Memaknai Film Teater-Musikal Limina | Limen: Jarak, Ketakutan, dan Setitik Asa di Masa Pandemi

Review Teater Musikal Limina | Limen

Di masa pandemi seperti ini, ruang gerak kita sangat terbatas. Jika dulu kita terbiasa mendatangi konser-konser musik, kini harus puas dengan streaming musik digital. Jika dulu kita bisa leluasa ke bioskop untuk nonton, kini harus puas menonton di rumah dengan laptop atau ponsel. Banyak kegiatan hiburan dan hobi yang harus ditunda sementara waktu. Karena itu, kehadiran Limina| Limen ini seperti angin segar. Sebuah hiburan berkualitas yang bisa kita nikmati di tengah pembatasan sosial yang sudah berlarut-larut lamanya.

Limina | Limen merupakan film teater-musikal persembahan dari IM3 Ooredoo melalui Collabonation. Sesuai namanya, Collabonation diharapkan menjadi wadah kolaborasi musisi dengan pekerja seni berbagai bidang lainnya. Sebelumnya, Collabonation telah menggelar berbagai tontonan menarik. Namun, Limina | Limen ini istimewa, karena bukan hanya menyajikan musisi berkualitas, tetapi juga menggabungkan antara musik, teater, seni tari, dan seni rupa. Terlebih, Collabonation menyajikan gambaran aktual tentang apa yang kita alami saat ini: pandemi yang mengubah banyak hal.

Ditulis dan disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin (Yudi Ahta), Limina | Limen dibintangi oleh tiga musisi muda berbakat, Kunto Aji, Nadin Amizah, dan Sal Priadi. Tayang perdana pada hari Jumat (25/06/2021) di channel YouTube IM3 Ooredoo, Limina | Limen menjadi 45 menit yang sangat worth to watch untuk menyambut akhir pekan sekaligus obat atas dahaga akan sensasi mengunjungi gedung-gedung pertunjukan yang saya rasakan.

Jalan cerita simbolis yang menggambarkan masalah dan ketakutan kita bersama, dengan cara yang estetis

Cuplikan Limina | Limen via www.hipwee.com

Film teater-musikal Limina | Limen terbagi menjadi tiga babak, yaitu: refleksi, purifikasi, dan transformasi. Acara ini dibuka dengan adegan yang sangat menjanjikan, yaitu tentang sekelompok orang yang diperangkap oleh dinding tak kasat mata. Raut keheranan, ketakutan, kecemasan, kemarahan tergambar jelas di wajah seiring upaya mendobrak batas yang gagal. Sebuah situasi yang familier, bukan? Pandemi yang menjadi dinding tak kasat mata, memerangkap, dan menjadi batas yang lebih keras kepala dibanding kita semua. Tak ada cara lain, bagaimanapun kita harus beradaptasi dengan segala batasannya.

Bagian pertama dalam Limina | Limen adalah Refleksi. Bagian ini menggambarkan kesulitan-kesulitan dan kepiluan yang terjadi masa pandemi. Mulai dari sepasang anak muda yang harus menelan rindu karena tak bisa bertemu dulu. Seperti lagu “Dari Timur” milik Sal Priadi, “Tanganku tak cukup panjang untuk mendekapmu sekarang” seperti itulah pandemi yang memaksa kita menjauh dari orang-orang tersayang. Bukan hanya rasa rindu, pandemi yang menyerang tiba-tiba dengan segala konsekuensi negatifnya menimbulkan kecemasan dalam benak. Sebab kita mungkin tak tahu bagaimana semua ini akan berakhir, sedang kehilangan dan berita buruk terus-terusan mewarnai televisi dan media sosial. Seperti sepenggal lagu “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” milik Nadin Amizah, “Bergegas terlalu cepat …”.

Cuplikan Limina | Limen via www.hipwee.com

Bagian kedua adalah purifikasi. Saya memaknainya sebagai sebuah momen pemulihan. Momen di mana kita mengikhlaskan serta menerima kenyataan, sepahit apa pun itu. Bagaimanapun juga, pandemi dan segala kehilangan itu nyata adanya. Refleksi yang kita lakukan akan membantu kita untuk menerima. Sebab menerima adalah satu langkah dari pemulihan diri. Lagu apa yang cocok untuk situasi ini selain lagu “Sulung” milik Kunto Aji?

“Cukupkanlah ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu ….”

Cuplikan Limina | Limen via www.hipwee.com

Bagian ketiga adalah transformasi. Mungkin ini adalah bagian paling hangat dalam teater-musikal Limina | Limen. Apa yang digambarkan sudah jelas, bahwa meski saat ini situasi buruk, tetap ada secercah harapan untuk segalanya membaik. Dan ketika saat itu tiba, kita telah menjadi sosok yang baru, yang telah berhasil melampaui segala kepahitan. Bagian ini digambarkan dengan adegan di mana para tokoh duduk bersama, bercerita, dan tertawa. Lagu “Selaras” dari Kunto Aji feat Nadin Amizah mampu menggambarkan harapan ini dengan sempurna.

“Kita bisa
Selama masih ada
Rumah untuk pulang
Dan memulai segalanya ….”

Cuplikan Limina | Limen via www.hipwee.com

Permainan lampu dan setting yang juara, berpadu dengan lagu-lagu yang merayap hingga ke jiwa

Cuplikan Limina | Limen via www.hipwee.com

Dari segi musikalitas tentu tak perlu diragukan. Baik Kunto Aji, Nadin Amizah, dan Sal Priadi adalah tiga musisi berbakat dengan lagu-lagu yang unik. Total ada lima lagu yang ditampilkan. Selain lagu-lagu yang telah disebutkan di atas, ada juga lagu “Selaras” dari Kunto Aji dan “Amin Paling Serius” dari Sal Priadi.

Suara penyanyi yang membius, syair-syair yang begitu representatif, dibantu dengan gambaran visual melalui setting tempat dan pencahayaan yang juara, membuat pesan dari teater-musikal ini mudah dicerna. Kehadiran penari dengan gerakan-gerakan koreogafer yang ciamik, tak hanya berfungsi sebagai pemanis, melainkan juga menjadi sebuah medium bercerita. Tak heran bila acara ini disebut dengan Collabonation, karena kolaborasi di dalamnya memang apik dan menjadi sebuah cerita yang padu.

Menurut saya, Limina | Limen tak hanya menggambarkan situasi pandemi, melainkan bisa menggambarkan bagaimana kita menghadapi sebuah masalah. Bagaimana kita berusaha melakukan refleksi ketika sebuah masalah terjadi, bagaimana kita berusaha mencari secercah jalan keluar, dan bagaimana kita menjadi pribadi yang baru dan lebih bijak setelah mampu melalui ini semua.

Jika ingin menyaksikan keindahan dari kolaborasi seni ini, kamu bisa menonton film teater-musikal Limina | Limen melalui YouTube Channel IM3 Ooredoo atau klik saja di sini. Agar tak perlu cemas kehabisan kuota saat menonton, gunakan Freedom Internet dari IM3 Ooredoo yang 100 persen kuota utama dan bisa digunakan selama 24 jam tanpa ketentuan apa pun.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi