Ternyata momen Bulan Ramadhan tak hanya dirasakan oleh mereka yang beragama Islam. Pemeluk agama lain di luar Islam juga berkesempatan merasakan nuansa Ramadhan selama sebulan penuh.

Meski bukan pemeluk agama Islam, ternyata kamu juga memiliki cara sendiri dalam menyambut bulan puasa. Kamu memang nggak berpuasa, tapi berada di lingkungan yang mayoritas puasa membuat kamu harus menyesuaikan diri. Itu semua kamu lakukan demi menghormati teman-temanmu yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Mau cari sarapan di warung atau restoran susah, jadi kamu sudah mempersiapkan roti atau masak sarapan sendiri.

Jadi sarapan sehat deh

Jadi sarapan sehat deh via blog.sendnpay.com

Advertisement

Ini terjadi terutama untuk kamu yang nge-kos. Kalau hari biasa, kamu dengan mudahnya menemukan warung yang buka di pagi hari. Bahkan, kamu punya beberapa warung yang kamu jadikan langganan untuk sarapan di pagi hari. Sayangnya, pada saat bulan puasa, semua warung langgananmu tutup. Susah sekali mencari warung yang buka terutama di pagi hari. Kamu udah paham betul dengan kondisi ini. Makanya, selama bulan puasa, kamu sudah menyiapkan roti untuk sarapan. Di bulan puasa ini, kamu juga nggak jarang memasak sarapanmu sendiri. Kapan lagi menerapkan kamu mempraktekan resep sarapan sehat kalau bukan pas bulan puasa?

Pas mau makan siang harus diam-diam enggak enak kalau ketahuan mau pergi makan.

Buru-buru habisinnya

Buru-buru habisinnya via gifemotions.tumblr.com

*jam 12*

Teman yang lagi puasa: Eh, mau ke mana?

Kamu: Ke sana dulu *nunjuk arah kantin*

Teman yang lagi puasa: Mau ngapain?

Kamu: Pokoknya ke sana aja…

Rasanya nggak enak kalau bilang mau makan siang sama mereka yang lagi puasa. Sebisa mungkin kamu menjaga agar terhindar dari pembahasan seputar makanan.

Jika berada di antara orang-orang yang lagi puasa, kamu ikut-ikutan ‘puasa’ juga. Gak ada yang nyuruh sih, tapi gak enak aja kalau mau makan-minum di depan mereka.

Bioassay meeting samba ngopi, sekarang nggak dulu deh

Biasanya meeting sambil ngopi, sekarang nggak dulu deh via www.audit.ucsb.edu

Advertisement

Di bulan puasa, aktivitas pun berjalan seperti biasa. Kamu dan teman-teman yang sedang berpuasa tetap bekerja di siang hari. Kalau kemarin-kemarin kamu begitu santai menaruh gelas berisi kopi ke meja kerjamu, saat ini kamu harus menjaganya. Kebiasaan ngopi sambil bekerja pun perlu sedikit kamu ubah. Kamu benar-benar nggak enak walau hanya sekedar minum di depan teman-teman yang berpuasa. Sebisa mungkin kamu membantu mereka agar puasa mereka berjalan dengan lancar. Caranya ya dengan ikutan ‘berpuasa’ walaupun hanya saat berada di sekitar mereka yang puasa.

Kamu kagum sama yang puasa, bisa betah seharian penuh nggak makan nggak minum tetep kerja. Sebulan penuh lagi.

Mereka hebat ya bisa kuat puasanya

Mereka hebat ya bisa kuat puasanya via www.pinterest.com

Dalam benakmu, ada perasaan kagum kepada teman-teman yang sedang berpuasa. Dalam satu bulan penuh, mereka tahan nggak makan, nggak minum, menjaga hati dan pikiran. Meski demikian, mereka tetap bekerja seperti biasa. Tak jarang, kamu melihat temanmu yang puasa bekerja lebih giat dari pada hari sebelumnya agar bisa pulang ke kampung halamannya leih dulu dan lebih lama. Kamu paham betul kerinduan mereka untuk merayakan Ramadhan bersama keluarga tercintanya.

Kamu: Lho kok masih di kantor?

Temanmu: Iya nih habis tarawih balik lagi. Mau selesai minggu ini, biar minggu depan sudah bisa mudik. Pengen puasa di kampung. Hehehe…

Selama puasa jadi nggak mau males-malesan, malu dong sama yang puasa aja tetep semangat.

Harus lebih semangat kerjanya!

Harus lebih semangat kerjanya! via getlevelten.com

Melihat teman-temanmu yang sedang puasa aja rajin banget, kamu jadi tambah semangat bekerja. Malu dong sama mereka yang puasa tapi tetap semangat bekerja. Kamu punya keinginan keras untuk meringankan pekerjaan teman-temanmu yang sedang berpuasa. Dengan begitu, mereka bisa konsen beribadah saat bulan puasa. Mereka juga nampaknya begitu senang jika bisa pulang kerja lebih awal, sehingga bisa berbuka puasa di rumah bersama keluarga. Makanya, kamu begitu ingin membantu meringankan beban pekerjaan mereka.

Pernah sesekali nyoba-nyoba puasa, tapi nggak kuat. Lemes banget! *lambaikan tangan ke kamera*

Duh, jadi lemes banget

Duh, jadi lemes banget via giphy.com

Penasaran seperti apa sih rasanya puasa seperti yang dikerjakan teman-temanmu, kamu pun mencoba berpuasa. Persis seperti yang dilakukan teman-temanmu, kamu pun sahur pukul tiga pagi yang kemudian kamu lanjutkan dengan tidur lagi. Paginya kamu bangun dan mulanya tampak biasa saja. Kegiatanmu berjalan seperti selayaknya sampai jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Ada yang tak beres dengan tubuhmu. Kamu merasa perutmu sering berbunyi dan entah kenapa badanmu begitu lemas. Yang ingin kamu lakukannya hanyalah tidur dan bermalasa-malasan. Tapi, kata temanmu yang berpuasa, orang puasa itu dilarang bermalas-malasan. Huft! Tapi, nggak kuat!

Ternyata puasa itu cukup berat ya?

Meski nggak turut merayakan, kamu juga punya ritual sendiri dalam menyambut bulan puasa.

Terimakasih telah turut menjaga kami beribadah

Terimakasih telah turut menjaga kami beribadah via regional.kompas.com

Kamu memang tidak menyambut kehadiran Bulan Ramadhan seperti kebanyakan umat islam pada umumnya. Namun, suasana Bulan Ramadhan sangat jelas kamu rasakan. Bukan karena banyak hiasan bernuansa timur tengah di pusat pertokoan atau petasan di pagi-pagi buta. Bukan juga karena puasa atau tidak, kantormu selalu menyediakan makanan buka puasa gratis.

Secara tak langsung, kamu punya cara tersendiri untuk menyambut Bulan Ramadhan. ‘Ritual-ritual’ seperti di atas kamu lakukan demi menghormati teman-temanmu yang sedang berpuasa.

Terima kasih, teman. Karena telah turut menjaga ibadah kami!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya