macam apa yang sempat menggasakmu hingga kau tak tertawa ketika melihat bayi yang begini lucu?”

“Jadi begini…”

“Tak perlu cerita, biar aku saja yang mengarang”

Nah tuduhan terakhir yang dilayangkan akan menyentuh soal penderitaan. Oleh sebab habisnya bahan, jadilah para penuduh akan mengira bahwa orang dewasa yang tak suka anak-anak pernah mengalami penderitaan hidup yang luar biasa. Penderitaan itulah yang membuat mereka tak dapat tersenyum ketika melihat lucunya tingkah polah balita. Penderitaan yang sebenarnya menjadi sebab akan kebekuan hati dan keseriusan pikiran.

Nah, jika kamu suka pada anak-anak, apakah tuduhan yang pernah kau layangkan pada orang dewasa yang tak suka anak-anak? Dan jika kau tak suka pada anak-anak, tuduhan apa yang pernah kamu dapatkan? Tak perlu sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar!