Masa-masa perkuliahan menjadi salah satu momen penting bagi sebagian kita. Seorang mahasiswa pasti selalu memiliki persoalan atau permasalahan yang menjadi tanggung jawab dan tantangan tersendiri. Tantangan yang dihadapi pun beragam. Mulai dari masalah akademis, nonakademis, hingga masalah percintaan. Ada yang fokus dengan perkuliahannya, nggak sedikit juga yang lebih aktif di luar dengan mengikuti berbagai organisasi kampus.

Berbagai ideologi dan pemahaman masing-masing sering didiskusikan, baik secara langsung maupun nggak langsung. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh organisasi mahasiswa yang satu ini, yang membahas antara cinta dan perjuangan mahasiswa.

Kontroversi ini bermula saat akun BEM FIB Universitas mengomentari seorang mahasiswa yang menyatakan cinta menggunakan megaphone

katakan cinta pakai megaphone via www.facebook.com

Advertisement

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Haluoleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi sorotan publik. Pasalnya, melalui akun Facebook-nya, organisasi ini membahas tentang salah seorang mahasiswa yang menyatakan cinta pada mahasiswi lainnya menggunakan megaphone. Bagi BEM ini, penggunaan megaphone untuk katakan cinta telah melukai dan mencederai simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan.

Kami mengerti bahwa cinta itu fitrah
Memiliki kecenderungan rasa itu anugrah
Kami paham bahwa jiwa kita haruslah terisi
Melengkapi ketidaksempurnaan manusia
Kami paham bahwa semua hal perilaku kita adalah hak setiap diri kita
Semua terserah kita

Tapi jangan begitu caramu bung!
Melukai MEGAPHONE yang selama ini menjadi simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan!

Tapi jangan norak bung!
Mencederai almamater yang isi otaknya punya konsep untuk masa depan negeri ini

Tapi jangan jadi korban sinetron bung!
Merusak tataran dunia kampus
Dunia yang seharusnya menjadi hunian para akademisi
Dunia yang sepantasnya menjadi tempat para generasi kritis dan solutif
Dunia yang menjadi tempat lahir para pemimpin-pemimpin bangsa!

GENTLE itu datangi orangtuanya!
BERANI itu tinggikan maharnya!
LELAKI itu junjung tinggi kehormatannya!
MAHASISWA itu BAPER ketika lihat generasi hancur!

Mohon maaf atas perbedaan pandangan ini!
Salam Budaya!

Membawa embel-embel kalau megaphone adalah simbol perjuangan mahasiswa, nggak sedikit dari mahasiswa itu sendiri yang protes nggak terima

kontroversi antarmahasiswa via www.facebook.com

Advertisement

BEM FIB UHO berhak saja untuk menyatakan pandangannya. Bagi sebagian mahasiswa pun apa yang dikatakan oleh BEM ini adalah benar. Tapi nggak disangka, postingan tentang megaphone yang digunakan untuk katakan cinta ini justru menuai kontroversi di antara sesama mahasiswa. Mereka membenarkan bahwa jika gentle, maka sang cowok sebaiknya langsung temui orang tuanya.

Untuk masalah percintaan ini bisa diterima. Tapi yang justru nggak diterima oleh mahasiswa yang kontra adalah megaphone ini dijadikan sebagai simbol perjuangan mahasiswa dalam melawan ketidakadilan. Lalu bagaimana dengan penggunaan megaphone lain seperti untuk jualan atau kepentingan lainnya?

Nggak cuma tukang tahu bulat, Via Vallen dan Nella Kharisma pun akhirnya dibawa-bawa dalam postingan kontroversial ini

Ada yang bawa-bawa Via Vallen dan Nella Kharisma via www.facebook.com

“Perang komentar” di postingan ini pun nggak terhindarkan. Berbagai macam argumen langsung memenuhi kolom komentar. Mulai dari tukang tahu bulat yang nggak tahu apa-apa, sampai Via Vallen dan Nella Kharisma. Ya, salah seorang mahasiswa membuat poster yang berisikan pandangan yang bernada sama dengan protes penggunaan megaphone ini. Namun ia menganalogikan protes tersebut ke hal lainnya, yakni penggunaan pelantang (microphone) oleh Via Vallen dan Nella Kharisma saat menyanyi. Ia menyatakan kalau ketua BEM yang menggunakan pelantang saat melakukan orasi berarti melukai simbol perjuangan Via Vallen dan Nella Kharisma dalam meniti karier sebagai biduan kondang.

Mungkin apa yang dimaksud BEM FIB UHO bukanlah penggunaan megaphone saat katakan cinta itu sendiri, melainkan waktu dan tempat. Megaphone yang selama ini digunakan untuk orasi di dalam kampus, digunakan oleh seorang mahasiswa untuk menyatakan cinta. Mungkin inilah yang dipermasalahkan oleh BEM tersebut. Beda lagi jika katakan cinta pakai megaphone ini dilakukan di luar kampus dan di tempat umum. Bisa jadi BEM nggak akan mempermasalahkan.

Jadi itulah pentingnya menjelaskan konteks saat memberikan argumen dan pandangan. Agar yang membaca nggak salah sangka dan akhirnya berujung pada kontroversi kayak gini. Jadi, kamu tim Via Vallen atau Nella Kharisma? #Eh 😀

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya